Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
08. Nasib Arsyil


__ADS_3

Sepeninggal Azam dari kantornya itu, Arsyil memikirkan apa yang di katakan Azam dan permintaannya tentang menikahi mantan istri sahabatnya itu. Dia juga belum bertemu atau melihat seperti apa Najwa tersebut.


Dia mengira Najwa adalah perempuan sholeha yang taat pada suami. Tapi, apakah memang Najwa menginginkan pernikahan itu berakhir nantinya? Dan kembali pada Azam?


Arsyil sendiri ragu Najwa akan melakukan itu, hanya saja kenapa kedua orang tua Najwa setuju jika anaknya kembali pada Azam. Bukankah di ceraikan secara sepihak oleh Azam itu meninggalkan trauma atau setidaknya dia tidak mau kembali padanya.


"Kenapa perempuan sholeha seperti Najwa harus mau menuruti permintaan Azam? Apa ada sesuatu di balik semua persetujuannya itu?" ucap Arsyil.


Matanya di pejamkan, Arsyil sangat bingung dengan permintaan Azam tersebut. Hingga dia pun jadi tidak bisa berpikir dengan tenang masalah pekerjaan yang sedang menumpuk itu.


Tok tok tok.


Suara pintu di ketuk, Arsyil mendongak dan membuka matanya. Tampak Nadia masuk dengan membawa berkas di tangannya.


"Kenapa Nadia?" tanya Arsyil.


"Ada pesanan undangan melalui email pak, itu dari jauh di luar kota. Bagaimana? Dan ada penulis yang ingin menerbitkan buku novelnya ke percetakan kita." kata Nadia.


"Terima saja, yang dari email itu kasih balasan dan beri sampel undangannya." kata Arsyil lagi.


"Terus itu yang penulis ingin menerbitkan buku masih belum deal harga perbuku yang kita tawarkan dari kita, dia mau ada diskon karena mau menerbitkan banyak buku katanya." kata Nadia.


"Berapa buku yang ingin dia cetak?" tanya Arsyil.


"Ada tiga buku katanya dan masing-masing ada seratus buku. Totalnya jadi tiga ratua buku." kata Nadia lagi.


"Kamu hitung saja dulu semuanya, kalau tiga ratus buku itu di diskon lima persen ada untung buat kita ya terima saja." kata Arsyil.


"Baik pak, penulis itu sedang menunggu jawaban dari kita."


"Ya, kamu hitung lalu berikan jawabannya. Jangan sampai kita yang rugi. Kalau dia minta diskon di atas lima persen, batalkan saja."


"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu."


"Ya."


Nadia pun berbalik dan keluar, Arsyil masih memikirkan permintaan Azam padanya. Apakah dia mau melakukan itu?

__ADS_1


Menikah hanya dalam waktu dua bulan, bisa di katakan nikah kontrak dengan mantan istri sahabatnya. Apa bisa menjamin mantan istri Azam itu mau di sentuh olehnya? Dan setelah itu, apa langsung cerai. Terlalu jahat jika di pikirkan.


"Apa aku harus meminta petunjuk pada Allah?" ucap Arsyil.


Dia memejamkan matanya, menelusuri bayangan di mana dia harus terjebak dengan permintaan sahabatnya untuk menikahi mantan istrinya. Tidak ada yang salah, tetapi bagaimana jika takdir berbicara lain?


Arsyil membuka matanya lebar, ingatannya pun mengingat tentang takdir. Ya, apakah memang ini takdirnya?


"Apa itu takdir buatku?" ucap Arsyil tiba-tiba.


Pikirannya terus melayang tentang takdir. Memang selama ini dia selalu gagal untuk menikah. Ada saja ujian yang menimpanya, mulai dari dia di jodohkan pamannya dengan anak temannya. Gagal karena sang perempuan itu ternyata kekeh tidak mau menikah dengannya.


Lalu ayahnya menyuruh berkenalan dengan anak seorang ustad yang biasa memberikan nasehat pada ayahnya, tapi nyatanya dia sudah di khitbah oleh anak seorang kyai. Dia tidak bisa bersaing dengan laki-laki sholeh yang baik agamanya. Meski dia juga sebenarnya baik agamanya juga.


"Baiklah, aku akan meminta petunjuk pada Allah. Sholat istikharah itu jalan satu-satunya agar masalah jodoh itu bisa teratasi." kata Arsyil dengan penuh keyakinan kalau itu memang jalannya menuju bertemu dengan jodohnya.


Dia akan terima apa pun nanti takdir yang akan di berikan Allah swt padanya. Meskipun jodohnya nanti hanya sebentar saja, berarti memang itulah takdirnya. Tapi jika takdir berkata lain, maka dia akan menimbangnya kembali.


_


Arsyil masuk ke dalam ruang kantornya, pagi ini dia masih bimbang dengan keputusannya menerima permintaan Azam. Meski baru satu kali dia melakukan sholat istikharah, malam hari belum dia temukan jawabannya. Dia berniat malam berikutnya akan melakukannya lagi.


Suara telepon di ponselnya berdering keras, dia mengambil ponsel di kantong celananya. Melihat siapa yang meneleponnya, Azam.


Arsyil menarik napas panjang, masih menatap ponselnya saja belum berniat mengangkatnya cepat. Tapi kemudian dia pun menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya di telinganya.


"Assalamu alaikum, Zam?"


"Wa alaikum salam, Syil. Aku mengganggumu bekerja?" tanya Azam di seberang sana.


"Tidak. Ada apa?" tanya Arsyil pura-pura tidak mengerti tentang Azam meneleponnya.


"Aku mau tanya, apa kamu sudah punya keputusan?"


"Belum, Zam. Kan aku minta waktu seminggu, ini baru dua hari." jawab Arsyil.


"Heheh, iya sih. Tapi kupikir kamu sudah memutuskan lebih cepat, Syil."

__ADS_1


"Aku pasti berikan jawaban sama kamu Zam satu minggu yang telah kuminta waktu. Jangan khawatir." kata Arsyil.


"Iya, masalahnya abahnya Najwa menanyakan orang yang mau menikah dengan Najwa Syil." kata Azam.


"Apa ingin secepat itu anaknya menikah dengan calon suami yang tidak di kenal anaknya?"


"Tidak juga, aku yang ingin cepat kamu memberi keputusan dan setelah keputusan itu di buat. Akan aku kenalkan sama Najwa dan abahnya." kata Azam lagi.


"Oh ya, berarti kamu juga harus menikah kan Zam?" tanya Arsyil.


"Iya. Aku sudah dapat perempuan yang akan aku nikahi, jangan khawatirkan aku. Yang penting kamu sudah memutuskan mau dengan permintaanku Syil." kata Azam.


Arsyil diam, dia menarik napas panjang. Ada keegoisan yang dia tangkap pada diri Azam. Tapi dia tidak mau berdebat dengan laki-laki itu. Terkadang memang Azam bersikap egois, tapi memang Azam yang selalu siap membantunya jika dia mengalami kesusahan dalam hal keuangan di percetakannya itu.


"Arsyil?"


"Oh ya, Zam. Kenapa?" tanya Arsyil lamunannya buyar.


"Aku tunggu lima hari ke depan, kamu sudah siap dengan jawabannya kan?"


"Ya, Zam. Insya Allah."


"Baiklah, terima kasih Syil. Kamu memang sahabat terbaikku, Arsyil."


Arsyil diam saja, dia hanya menanggapi dengan senyum tipis.


"Aku tutup teleponnya dulu, Syil." kata Azam.


"Iya. Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Klik!


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2