Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
14. Kostan Arsyil


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Najwa Nabila binti Ubaidillah dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


"Bagaimana, sah?"


"Sah!"


Arsyil menyalami mertuanya yang tadi menikahkannya. Sedangkan Najwa kini keluar dari persembunyiannya, dia duduk di samping Arsyil dan menyalami suaminya itu. Terbersit dalam benaknya doa yang terbaik untuk pernikahannya kali ini.


Setelah saling menyalami, Najwa juga menyalami ayah mertuanya pak Marwan. Ayah Arsyil itu menatap kagum dengan menantunya, ternyata pikirannya selama ini benar. Jika manta Azam adalah perempuan sholeha dan santun, tapi dia masih tidak mengerti dengan Azam. Kenapa menceraikannya?


"Nah sekarang kalian sudah sah jadi suami istri. Lakukan kewajiban kalian masing-masing ya, dan ingat ada yang harus kalian penuhi selanjutnya." kata abah Najwa itu.


"Iya bah." jawab Arsyil dan Najwa berbarengan.


Keduanya saling menatap lalu tersenyum malu, pemandangan itu membuat Azam cemburu. Tapi dia tidak bisa melakukan apa pun, selain menerima dan menenangkan hatinya kalau pernikahan itu hanya sementara saja.


Tiga bulan waktu yang Azam berikan pada Arsyil lalu segera menceraikan Najwa, setelah cerai menunggu masa iddah tiga bupan sepuluh hari. Dia akan menceraikan calon istrinya dan langsung menikahi Najwa, begitu pikiran Azam dan rencananya.


"Selamat sayang, kamu sudah bersuami lagi. Jangan kecewakan suamimu nanti ya, biar bagaimana pun nak Arsyi itu suamimu." kata umi Dila.


"Iya mi, aku akan ingat selalu dan memohon ampun sama Allah jika terjadi sesuatu padaku. Karena pernikahan ini sebenarnya salah, tapi mau bagaimana lagi." kata Najwa.


"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Kamu nikmati jadi istri baru nak Arsyil, umi lihat sih orangnya sholeh dan bertanggung jawab. Tidak kalah dengan nak Azam dan juga ada nilai plusnya lho." kata umi Dila tersenyum simpul.


"Nilai plus apa umi? Jangan bikin penasaran." kata Najwa.


"Hahah, nilai plusnya dia juga ganteng dam manis kalau di lihat lama-lama." kata umi Dila lgi.


"Astaghfirullah umi. Kenapa umi memperhatikan bang arsyil lama-lama, dosa lho mi. Abah kalau tahu umi lihat bang Arsyil lama-lama pasti cemburu." kata Najwa mencandai uminya.


"Hahah, umi bercanda Najwa. Umi hanya memberi penilaian saja, kamu juga bisa menilai suamimu nanti jika sudah tinggal bersama." kata uminya.


"Iya ma, emm apakah mas Azam sama bang Arsyil itu menurut umi,l bagaimana?" tanya Najwa.


"Kamu nilai sendiri nanti Najwa, umi tidak akan mempengaruhimu. Karena ini kamu yang menjalaninya, jadi nanti kamu yang berpikir. Kelak kalau kamu bingung, boleh minta pendapat umi." kata umi Dila.


Najwa diam, lalu dia mengangguk. Dia tahu itu karena kini dia sudah jadi istri Arsyil, dan dalam pernikahan itu akan dia nilai sendiri bagaimana Arsyil itu. Karena dia juga berhak menilainya.


Sementara para lelaki mengobrol di depan rumah, Najwa masih belum bisa mengobrol lebih leluasa dengan suaminya. Sesekali dia melirik pada Asryil yang sedang asyik bercanda dengan yang lainnya, tapi kemudian mata Najwa beralih pada Azam yang tampak murung.

__ADS_1


Meski mereka mengobrol santai, Azam terlihat gelisah dan murung. Najwa tahu Azam tidak ikhlas dia menikah dengan Arsyil, tapi itu yang harus di jalani mereka. Harus menikah dengan laki-laki lain sebelum mereka bersatu lagi.


"Kamu tidak makan dulu Najwa?" tanya uminya.


"Ngga mi, nanti saja." jawab Najwa.


"Menunggu suamimu ikut makan?" tanya Najwa.


"Eh, ngga juga sih mi." jawab Najwa gugup.


Entah kenapa dia gugup, apakah karena tadi dia sempat menatap Arsyil dan laki-laki itu pun sama menatapnya juga beberapa menit. Tapi kemudian Najwa menunduk karena malu.


_


Pernikahan itu di gelar di rumah adiknya abah Najwa. Dia sudah memberitahu kalau Najwa akan menikah di rumahnya, semua setuju karena abah sudah memberikan alasannya.


Jadi sekarang, Arsyil membawa istrinya Najwa ke kostnya. Kost kecil yang memang khusus untuk laki-laki, Arsyil memang pertama membawa Najwa ke kostnya dulu. Dia nanti akan mencari kontrakan untuk tinggal bersama meski hanya sebentar.


"Emm, kamu ngga apa-apa kan tinggal di kostku yang kecil ini dek?" tanya Arsyil pada Najwa.


"Ngga apa-apa bang, tapi hanya sementara kan? Soalnya kost ini khusus untuk laki-laki ya, aku ngga enak harus tinggal di kost ini lama-lama." kata Najwa.


"Iya. Abang belum sempat cari kontrakan, karena kamarin itu sibuk mengurus semuanya. Dan tadi pagi baru menikah, jadi belum sempat cari kontrakan." kata Arsyil.


"Emm, apa kita perlu melakukan perjanjian dan perkenalan dek?" tanya Arsyil.


"Perjanjian apa bang?" tanya Najwa.


"Kamu sudah tahu kalau kita menikah hanya kontrak kan, apa perlu ada perjanjian lagi denganmu?" tanya Arsyil.


"Ngga usah bang, cukup perjanjian dengan mas Azam aja." kata Najwa.


Arsyil tersenyum, dia lalu membawa tas berisi baju-baju Najwa ke dalam kamarnya yang sempit. Dia melihat kamarnya hanya cukup untuk satu kasur berukuran dua meter kali satu meter enam puluh centi meter.


Rasanya dia malu melihat kamarnya yang kecil dan hanya lemari biasa tempat bajunya. Dia berpikir besok akan membeli kasur baru dan lemari baru untuk Najwa. Najwa berdiri di belakang Arsyil dia melihat kamar suaminya yang sederhana, memandang sekeliling kamar ciri khas laki-laki.


Arsyil menoleh, dia tersenyum kaku.


"Besok aku cari kontrakan dan juga beli kasur baru serta lemari baru buat kamu." kata Arsyil.

__ADS_1


"Kenapa harus beli kasur baru dan lemari baru bang?" tanya Najwa.


"Ya, karena kasurnya kecil dan lemarinya juga ngga bagus. Kamu pasti akan menyimpan baju-bajumu di tempat yang bersih." jawab Arsyil.


"Memangnya lemari abang kotor?"


"Ya ngga sih, tapi lapisan dalam lemarinya cuma koran saja." kata Arsyil tertawa kecil.


Najwa tersenyum, dia mengambil tas dari tangan Arsyil dan melangkah menuju lemari kecil milik Arsyil. Dia membukanya, dan dia tertegun. Hanya beberapa tumpuk saja bajunya, dan masih ada banyak tempat di sana.


Arsyil menunduk malu melihat Najwa mengetahui barang pribadinya di lemari itu.


"Baju bang Arsyil dikit ya?"


"Iya, abang ngga sempat beli baju banyak. Ribet harus milih baju-baju di toko." kata Arsyil.


"Ngga apa-apa, di sini banyak tempat buat baju-bajuku bang." kata Najwa.


Dia membuka tas besar berisi baju-bajunya, dia sengaja tidak membawa baju lebih banyak. Karena berpikir akan berat saja, dan lagi entah sampai kapan dia akan tinggal dengan Arsyil. Dalam perjanjian sih hanya tiga bulan, makanya dia tidak membawa banyak baju.


"Dua hari lagi Azam akan menikah dek." kata Arsyil.


Najwa menghentikan merapikan baju di lemari Arsyil. Dia menoleh pada Arsyil dan kembali merapikan bajunya.


"Kata abah kita perlu hadir juga di pernikahan Azam itu." kata Arsyil.


"Iya bang."


"Apa kamu tidak keberatan jika datang kesana cuma pakai motor saja?"


"Memang kenapa bang?"


"Ya, barangkali kamu malu. Rumah Azam kan besar dan mobilnya mewah."


"Aku tahu bang." jawab Najwa datar.


Arsyil diam, dia tahu Najwa merasa sedih atau kecewa. Tapi ini hanya sementara saja, dia akan membantu Azam menyelesaikan perjanjiannya. Karena sepertinya Najwa juga merasa sedih mendengar Azam akan menikah lagi.


_

__ADS_1


_


******************


__ADS_2