
Sepanjang jalan, Azam lebih banyak diam. Mala jadi merasa bersalah, tapi juga bingungm diamnya Azam itu karena cemburu atau kesal. Mala mengelus kepala anaknya yang tiba-tiba menggeliat. Lalu menoleh ke arah suaminya.
"Maafkan aku mas." kata Mala.
"Seharusnya kamu itu tahu diri, aku suamimu. Kenapa kamu asyik sekali mengobrol dengan laki-laki lain di meja makan." kata Azam.
Mala diam, dia tahu itu salah. Tapi rasa senangnya karena bertemu lagi dengan teman abangnya itu membuatnya lupa ada Azam di sana, apa lagi Shibab itu sangat dekat dengannya.
Bahkan sering main berdua ketika Shihab main ke rumahnya. Terkadang Mala diskusi tentang pelajaran yang sering dia tidak bisa, maka Shihab yang membantunya menyelesaikan tugasnya.
"Maafkan aku." kata Mala lagi.
"Apa kamu sengaja membuat aku cemburu? Atau memang kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Azam lagi menyudutkan istrinya.
"Bukan begitu mas, aku hanya senang saja bisa bertemu lagi dengan mas Shihab." ucap Mala masih menunduk.
"Panggilan namanya saja sudah akrab begitu, kamu tahu. Dari pandangannya sama kamu, dia itu suka sama kamu." kata Azam.
Deg!
Mala diam, dia mencerna ucapan suaminya itu. Dia pun menoleh pada Azam, dan masih dengan wajah yang sama. Kesal penuh amarah, dan tanpa menoleh sedikit pun padanya.
"Aku tidak tahu itu, dan aku hanya senang dia datang dan bisa bertemu lagi setelah tujuh tahun tidak ketemu. Itu saja, aku tidak tahu kalau tatapan mas Shihab itu seperti itu padaku." kata Mala.
"Sudahlah, aku malas membicarakan teman abangmu itu." kata Azam dengan ketus.
Dia membelokkan mobilnya dan jalan beberapa meter lagi dia berhenti dan mengklakson mobilnya. Tak lama, satpam pun membukakan pintu gerbang. Azam melajukan mobil pelan masuk halaman rumahnya.
__ADS_1
Mala turun dari mobil menggendong Ameer yang sudah tidur lagi. Azam memasukkan mobilnya dalam garasi, lalu dia keluar. Mengambil tas perlengkapan Ameer lalu di bawa ke dalam rumah.
_
Dua hari Azam marah pada Mala, perempuan itu kebungungan dengan sikap dingi suaminya. Dia harus bagaimana lagi menghadapi Azam yang sedang marah padanya.
Bi Darsih menghampiri Mala yang sedang duduk termenung di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Bu, hari ini masak apa?" tanya bi Darsih.
"Ngga tahu bi, bingung. Mas Azam juga dua hari jarang makan dan sedang mendiamkan aku." kata Mala.
"Kenapa bu? Tadi memang bibi lihat mas Azam banyak diam, main sama Ameer juga sebentar." kata bi Darsih.
"Dia lagi marah sama aku bi." ucap Mala menarik napas berat.
"Memang ibu punya salah apa sama mas Azam?" tanya bi Darsih.
Mala pun menceritakan semua kejadian di rumah Ridho, dan dia sudah beberapa kali minta maaf padanya. Tapi justru suaminya itu malah mendiamkannya, bahkan sudah beberapa hari ini.
"Begitu bi, aku jadi bingung menghadapi mas Azam yang lagi marah itu." kata Mala.
"Ooh, karena ibu mengobrol akrab dengan teman pak Ridho itu?" kata bi Darsih.
"Iya, dan aku pikir mas Azam tidak akan marah. Tapi marahnya justru lama banget, jadi bingung aku bi."
"Sebenarnya sih memang tidak baik seorang istri dekat dengan laki-laki lain dan mengobrol akrab dengannya juga. Apa lagi ada suaminya, itu tidak pantas bu. Tapi bibi jadi berpikir lain kalau mas Azam marah seperti itu, tandanya mas Azam cinta sama ibu. Mas Azam cemburu sama ibu dan teman pak Ridho itu." kata bi Darsih.
__ADS_1
"Benar, tapi kan aku sudah minta maaf sama dia bi, tapi mas Azam masih marah terus. Apa yang harus aku lakukan bi? Biar mas Azam tidak marah terus sama aku." kata Mala.
"Susah ya, bibi juga tidak tahu cara meredakan kemarahan mas Azam." kata bi Darsih.
Mala dan bi Darsih kembali diam, mereka sama-sama memikirkan bagaimana caranya agar Azam tidak marah berkepanjangan.
"Oh ya bu, mungkin ibu masak kesukaan mas Azam. Lalu bawa ke kantornya, bawa bekal makanan ke kantor mas Azam." kata bi Darsih mengusulkan.
"Waah benar, dulu mbak Najwa juga bilang. Untuk mengambil hati mas Azam itu harus memasak makanan yang di sukai mas Azam." kata Mala dengan wajah berbinar.
"Nah, kan sekarang sudah ketemu solusinya. Sekarang hari ini kita mau masak apa bu?" tanya bi Darsih.
"Di kulkas masih ada persediaan bahan makanan kan bi?" tanya Mala.
"Masih bu, ada udang, cumi, ayam, telor dan beberapa sayuran juga. Ibu mau memasak apa?" tanya bi Darsih.
"Baiklah, ayo kita ke dapur. Aku mau masak apa yang di sukai mas Azam." kata Mala.
Dia pun bangkit dari duduknya, bi Darsih pun tersenyum. Dia mengikuti Mala menuju dapur, ketika pergi ke dapur. Suara tangis kencang dari dalam kamar di bawah, Ameer menangis.
Mala pun pergi ke kamar untuk mengambil Ameer, sedangkan bi Darsih menyiapkan bahan untuk masakan yang ingin di masak Mala.
_
_
************
__ADS_1