Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
26. Azam Bingung


__ADS_3

Azam langsung masuk ke dalam rumah dengan cepat, dia mencari di mana istrinya berada. Dengan perasaan cemas, dia memanggil bi Darsih dengan kencang.


"Bi Darsih! Di mana Mala?!" tanya Azam dengan berteriak.


Bi Darsih pun keluar dari kamar Azam dengan tergopoh. Mendekat pasa Azam penuh ketakutan majikannya itu akan marah.


"Mas Azam." kata bi Darsih.


"Di mana Mala?!" tanya Azam dengan nada tinggi.


"Ada di kamar mas, tadi bibi minta batuan mang Ujang untuk bawa ibu ke dalam kamar." kata bi Darsih ketakutan.


"Ck, lain kali kalau Mala memaksa mengerjakan pekerjaan rumah. Bi Darsih larang, kan sudah aku bilang jangan biarkan Mala membersihkan rumah."


"Maaf mas, saya lupa." kata bi Darsih merasa bersalah.


"Ya sudah. Cepat huhungi dokter, suruh dia datang dan periksa Mala." kata Azam.


Dia masuk ke dalam kamarnya, melihat istrinya itu masih berbaring di ranjangnya. Masih belum sadar, Azam mendekat dan duduk di sampingnya.


"Kamu kenapa Mala?" ucap Azam pelan.


Dia menarik napas panjang, bingung apa yang akan dia lakukan. Selama hidup bersama dengan Mala baru kali ini dia pingsan. Azam tidak tahu apakah Mala punya riyawat penyakit atau tidak, tapi Ghani kakaknya bilang dulu Mala tidak punya penyakit apa pun.


Tak lama dokter pun datang, di belakangnya bi Darsih. Azam menoleh ke arah dokter, dia bangkit dari duduknya dan menyuruh dokter untuk memeriksa keadaan Mala yang tiba-tiba pingsan tadi pagi.


"Dokter, periksa istri saya." kata Azam.


"Ya pak Azam, anda bisa menunggu sebentar." kata dokter duduk di samping Mala.


Dia mula mengeluarian alat pemeriksaan lalu memeriksanya. Dari mulai denyut jantung, denyut nadi dan pernapasan semuanya di periksa. Ada senyum mengembang di bibir dokter, lalu dia pun menyimpan kembali alat stetoskop dalam tasnya.


"Bagaimana dokter, keadaan istri saya?" tanya Azam.


"Sepertinya itu kabar baik pak Azam." kata dokter.


"Maksud dokter apa?" tanya Azam bingung.


"Mungkin istri anda sedang hamil muda, dan coba saja di tes dengan alat tespek." kata dokter.


"Apa?! Hamil?!" tanya Azam tak percaya.


"Iya pak Azam, selamat ya pak Azam. Akhirnya anda akan punya keturunan juga." kata dokter keluarga itu.

__ADS_1


Azam diam, dia terkejut dengan ucapan dokter keluarganya itu. Dia bingung harus bagaimana, pikirannya kacau, tapi kemudian dia pun tersenyum kaku. Bukan dari Mala yang dia inginkan, tapi dari rahim Najwa.


Ya, dia ingin dari Najwa. Perempuan yang sangat dia cintai.


"Pak Azam."


"Oh, ya dokter?"


"Anda harus menjaganya ya, dan ini resep untuk istri anda agar kandungannya baik-baik saja sampai melahirkan nanti. Dan jangan lupa pemeriksaan setiap bulannya ya." kata dokter dengan senyum mengembang memberikan kertas berisi tulisan resepnya.


Azam hanya mengangguk saja, dia menerima resep vitamin yang di berikan oleh dokter. Setelah selesai, dokter pun keluar di antar oleh bi Darsih.


Sedangkan Azam masih terpaku di tempatnya. Dia menatap Mala, tiba-tiba dia kesal dengan kehamilan Mala tersebut. Itu artinya untuk menceraikan Mala jadi lebih lama dan menunggu sampai dia melahirkan.


"Bagaimana ini, padahal satu bulan lagi aku bisa menikahi Najwa. Apa dia mau seperti itu?" ucap Azam yang semakin bingung.


Dia pun keluar dari kamarnya, niat ingin ke rumah Najwa dan menemui mantan istrinya itu jadi gagal. Apa lagi dia tidak ke kantornya, dia sudah mengirim pesan pada sekretarisnya tidak datang ke kantornya.


Azam duduk di ruang tamu, matanya terpejam. Entah apa yang akan dia lakukan, dia bingung. Menemui Najwa saat ini yang ingin dia lakukan, dia sangat rindu pada mantan istrinya itu.


"Ya Allah dek, bagaimana ini. Aku tidak bisa menceraikan istriku Mala kalau begini, dia hamil anakku." kata Azam dalam kebingungannya itu.


_


"Kenapa mas Azam pagi-pagi sekali pergi ke kantor ya?" ucap Mala.


Dia saat ini sedang duduk di kursi meja, menyiapkan sarapan sendiri untuknya. Bi Darsih mendekat, dia melihat ada wajah murung dari majikannya itu.


"Bu, kenapa tidak di makan sarapannya?" tanya bi Darsih melihat Mala mengambil makanan tapi tidak di makan.


"Oh, ini bi. Saya bingung dengan mas Azam, emm bi Darsih kan sudah lama tinggal dengan mas Azam. Apa bibi tahu sifat mas Azam itu? Maksud saya, mas Azam itu kenapa bisa seperti itu ya?" tanya Mala pada bi Darsih.


"Kurang tahu bu, tapi biasanya mas Azam kalau seperti itu ada yang di pikirkan. Mungkin ibu tanyakan langsung saja sama mas Azam, karena bibi tidak bisa menjelaskan bagaimana mas Azam itu." kata bi Darsih.


"Ooh, begitu ya. Ya sudah, nanti malam saya tanyakan langsung deh." kata Mala.


"Itu lebih baik bu, dari pada tanya ke saya. Nanti tidak sama jawaban yang di inginkan ibu tentang mas Azam." kata bi Darsih lagi.


Mala diam, dia memang harus bicara dengan Azam. Sepertinya Mala mengira itu masalah pernikahannya dan kontrak itu. Sedangkan dia sendiri sedang hamil anaknya. Bukankah dulu Azam menceraikan Najwa karena belum juga hamil?


Lalu kenapa setelah tahu Mala hamil justru Azam menghindarinya.


Malam makan dengan lahap, meski tidak enak karena pikirannya memikirkan sikap Azam selama tiga hari ini. Tapi dia harus menjaga kandungannya agar tetap baik dan sehat, begitu pikir Mala.

__ADS_1


Sedangkan di kantornya, Azam masih memikirkan bagaimana nanti jika Najwa cerai dan dia akan menikahinya. Artinya, dia harus berpoligami. Karena tidak mungkin menceraikan Mala dalam keadaan mengandung.


"Aku harus bagaimana?" gumam Azam.


Di pejamkannya matanya, pikirannya menerawang ke mantan istrinya. Dia berpikir betapa kecewanya Najwa padanya ketika tahu dia sendiri belum menceraikan istrinya. Apakah Najwa menerimanya jika dia di poligami dan menjadi istri kedua?


"Ya Allah, berikan aku solusi tentang masalahku ini." gumam Azam lagi.


Matanya masih terpejam, dia masih mencari solusi tentang masalahnya itu. Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.


Tok tok tok.


Pintu terbukaz tampak sekretaris Azam, Karina masuk dengan seorang laki-laki bule. Azam pun tersenyum senang, dia lupa kalau hari ini ada investor asing akan datang ke kantornya.


"Welcome Mr. Robby." sapa Azam menyalami tangan kliennya itu.


"Oh, thank you mr. Azam."


Karina keluar lagi, dia di beritahu oleh Azam untuk menyiapkan proposalnya dan menjelaskan padanya tentang investasinya nanti di perusahaannya tidaklah sia-sia.


Pembicaraan pun di mulai, Azam menjelaskan pada kliennya itu.


"Jadi, bagaimana dengan lahan yang akan anda berikan pada saya mr. Azam?" tanya Robby.


"Akan saya cari mr. Robby. Karena mencari lahan itu tidak mudah, harus bisa menawar dengan harga murah dan bagus untuk keuntungan bisnis kita juga kan."


"Hahah, ya benar mr. Azam. Kalau begitu saya akan beri waktu tiga bulan untuk mendapatkan lahan itu, karena bulan keempat perusahaan saya harus menyalurkan produknya."


"Ya ya mr. Robby, anda tenang saja. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."


"Saya ingin tidak jauh dari kota ini dan tempatnya strategis ya."


"Oke, anda jangan khawatir. Dan mari kita bicarakan kerja sama kita selain masalah lahan itu." kata Azam.


"Baiklah."


Mereka pun membicarakan bisnis kerja sama hingga siang hari. Baru setelah semuanya beres, mr. Robby pun kembali ke kantornya sendiri.


_


_


****************

__ADS_1


__ADS_2