
Arsyil pulang dengan pikiran tak menentu, bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Najwa tentang siapa dalang di balik pembakaran percetakannya itu. Lambat laun pasti Najwa akan tahu jika yang membakar adalah Azam.
Bukan Azam, tapi sekretarisnya. Tapi itu akan jadi bumerang bagi Azam, di benci oleh Najwa dan juga kedua mertuanya. Meski Arsyil marah juga pada Azam, tapi dia tidak bisa membenci sahabatnya itu.
Entahlah, mungkin dia bisa di katakan laki-laki yang lemah karena tidak mau membenci orang yang telah melakukan kesalahan besar, yang jelas Azam nanti akan mendapatkan hukumannya sendiri. Itu pikir Arsyil, biar bagaimana pun Azam adalah sahabatnya.
Sampai di rumahnya, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Arsyil masuk dengan langkah gontai, Najwa menghampiri suaminya dengan cemas.
"Bagaimana bang? Apa kata polisi?" tanya Najwa.
"Sudah di temukan pelakunya dek." jawab Arsyil.
"Siapa bang?" tanya Najwa penasaran.
Arsyil menatap istrinya, dia menarik napas panjang. Berat jika harus mengatakan siapa pelakunya, apakah Najwa juga akan membenci Azam?
"Adek sudah makan?" tanya Arsyil mengalihkan pertanyaan Najwa.
"Adek belum makan, tapi sejak tadi adek ngemil aja. Ngga selera makan bang." kata Najwa.
"Kenapa? Kasihan lho dedek di perutnya, pasti lapar." kata Arsyil.
"Adek belum lapar, adek mau tahu siapa pelaku pembakaran itu." kata Najwa.
"Makan dulu, nanti abang ceritakan."
"Bang?"
"Abang temani adek makan, abang juga lapar. Kita makan dulu, nanti abang ceritakan semuanya." kata Arsyil dengan senyum menenangkan istrinya.
Najwa pun mengangguk, mereka pun melangkah menuju meja makan yang berada di sebelah dapur. Najwa menyiapkan nasi dan lauk pauknya, menyediakan nasi dalam piring Arsyil. Dan Najwaa pun makan dengan cepat, sedangkan Arsyil makan dengan tenang. Sambil berpikir bagaimana menyampaikan informasi tentang pelaku itu pada Najwa, agar istrinya tidak marah dan menerimanya dengan ikhlas.
Lama mereka makan dalam diam, Najwa sesekali melirik suaminya. Dia tidak sabar mendengar cerita Arsyil tentang pelaku pembakaran itu.
"Bang, cerita sama adek. Siapa pelakunya pembakaran itu?" tanya Najwa sudah tidak sabar dengan ketenangan Arsyil dalam diamnya.
Arsyil tersenyum, dia bangkit dari duduknya untuk mencuci tangannya di tempat cuci piring. Lalu duduk lagi di depan istrinya, menatapnya dengan lembut lalu tersenyum lagi.
"Abang bikin adek mati penasaran nih, cepat ceritakan siapa pelakunya." kata Najwa dengan sedikit merajuk.
"Tapi adek janji jangan marah ya, abang ngga mau menyalahkan siapa pun karena abang sudah menganggap itu musibah dan ujian buat abang. Adek mengerti?" tanya Arsyil.
"Kenapa abang bilang begitu?" tanya Najwa.
"Karena pembakaran itu bukan sepenuhnya salah pelaku, dia hanya sebagai kambing hitam sebenarnya. Tapi nantinya polisi yang akan mengusutnya, biar jadi urusan polisi saja." kata Arsyil lagi.
__ADS_1
"Adek ngga mnegerti bang, yang adek ingin tahu itu siapa pelakunya. Kenapa abang jadi merembet ke urusan polisi?"
"Karena itu urusan polisi juga, tapi juga urusan abang nantinya. Dan abang punya rencana lain kok dek." kata Arsyil lagi.
"Abang kalau di tanya selalu muter-muter, abang takut adek marah?" tanya Najwa.
"Iya."
"Adek ngga akan marah, asal abang cerita sama adek. Ngga akan marah." kata Najwa.
Arsyil diam, dia menatap istrinya lagi. Tangannya memegang pipi Najwa, mengelusnya pelan.
"Sebenarnya pelakunya laki-laki yang tidak tahu apa-apa. Dia hanya di suruh oleh seorang sekretaris dan itu atas nama bosnya. Sedangkan bosnya saja tidak tahu kalau pembakaran percetakan abang itu pelakunya adalah sekretarisnya sendiri. Karena dia sedang mencari sebuah lahan strategis untuk bisnis kerja saka dengan perusahaan asing." kata Arsyil.
"Maksud abang, siapa bosnya?" tanya Najwa.
"Azam."
"Apa?! Mas Azam?" tanya Najwa kaget.
"Tapi bukan Azam dek, awalnya abang juga kecewa sekali. Setelah di pikirkan abang kira memang Azam tidak akan tega melakukan itu pada abang. Abang sudah menganggapnya itu musibah, jadi abang pikir cukup kekeluargaan saja jika nanti harus di usut oleh polisi. Tapi itu juga tergantung Azam mau melakukan apa pada polisi, dia punya pengacara." kata Arsyil.
"Ya ampun bang, itu memang harus di penjara pelakunya. Kenapa abang masih menganggap mas Azam baik sih?"
"Karena dia pada dasarnya baik dek, makanya abang menunggu apa yang akan di lakukan oleh Azam jika dia di datangi polisi." kata Arsyil lagi.
"Assalamu alaikum."
Suara salam dari luar membuyarkan pikiran suami istri itu. Arsyil bangkit dari duduknya dia melangkah menuju pintu rumah dan membukanya.
Tampak umi Dila dan abah datang berkunjung. Setelah mereka mengetahui dari Najwa kalau percetakannya terbakar dan ada yang sengaja membakarnya. Umi Dila dan abah langsung pergi ke rumah Arsyil.
"Wa alaikum salam, abah umi." jawab Arsyil, dia menyalami mertuanya itu.
Keduanya pun masuk, umi Dila tampak penasaran ingin mendengarkan cerita Arsyil tentang kebakaran itu.
"Duduk umi, abah." kata Arsyil.
Najwa menghampiri kedua orang tuanya, dia menyalaminya dan duduk di samping uminya. Arsyil pun ikut duduk, dia heran dengan kedatangan kedua orang tua Najwa.
"Ada apa ya umi sama abah datang kemari?" tanya Arsyil.
"Umi dengar percetakanmu itu terbakar ya?" tanya umi Dila.
"Iya umi."
__ADS_1
"Siapa yang tega membakar percetakanmu, nak Arsyil?" tanya umi Dila lagi.
Arsyil diam, dia melirik pada istrinya. Sedangkan Najwa mendengus kasar, entah kenapa dia kesal pada suaminya yang menerima begitu saja tentang musibah kebakaran itu.
"Sekretarisnya mas Azam, umi." jawab Najwa.
"Apa?!"
"Iya, sekretarisnya mas Azam. Dia yang sengaja menyewa orang untuk membakar percetakan abang agar lahannya itu bisa di ambil oleh mas Azam. Entah untuk apa, tapi aku rasa mas Azam juga terlibat." kata Najwa masih kesal.
"Dek, jangan menuduh seperti itu." kata Arsyil mengingatkan istrinya.
"Tapi buat apa sekretarisnya melakukan pembakaran itu jika bosnya yang sedang butuh? Mungkin karena bisnis, jadi segala cara kotor pun di lakukan. Aku kesal sekali kenapa abang begitu menerimanya saja." kata Najwa.
"Dek."
"Najwa, diamlah. Suamimu mungkin punya pendapat lain, jangan marah begitu." kata abahnya kini ikut bicara dan menengahi anaknya.
"Tapi bah, apa yang di katakan Najwa itu benar. Mungkin juga Azam ikut andil dalam kebakaran itu." kata umi Dila.
"Azam tidak tahu tentang rencana sekretarisnya itu umi. Aku sudah ke kantornya, niatnya memastikan kalau bukan Azam sahabatku yang melakukannya. Tapi dalam kantornya justru sekretarisnya mengatakan hal seperti itu dan Azam memarahinya. Aku juga sudah bicara padanya, dan nantinya itu urusan kepolisian. Biar polisi yang mengurusnya umi." kata Arsyil menjelaskan apa yang tadi dia bicarakan dengan Najwa.
"Ya ampun, kamu itu. Kenapa hatimu begitu lapang nak, jelas-jelas itu suatu kriminal." kata umi Dila.
"Aku sudah mengikhlaskannya umi. Dari pada menyesali dan marah tidak akan pernah mengembalikan yang sudah terjadi, lebih baik aku memikirkan bagaimana nanti ke depannya. Dan aku sudah mempunyai rencana untuk pekerjaanku nanti, umi. Agar bisa terus menafkahi Najwa dan anak kami." kata Arsyil.
Umi Dila diam, dia sangat terharu dengan ucapan menantunya. Abah hanya tersenyum tipis saja, tidak salah jika Najwa jatuh cinta pada Arsyil dan mempertahankan kembali biduk rumah tangganya.
"Ya sudah, jika memang nak Arsyil menganggapnya sebuah musibah dan ujian. Doakan saja agar ujiannya segera di selesaikan dan ada gantinya yang lebih baik." kata abah dengan bijaksana.
"Bah, abah belum memenuhi janji abah lho." kata umi Dila.
"Iya umi, abah akan memenuhinya dalam waktu dekat ini." kata abah.
"Janji apa umi?" tanya Najwa.
"Hanya janji kecil saja, jangan di pikirkan." jawab abah dengan cepat, agar umi Dila tidak bicara macam-macam pada putrinya hingga memperkeruh suasana hati Najwa yang sedang kesal itu.
"Abah dan umi mau makan di sini?" tanya Arsyil.
"Boleh."
Mereka pun menuju dapur, Najwa menyiapkan kembali makanan untuk kedua orang tuanya. Mereka akan makan bersama, Arsyil pun merasa tenang dengan kedatangan mertuanya. Tapi dia akan menenangkan kembali Najwa yang masih kesal padanya karena masalah tadi.
_
__ADS_1
_
*****************