
Tiga minggu lagi masa kontrak pernikahan selesai. Azam ingin mengingatkan Arsyil akan janjinya. Tapi sebelumnya dia akan bicara dulu dengan Mala. Dia sudah memikirkan bagaimana nantinya, mengkalkulasi waktu pernikahan dan juga masa iddah.
"Aku harus bicara lebih dulu dengan Mala, baru menagih janji pada Arsyil." ucap Azam.
Saat ini dia dalam perjalanan pulang, pikirannya masih terus mencari cara bagaimana bagaimana bicara dengan Mala.
Sampai di rumahnya, Azam langsung masuk ke dalam rumah. Dia tidak melihat Mala di rumahnya, dia heran kemana istrinya itu.
"Bi Darsih, kemana ibu?" tanya Azam.
"Tadi sih katanya mau pergi ke rumah kakaknya mas Azam. Apa ibu tidak memberitahu pada mas Azam?" tanya bi Darsih.
Azam mengambil ponselnya dia melihat memang tadi ada telepon masuk lalu notif pesan juga. Ternyata benar Mala pergi ke rumah kakaknya.
"Ck, kenapa dia pergi ke rumah kakaknya. Mau apa dia kesana." ucap Azam kesal.
Baru saja berucap seperti itu, sebuah mobil datang. Dia menoleh dan ternyata itu adalah istrinya menaiki taksi online. Azam pun menarik napas panjang, dia menunggu istrinya masuk.
"Assalamu alaikum." ucap Mala.
"Wa alaikum salam." jawab Azam datar.
"Eh, mas Azam sudah pulang. Maaf tadi pergi dulu ke rumah kakakku mas." kata Mala menyalami suaminya itu.
"Mau apa kamu datang kesana?" tanya Azam.
"Ada perlu mas. Oh ya mas Azam sudah makan?"
"belum. Aku ngga lapar, tolong kamu masuk ke dalam kamar. Aku ingin bicara sama kamu." kata Azam.
"Masalah apa mas?" tanya Mala terlihat khawatir.
"Masuk saja, aku ingin ganti baju dulu. Tunggu saja di kamar." kata Azam.
Mala mengangguk, baru saja dia bicarakan dengan kakaknya tentang Azam. Tapi dia berharap itu bukan pembicaraan masalah kontrak pernikahan dengannya.
Mala masuk mengikuti suaminya, dia duduk di ranjang dengan harap-harap cemas. Sedangkan Azam menuju ruang ganti baju, dia akan mandi setelah bicara dengan Mala. Begitu kira-kira.
Setelah selesai, dia pun menghampiri Mala. Menatap gadis itu lalu menarik napas panjang.
"Sudah berapa minggu kandunganmu?" tanya Azam.
"Enam minggu mas." jawab Mala.
"Kamu menjaga dia dengan baikkan?" tanya Azam lagi.
__ADS_1
"Iya mas, sejauh ini aku baik-baik saja dengan kandunganku." kata Mala menjelaskan tentang kandungannya.
"Mala, kamu masih ingat dengan tujuanku menikahimu?" tanya Azam.
"Iya mas, tapi aku sedang mengandung." kata Mala.
"Aku tahu, itu tidak bisa di pungkiri. Sudah terlanjur juga." kata Azam.
Mala diam, dia menunduk dan mengelus perutnya. Azam memperhatikan apa yang di lakukan oleh Mala.
"Tiga minggu lagi perjanjian pernikahan sudah berakhir Mala. Seharusnya kamu saat itu aku ceraikan, tapi karena kamu mengandung anakku. Aku tangguhkan perceraiannya setelah kamu melahirkan." kata Azam tanpa berpikir apa pun tentang anak yang di kandung Mala.
"Maksud mas Azam akan tetap menceraikan aku setelah melahirkan anakku?" tanya Mala.
"Ya."
"Kenapa mas? Bukankah kamu menginginkan anak? Aku dengar kamu menceraikan mbak Najwa karena belum punya anak, tapi setelah aku mengandung anakmu. Kamu justru mau menceraikan aku." kata Mala mulai menitikkan air mata.
"Mala, ingat perjanjian kita dan kakakmu juga. Kalian setuju dengan perjanjian itu dengan imbalan sebuah saham untuk kakakmu." kata Azam.
"Tapi anakku juga butuh ayahnya mas. Apa segampang itu kamu menceraikan aku dan akan kembali pada mbak Najwa? Mungkin saja mbak Najwa juga mulai menyukai suaminya." kata Mala mulai tidak terkontrol hatinya.
Perih hatinya ketika mendengar ucapan Azam itu. Ketika dia mulai mencintai suaminya itu, justru harus menghapusnya kembali. Dia berpikir dengan dirinya mengandung, pikiran Azam pun berubah. Mala terisak, Azam mendengus kesal dengan ucapan Mala itu.
Sejak melihat pernikahan Arsyil dan Najwa dia sudah khawatir kalau sahabatnya itu menyukai Najwa, mantan istrinya yang masih dia cintai. Dia terpaksa lakukan itu karena keinginannya untuk bisa kembali dengan Najwa.
"Mas Azam, tolong pertimbangkan lagi rencanamu itu. Tidakkah mas Azam kasihan nantinya dengan anak kita?" tanya Mala.
"Okez aku punya solusi untukmu." kata Azam akhirnya memberikan solusi agar Mala tetap jadi istrinya.
Mala pun terdiam, dia merasa senang. Berharap Azam mengurungkannya.
"Apa itu bang?" tanya Mala.
"Aku tetap menjadi suamimu dan ayah dari anak yang kamu kandung, tapi setelah Arsyil menceraikan Najwa. Aku akan menikahinya setelah masa iddahnya selesai, jadi kamu jangan protes apa pun lagi." kata Azam.
"Mas Azam mau berpoligami?" tanya Mala terkejut.
"Ya, dan tetap aku akan tinggal dengan Najwa nantinya." kata Azam dengan penuh percaya diri.
"Gila kamu ya mas!" ucap Mala.
"Itu caranya jika kamu mau, aku sangat mencintai Najwa. Kamu hanya istri selingan saja Mala, hanya sebatas istri selingan." kata Azam lagi.
Mala terdiam, air matanya kembali mengalir deras. Apakah sekejam itu suaminya itu?
__ADS_1
"Kamu egois mas." kata Mala.
"Aku tidak kejam, semua harus sesuai dengan rencana semula. Ada pun kamu mau hamil, berarti kamu sengaja ingin mengikatkan diri denganku." kata Azam dengan sinis.
Mala menggelengkan kepala, dia lalu menunduk masih dengan isakan tangisnya. Azam sebenarnya tidak tega, tapi itulah keputusannya. Dia akan mengejar lagi Najwa, cintanya yang selalu dia jaga selama ini.
Azam pun keluar dari kamarnya, sedangkan Mala menangis karena sikap Azam yang kekeh ingin mengejar Najwa. Mala pun bingung harus bagaimana.
"Baru juga di bicarakan dengan kakakku, kenapa mas Azam tetap kekeh untuk mengejar cinta mbak Najwa? Apa dia tidak menginginkan anaknya ini?" ucap Mala dalam kebingungannya.
Di ambilnya ponselnya lalu menghubungi kakaknya.
Tuuut.
"Assalamu alaikum, Mala."
"Wa alaikum salam kak. Hik hik hik."
"Hei, Mala. Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
"Ternyata kekhawatiranku terjadi kak, mas Azam akan tetap menceraikanku setelah lahir anakku. Hik hik hik." ucap Mala dengan isak tangisnya.
"Biar kakak bicara pada suamimu. Dia pikir mengurus perceraian itu semudah mendapatkan uang dan rekan bisnisnya. Kakak akan bicara dengannya." kata kakak Mala.
"Tidak kak, mas Azam tidak menceraikan Mala. Tapi dia mau berpoligami, berniat menikah dengan mbak Najwa kak."
Kakak Nirmala diam, dia berpikir begitu lebih baik dari pada Mala adiknya harus jadi janda setelah Azam mendapatkan Najwa. Salah dia kenapa dia mau memenuhi permintaan Azam itu.
Adiknya Mala adalah gadis sholehah dan juga tidak banyak menuntut, dia pernah senang ketika Mala menceritakan kalau Azam sangat menyukai masakannya. Tapi entah kenapa Azam kini acuh lagi dengan adiknya setelah Mala mengandung anaknya itu.
"Mala, menurut kakak sih lebih baik begitu. Dari pada kamu di ceraikan, lebih baik kamu di poligami." kata kakak Mala itu.
"Tapi di poligami itu tetap sakit kak, tidak ada kasusnya di poligami itu bahagia. Terkecuali mereka orang terpilih dan mampu berbuat adil pada istri-istrinya." kata Mala lagi.
"Kamu jangan menangis, nanti kakak cari solusinya. Kakak sedang ada tamu di kantor, kakak belum pulang malam ini."
"Iya kak, Mala tunggu solusi dari kakak."
"Ya, assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Klik!
_
__ADS_1
_
*****************