Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
47. Ternyata Zonk


__ADS_3

Pagi hari, Najwa tampak bersemangat di pagi yang cerah ini. Setelah pekerjaan rumahnya selesai, dia berniat akan menemui mantan suaminya. Dia sengaja tidak memberitahu Arsyil akan datang menemuinya, untuk memberi kejutan sekaligus akan memberinya sebuah pilihan dirinya.


"Najwa, kamu sedang apa?" tanya umi Dila.


"Memasak umi, aku ingin membuatkan makanan untuk bang Arsyil." jawab Najwa dengan senyum sumringahnya.


"Waah, yang mau bertemu kekasih hati. Gembiranya hati, senang umi lihat wajah kamu yang ceria." kata umi Dila.


"Umi bisa saja, aku buatkan makanan barangkali abang belum makan. Kan siang aku kesana, tapi kalau siang dia masih di percetakan ya." ucap Najwa ragu.


"Lho, bagaimana sih kamu. Terus, kamu mau menunggu dia selama itu?"


"Ya sudah, nanti aku kesana jam tiga sore saja. Sekalian menunggu abang pulang." kata Najwa.


"Pasti sudah tidak sabar ya ingin ketemu Arsyil." ucap umi Dila masih meledek anaknya.


"Heheh, umi meledek terus sih. Malu tahu, mi." kata Najwa dengan pipi bersemu merah.


"Hahah, umi baru tahu pipimu memerah seperti tomat."


"Ih, umi nih." kata Najwa dengan senyum malu-malu.


"Hahah!"


Najwa terus membuat potongan-potongan sayur untuk di masak, dia melihat uminya masih senyum-senyum. Abah menghampiri kedua orang yang dia sayangi, pakaian sudah lengkap untuk pergi mengajar menatap satu persatu perempuan yang sedang bercanda itu.


"Umi, abah pergi dulu." kata abah.


"Oh ya bah, mau ke yayasan?" tanya umi Dila.


"Iya. Najwa, kyai Sholeh menanyakanmu. Kapan kamu mau masuk ke sekolah lagi?" tanya abah.


"Belum tahu bah." jawab Najwa.


"Apa kamu tidak mau berkunjung ke yayasan?" tanya abahnya.


"Insya Allah nanti bah, aku mau menyelesaikan dulu urusanku." kata Najwa.


"Tapi banyak yang menanyakanmu lho, kapan kamu mengajar lagi." ucap abah lagi.

__ADS_1


Najwa hanya diam, dia menatap abahnya lalu mengedikkan pundaknya. Abahnya menggeleng saja, di jawabi oleh istrinya.


"Dia mau ketemu mantan tercintanya, bah. Lihat saja tuh, masakannya begitu banyak." kata umi Dila.


Abah memperhatikan apa yang di ucapkan oleh istrinya. Dia pun tersenyum, lalu melangkah pergi. Di ikuti oleh istrinya, mereka menuju keluar. Umi Dila mengantar suaminya keluar, sekalian dia akan menyiram bunga di halaman rumah.


_


Najwa bersiap untuk pergi ke kontrakan Arsyil, sejak dia pulang ke rumah abahnya sudah satu bulan lebih. Berarti dia berpikir rumah kontrakan itu masih sisa satu bulan lagi, mungkin Arsyil masih tinggal di rumah kontrakan itu. Begitu pikir Najwa.


Dia sudah berdandan rapi, memakai baju yang pertama kali dia bertemu dengan Arsyil. Senyumnya mengembang ketika mengingat dia duduk di hadapan Arsyil dan berkenalan. Rasanya saat itu dia masih belum merasakan getar cinta pada laki-laki sederhana dan tampan itu.


Najwa mengambil kotak makan yang sudah dia siapkan sebelumnya, dia melangkah keluar. Umi Dila ada di ruang tengah sedang mengaji, dia menoleh ke arah Najwa.


"Kamu sudah mau jalan?" tanya umi Dila.


"Iya umi, ini sudah jam setengah empat lebih." kata Najwa.


"Sudaj sholat ashar kan?"


"Iya mi, kan tanggung kalau berangkat belum sholat ashar. Lagi pula kan di saja pasti di kunci rumahnya, aku mau menunggunya sebentar. Biasanya dia pulang jam lima lebih." kata Najwa lagi.


"Iya umi. Kalau begitu, aku pergi dulu. Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Najwa pergi meninggalkan uminya, dia membawa kotak makan berisi makanan yang di sukai Arsyil. Dia pun memesan ojek online, tak lama datang ojek yang akan membawanya ke kontrakan di mana dia pernah tinggal di sana dengan Arsyil.


Perasaannya berdebar sepanjang perjalanan, senyumnya sesekali mengembang membayangkan keterkejutan Arsyil berada di depan rumahnya.


Entah apa yang akan dia lakukan ketika bertemu Arsyil nanti. Dia sudah membayangkan akan mengatakan kalau ingin rujuk dengannya.


Perjalanan terasa lambat bagi Najwa, padahal motor melaju dengan kecepatan sedang. Mungkin karena hatinya ingin cepat sampai, hingga terasa lama sekali dan lambat laju motor itu.


"Agak cepat mas motornya." kata Najwa.


"Susah bu, agak padat jalanan. Ini juga sudah di percepat kok jalannya." kata tukang ojek online itu.


Najwa diam, dia melihat sekeliling memang sedang padat karena waktu kerja memang hampir habis dan ada juga yang sudah pulang dari kesibukan di kantornya.

__ADS_1


Satu jam kurang perjalanan menuju kontrakan Arsyil pun akhirnya sampai, memang jarak dari rumah abah Najwa ke kontrakan Arsyil tidak terlalu jauh jika di tempuh dengan mengendarai motor.


Hanya saja Najwa merasa terasa sangat lama karena hatinya ingin cepat bertemu Arsyil.


"Sampai mbak." kata tukang ojek itu.


Najwa turun dari motor, dia membayar ongkos sesuai tarif. Lalu melihat rumah yang tampak sepi itu, dia lalu melangkah menuju rumah kontrakan dan melihat sekeliling rumah.


Sangat sepi, dia menarik napas panjang menenangkan hatinya lebih dulu agar tidak berdebar lebih kencang. Dia melirik jam di tangannya sudah pukul empat tiga puluh menit, dan dia menuju kursi yang ada di teras rumah itu.


Kursi yang dulu di beli Arsyil untuk duduk mereka ketika sedang santai di rumah waktu malam hari. Dia duduk di salah satu kursinya, menatap pintu rumah yang tampak terkunci.


"Aku akan tunggu dia di sini, mungkin sebentar lagi pulang." pikir Najwa.


Dia duduk menunggu Arsyil pulang, meletakkan kotak makannya di atas meja. Lalu dia pun mengambil ponselnya, mencari nomor kontak Arsyil. Tapi dia lupa belum menyimpan nomor mantan suaminya itu.


"Yaah, ternyata tidak ada nomor abang." ucap Najwa kecewa.


Dia menarik napas panjang, sudah setengah jam dia menunggu. Masih belum ada tanda-tanda Arsyil muncul dengan motor kesayangannya. Dia masih sabar menunggu, hingga waktu terus berjalan dan hampir memasuki waktu magrib.


Arsyil tidak ada kemunculannya, Najwa gelisah. Kenapa Arsyil belum juga pulang?


"Apa abang banyak pekerjaan ya, sampai jam segini belum pulang juga." ucap Najwa dalam kegelisahannya.


Sudah pukul enam tiga puluh petang, rumah tampak sepi dan gelap. Hanya lampu depan di nyalakan untuk penerangan saja.


"Bang, kamu belum juga pulang sih?" ucap Najwa lagi lirih.


Dia berdiri, waktu sholat magrib hampir habis. Dia menatap kotak makan yang sejak tadi di meja masih rapat tutupnya. Najwa melangkah ke depan jalan, menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada kendaraan motor berjalan pelan dan menuju halaman rumahnya.


Sampai akhirnya Najwa merasa lelah sendiri, dia duduk kembali. Kunjungannya kali ini tidak mendapatkan hasil, lalu apakah dia akan pulang lagi?


"Mungkin besok kesini lagi saja, abang mungkin lagi lembur di percetakannya." ucap Najwa.


Dia mengambil kotak makannya itu, kemudian dia pun melangkah pergi. Mencari taksi lewat, karena jika malam hari dia merasa tidak nyaman jika berboncengan dengan tukang ojek online.


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2