
"Assalamu alaikum."
Suara salam dari luar, Ridho dan Shihab saling pandang. Sedangkan Mala justru mendekat pada sumber suara, dia menyalami suaminya dan tersenyum padanya. Sangat hangat kelihatan keduanya, mengobrol sedikit dan melangkah mendekat pada iparnya.
Ridho merasa tidak enak dengan Shihab melihat pemandangan yang membuat hati Shihab kecewa dan sakit hati. Dia pun menunduk dan sedikit batuk, menoleh ke belakang.
Ridho menepuk pundak Shihab dan tersenyum padanya. Lalu mengajak masuk ke dalam untuk sholat ashar yang belum di tunaikan.
"Kita sholat ashar dulu, Shihab. Biar tenang pikiranmu, aku merasa bersalah kalau begini." kata Ridho.
Shihab hanya tersenyum, dia pun mengangguk untuk sholat ashar dengan Ridho.
Sedangkan Mala dan Azam sangat senang bisa datang meski hanya selisih beberapa menit mereka datangnya.
"Katanya jam setengah enam mas, sampai di rumah bang Ridho." kata Mala.
"Mandadak aku ingin cepat pulang dan ketemu Ameer." kata Azam.
"Hanya ketemu Ameer saja ya?" tanya Mala.
"Kamu juga sayang." kata Azam.
Mala tersenyum malu, dia pun mengajak suaminya untuk membersihkan diri dulu dan berbincang sebentar dengan teman abangnya itu.
"Oh ya mas, tadi ada temannya bang Ridho kesini. Dia datang dari Yordania, lagi cuti katanya." kata Mala.
"Lalu, aku harus kenalan sama dia?" tanya Azam.
"Ya, itu sih terserah kamu saja mas. Dia juga kenal aku kok, dulu dia sering kesini sewaktu masih jadi anak santri dengan bang Ridho. Jadi aku kenal, akrab juga sih." jawab Mala.
Tentu saja Azam jadi penasaran. Apakah laki-laki itu pernah suka sama istrinya?
Oh, Azam cemburu?
Azam diam, dia mengambil Ameer dari tangan Mala. Dia membawanya ke ruang tamu untuk bermain, sedangkan Mala membantu kakak iparnya di dapur.
_
Acara makan malam pun kini sedang berlanjut, Azam, Ridho dan Shihab sedang duduk bersama di depan meja. Selvi dan Mala juga ada di antara mereka, tapi sesekali Mala menengok ke arah kamarnya.
Anaknya sedang tidur, biasanya menjelang isya akan bangun lagi setelah tadi tidur di pangkuan Azam. Bayi laki-laki itu pola tidurnya masih belum teratur, terkadang tidur jika sedang dalam pangkuan tetapi setengah jam kemudian bangun lagi.
Mereka mengobrol santai di meja makan sambil makan, sesekali Shihab melirik ke arah Mala. Terkadang mereka bercanda seperti biasa ketika Shihab sering datang ke rumah Ridho.
"Jadi mas Shihab kerja di kedutaan ya? Senangnya lulus kuliah langsung kerja di sana." kata Mala kagum dengan Shihab.
"Ya, senang sekali. Waktu itu ada lowongan jadi aku langsung melamar, eh langsung di terima. Ya meski awalnya kerja di bagian administrasi dulu sih." jawab Shihab dengan senyum mengembang.
"Kerja di kedutaan enak ngga mas?" tanya Mala lagi.
__ADS_1
"Namanya kerja ada enak ada ngganya, tapi kita bisa mengenal banyak orang dari berbagai negara juga. Kadang ada juga dari negara Arab datang ke sana, dan kita yang mengawal dan mendampingi. Tapi sebagian tugasku sih membantu mahasiswa, mempermudah pengurusan visa atau masalah di mana dia kuliah aja." kata Shihab.
"Ooh, begitu." ucap Mala.
Obrolan terus berlanjut, Azam memperhatikan istrinya memang begitu akrab dengan Shihab. Dia mendengus kasar, kenapa istrinya begitu santai mengobrol dengan teman Ridho itu.
Ridho melihat Azam kesal karena Mala akrab sekali dengan Shihab. Dia tersenyum, jika tidak ada Shihab mungkin tidak ada Azam yang cemburu. Meski itu tidak baik, tetapi Ridho membiarkan adiknya mengobrol terus dengan temannya.
"Zam, kamu sudah selesai makan?" tanya Ridho.
Mala menoleh ke arah suaminya, dia melihat piring Azam masih ada sisa banyak. Tapi laki-laki itu hanya diam saja tidak meneruskan makannya.
"Kamu sudah kenyang mas?" tanya Mala pada suaminya.
"Aku kenyang, sejak tadi mendengar kalian mengobrol." ucap Azam.
Mala diam, dia melihat wajah datar Azam. Dia merasa tidak enak pada suaminya, dia lupa karena asyik mnegobrol dengan Shihab.
"Mala, itu anakmu menangis." kata Selvi.
Mala buru-buru bangkit dari duduknya, dia segera menuju kamar yang biasa dia tempati jika berada di rumah Ridho. Benar saja, suara tangis Ameer itu membuat Mala segera menghampiri dan menggendongnya.
"Cup cup cup sayang, mama datang ini." kata Mala menenangkan anaknya.
Dia membawa keluar bayi itu dan kembali duduk di meja makan. Semua mata memandang ke arah Ameer yang masih menangis, Azam mengambil alih anaknya dan menenangkannya.
"Kenapa dia menangis?" tanya Ridho.
Selvi memang banyak tahu tentang anak kecil dan bayi. Karena dia juga pernah kuliah di psikologi anak, meski tidak tamat karena biaya. Ketika menikah dengan Ridho ingin di lanjutkan, tapi dia malas untuk melanjutkannya.
Azam membawa anaknya jalan-jalan, di susul oleh Mala. Shihab dan ketiga orang di meja makan itu hanya menatap kedua pasangan suami istri yang sibuk menenangkan anaknya.
"Dho, aku pulang ya. Ngga enak sebenarnya habis makan langsung pulang, takut kemalaman di jalan." kata Shihab.
"Oh, katanya tadi mau main gaple di rumahku?"
"Hahah, setelah di pikir-pikir sih ngga enak juga. Ada anak kecil, takut ganggu." kata Shihab.
"Mereka juga nanti pulang, kenapa kamu buru-buru banget sih." kata Ridho.
"Ngga apa-apa, lagi pula aku harus menyiapkan juga untuk ketemu calon jodoh. Heheh." kata Shihab.
Ridho pun ikut tertawa, dia pun tidak bisa mencegah sahabatnya itu untuk pulang. Mala melihat Shihab berjalan keluar rumah dengan abangnya. Dia pun mendekati keduanya.
"Mas Shihab mau pulang?" tanya Mala.
"Iya Mala, sudah lama aku di sini." jawab Shihab.
"Waah, tapi aku baru ketemu sama mas Shihab. Kenapa buru-buru pulangnya." kata Mala.
__ADS_1
"Mala, tuh suamimu perlu bantuanmu." kata Ridho.
Dia tidak mau Mala jadi ada masalah dengan suaminya gara-gara masih saja mengobrol dengan Shihab. Mala pun tersenyum, dia pergi menghampiri suaminya yang masih menggendong Ameer.
Dia lupa dengan Azam tadi, melihat wajah Azam yang datar saja membuat Mala merasa bersalah.
"Sini mas Ameernya, mungkin dia mau asi." kata Mala.
"Kamu senang ya ketemu sama teman abangmu?" tanya Azam.
"Maklum saja mas, kan lama ngga pernah ketemu." jawab Mala.
"Kamu senang ketemu dia?" tanya Azam lagi.
Mala menatap suaminya, tampak kesal di raut wajahnya. Dia pun menunduk karena merasa bersalah.
"Maaf mas." jawab Mala masih menunduk.
"Kamu minta maaf kenapa? Apa kamu suka sama dia?"
"Eh, kok mas Azam menyangka begitu sama aku?" tanya Mala.
"Sudahlah, cepat Ameer kamu beri asi. Setelahnya kita langsung pulang." ucap Azam.
Dia bengkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Mala yang masih bingung dengan suaminya. Mala pun memberi asi pada Ameer dengan pikiran bingung kenapa suaminya itu marah.
Selvi menghampiri adik iparnya itu, dia duduk di sampingnya. Melihat kemana Azam pergi, dan rupanya keluar. Mungkin duduk di teras rumah.
"Suamimu kenapa, Mala?" tanya Selvi.
"Ngga tahu kak, tadi aku kan niatnya mau pamit sama mas Shihab. Tapi bang Ridho melarang, jadi aku ambil Ameer dari mas Azam. Tapi kelihatannya mas Azam kesal." kata Mala.
"Kesal?"
"Iya, tadi tanya aku senang ketemu sama mas Shihab. Kan kita dulunya akrab, kak. Menurutku itu wajar kan kak, menyapa mas Shihab." kata Mala.
Selvi tersenyum kecil, dia tahu mungkin Azam cemburu pada Shihab.
"Mungkin suamimu tidak suka kamu dekat dengan mas Shihab." kata Selvi.
"Ngga suka bagaimana mbak?"
"Sudah, jangan di pikirkan. Nanti, sampai rumah kamu tenangkan dia ya. Jangan sampai marahnya berlarut-larut karena cemburu sama teman bang Ridho." kata Selvi.
Dia bangkit dari duduknya, rasanya lelah sekali hari ini memasak banyak untuk menjamu tamu. Sedangkan Mala masih diam saja, bingung dengan ucapan kakak iparnya itu.
"Cemburu?"
_
__ADS_1
_
************