Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
07. Arsyil Arkana Daud


__ADS_3

Arsyil Arkana Daud, laki-laki muda yang berpenampilan biasa saja. Tapi dia termasuk laki-laki yang sholeh, dia bekerja di katornya sendiri. Kantor sebuah percetakan buku dan undangan.


Penampilannya sederhana, tapi dia sangat tegas dalam bersikap. Dia adalah teman Azam semasa kuliah dulu, dan masih berhubungan dengannya. Percetakannya hanya mempunyai lima karyawan di setiap masing-masing bagian.


Cara kepemimpinannya tidak kaku, tapi selalu menegaskan pada setiap karyawan untuk segera menjalankan pekerjaan.


Siang ini, Arsyil ada di ruang kantornya. Dia sedang mengecek bagian penerimaan pembuatan cetak buku dari seorang penulis terkenal. Dia sudah melakukan kesepakatan dengan harga yang sudah di tentukan bersama.


Tok tok tok.


Pintu ruang kantor Arsyil di ketuk dari luar.


"Ya, masuk." kata Arsyil.


Pintu terbuka, nampak gadis berjilbab panjang tersenyum tipis dan memungkuk pada Arsyil.


"Ada apa, Nadia?" tanya Arsyil pada stafnya itu.


"Ada tamu pak." jawab Nadia.


"Tamu siapa?" tanya Arsyil lagi.


"Pak Azam." jawab Nadia.


"Waah, suruh masuk saja Nadia." kata Arsyil.


"Baik pak."


Nadia pun pergi dari hadapan Arsyil, dia lalu memanggil Azam untuk masuk ke dalam ruangan Arsyil.


"Assalamu alaikum." Azam memberi salam.


"Wa alaikum salam." jawab Arsyil.


Arsyil tampak senang Azam kembali mengunjunginya, dia berdiri dan menjabat tangan Azam. Senyumnya mengembang lalu menyuruh Azam duduk di sofa.


"Apa kabarnya, bro?" sapa Azam.


"Alhamdulillah baik. Aku kesini mau ada perlu sama kamu, dan ini sangat penting." kata Azam.


"Penting? Membicarakan apa?" tanya Arsyil.


"Emm, kita bicarakan dengan serius tapi santai ya. Karena ini menyangkut masalah masa depan hidupku." kata Azam dengan senyum ceria.


"Waah, apa kamu akan menikah lagi?" tanya Arsyil.

__ADS_1


"Ya, dengan mantan istriku dulu." jawab Azam.


"Lho, bukannya dulu kamu pernah cerita kalau mantan istrimu itu sudah di talak tiga?" tanya Arsyil heran.


"Iya, makanya ini mau membicarakannya denganmu. Aku juga ingin minta bantuanmu, Syil." kata Azam.


"Bantuan apa?" tanya Arsyil.


Azam pun menceritakan awal mula kenapa dia ingin menikahi Najwa lagi. Sebenarnya Arsyil belum pernah tahu istri Azam itu, cuma dari cerita-ceritanya memang Azam menikah dengan Najwa dan sudah lima tahun menikah belum di karunia anak.


Dari sana Azam cerita dan sampai pada keinginannya untuk menikah lagi dengan Najwa, Arsyil paham mengenai masalah itu. Dia bingung apa yang di minta Azam padanya.


"Lalu, apa yang kamu mau?" tanya Arsyil.


"Aku minta bantuan sama kamu." kata Azam lagi.


"Bantuan apa?" tanya Arsyil.


"Tolong kamu menikah dengan Najwa." kata Azam.


"Apa?!"


"Kamu nikahi Najwa dan setelah satu bulan atau dua bulan ceraikan dia. Aku ingin menikahi Najwa, Syil." kata Azam.


"Tolong aku Syil, aku benar-benar masih mencintai Najwa. Aku ingin kembali padanya, dan itu jalan satu-satunya Syil." kata Azam lagi.


Arsyil diam saja, dia melihat Azam seperti mempermainkan sebuah perasaan. Meski itu memang di perbolehkan dalam agama, tapi bagaimana dengan perasaan Najwa sendiri, dengan dirinya. Yang belum pernah menikah sama sekali.


"Syil, aku janji akan memberikan saham sepuluh persen sama kamu di perushaaanku. Tapi kamu bantu aku untuk menikahi Najwa." kata Azam lagi.


"Apa Najwa tahu? Dan keluarganya? Kedua orang tuanya bagaimana?" tanya Arsyil lagi.


"Mereka setuju, makanya aku meminta kamu dan percaya sama kamu. Kamu bisa menolongku dan juga bisa di percaya." kata Azam lagi.


"Ini gila Zam, kamu tahu aku belum menikah. Bagaimana nanti aku jatuh cinta pada Najwa, dan dia juga jatuh cinta padaku? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arsyil menantang Azam.


Meskipun menikah dengan perjodohan, seiring waktu pasti akan timbul cinta. Itu yang Azam tidak tahu, dia hanya memikirkan dirinya sendiri yang mencintai Najwa dan ingin memilikinya lagi. Tidak mengerti bagaimana nantinya jalan cerita nasib keduanya.


"Makanya aku minta juga, kamu hanya menikahi Najwa saja. Sekali berhubungan dan sudah cukup, jangan jatuh cinta padanya. Karena cukup aku saja yang mencintai dia." kata Azam lagi.


Arsyil membola, dia membuang wajahnya ke arah lain. Permintaan Azam itu terlalu sulit untuk di penuhi, dia lalu menatap pada sahabatnya itu.


"Apa kamu yakin Najwa tidak akan jatuh cinta padaku?" tanya Arsyil.


"Aku yakin, karena dia masih mencintaiku. Kami hanya berpisah enam bulan saja, dan untuk kembali rujuk itu masih bisa karena kami masih saling mencintai." kata Azam.

__ADS_1


Arsyil kembali diam, dia menatap dalam pada Azam. Memang ada kesungguhan dari tatapan mata Azam. Dia berat sebenarnya, karena itu menyangkut urusan yang banyak. Dari keluarganya, keluarga Najwa dan juga lingkungannya bagaimana. Terlalu berat dia pikir.


"Apa kamu tidak cari orang lain saja?" tanya Arsyil.


"Aku tidak percaya dengan laki-laki lain, makanya aku meminta sama kamu karena aku percaya sama kamu Syil." kata Azam.


"Ini sangat konyol menurutku, Zam."


"Aku tahu, tapi sebuah persahabatan bisa kan untuk meminta bantuan."


"Tapi tidak dengan permintaan yang konyol seperti ini Zam. Bagaimana dengan lingkungan keluarga Najwa? Semua pasti akan menggunjingkan dia. Aku mungkin kebal dengan gunjingan orang, tapi Najwa? Apa dia siap dengan semua gosip yang tidak sedap nantinya?"


"Sebelum aku datang kesini, aku sudah membicarakannya dengan abah dan Najwa juga. Mereka setuju, awalnya ada pembicaraan minta pada guru di yayasan mereka. Tapi aku tidak mau, aku yang memilihkan untuknya, makanya aku minta sama kamu. Karena kamu bisa di percaya, Syil." kata Azam lagi.


Arsyil masih belum terima dengan sikap dan keinginan Azam. Tapi dia kini berpikir, apa memang sebaiknya dia terima saja? Karena Azam menawarkan saham sepuluh persen. Meski dia tidak terlalu menginginkannya, tapi menolong teman yang benar-benar minta pertolongan.


"Lalu, kamu akan menunggu perceraianku nanti dengan Najwa? Bagaimana cara menikahnya? Apa harus nikah siri?" tanya Arsyil.


"Ya, tentu saja. Menikah siri itu jalan satu-satunya, dan menikahnya juga tidak di rumah Najwa. Tapi di tempat lain yang orang tidak tahu siapa Najwa dan kamu Syil." kata Azam.


"Jadi seperti menikah secara kucing-kucingan?"


"Terserah istilahmu, Syil. Tapi aku sangat berharap kamu membantuku kali ini." kata Azam.


"Akan aku pikirkan. Meski ini adalah permintaan konyol menurutku." kata Arsyil lagi.


"Terima kasih kamu mau memikirkannya, tapi aku berharap kamu secepatnya memutuskan mau menolongku." kata Azam.


"Ya ampun, aku berarti tidak bisa bilang tidak mau?"


"Hahah, bisa juga begitu Syil."


"Baiklah, beri aku waktu satu minggu untuk memikirkan semua ini. Tapi jika aku menolaknya, kamu jangan memaksaku lagi Zam. Kamu cari orang lain saja, kamu bisa membayar mereka." kata Arsyil mengusulkan.


"Kalau orang lain, aku tidak yakin mereka tidak mau melepaskan Najwa. Makanya aku hanya meminta sama kamu saja, tidak mau sama orang lain." kata Azam.


Arsyil diam, dia bukannya tidak akan menjaga amanat Azam atau tidak konsisten. Tapi malasah perasaan tidak bisa di bohongi, apa lagi harus di pisahkan kembali.


Pembicaraan mereka pun berakhir, Azam pamit pulang. Sedangkan Arsyil masih memikirkan permintaan Azam itu. Dia belum pernah melihat atau bertemu dengan Najwa, sewaktu Azam menikah dengan Najwa dia tidak datang karena kondisi ibunya masuk rumah sakit.


_


_


******************

__ADS_1


__ADS_2