
Abah dan umi sudah pulang ke rumahnya, Najwa masih diam saja. Arsyil tahu istrinya itu sedang marah padanya, makanya dia membiarkan istrinya mendiaminya.
Najwa menonton televisi, sedangkan Arsyil sedang sibuk mengotak atik laptopnya. Sesekali dia melirik ke arah Najwa yang masih diam saja, dia juga tetap sibuk dengan mencari situs bagaimana cara menanam sayur dan juga perawatannya.
Karena dia berencana akan menggunakan lahan kebun milik mendiang ayahnya untuk di jadikan usaha barunya menanam sayur. Dia akan beralih profesi sebagai petani dan sekarang masih mencari-cari sayuran apa yang cepat terjual dan banyak di minati oleh mansyarakat atau pun bisa dia jual ke supermarket.
Najwa melihat suaminya sibuk memantau laptopnya, agak kesal juga dia kenapa suaminya jadi sibuk sendiri. Bukannya mendekatinya dan merayunya, Najwa ingin bertahan agar tidak mendekati suaminya.
Walaupun sebenarnya dia tidak tahan harus berjauhan dan diam-diaman dengan Arsyil. Setengah jam masih tahan, sepuluh menit Najwa sudah gelisah. Sesekali melirik suaminya dan menghentakkan kakinya beberapa kali. Agar Arsyil mengerti maksudnya, tapi Arsyil belum menyadari akan kekesalan Najwa.
Setelah dia tidak tahan, di matikannya televisi dan berjalan cepat melangkah masuk ke dalam kamarnya tanpa menoleh sedikitpun pada Arsyil.
Tanpa membuang waktu, Arsyil ikut masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat istrinya berbaring dengan posisi menghadap tembok. Arsyil menutup pintunya, lalu mendekat secara perlahan menuju ranjangnya.
Duduk di sisi ranjang, Najwa tidak bergeming. Memejamkan matanya agar Arsyil tidak menatapnya lagi.
"Dek, maafin abang." kata Arsyil.
Najwa masih diam, dia masih memejamkan matanya. Tangan Arsyil memegang lengan Najwa, dia mengelusnya lalu mencium lengan itu. Tentu saja membuat Najwa merubah posisinya jadi menghadapnya, membuka matanya dan menatap suaminya itu.
"Maafin abang, dek." kata Arsyil lagi.
Najwa pun bangkit dari tidurnya, di bantu suaminya dan kini dia duduk menghadap Arsyil. Keduanya saling tatap, lama. Tapi kemudian Najwa menunduk dan menarik napas panjang.
"Adek hanya kesal saja sama abang, kenapa abang di dzolimi malah terima begitu saja." kata Najwa.
"Abang marah dek, abang sudah marah. Tapi buat apa marah, lagi pula sudah terjadi. Apa jika abang marah harus berhari-hari? Abang tidak bisa, sekarang adek acuh sama abang. Sakit hati abang, makanya abang ngga mau marah terlalu lama. Karena rasanya sakit jika di marahi lalu mendiamkannya terlalu lama itu ngga enak." kata Arsyil lagi.
"Tapi kenapa abang tadi diam aja? Adek tunggu abang dekati adek, abang malah sibuk sama laptop." kata Najwa hampir menangis.
Arsyil menarik tubuh istrinya, Najwa pun akhirnya melepaskan rasa kesalnya dengan menangis terisak dalam pelukan suaminya. Arsyil mengelus punggung Najwa dengan lembut dan pelan, menenangkan hati perempuan yang sedang bergejolak emosinya.
"Adek kesel abang terlalu baik, kenapa ngga minta ganti rugi sama mas Azam. Karena ulah sekretarisnya itu. Percetakan abang jadi terbakar, dan abang jadi tidak bisa bekerja lagi. Hik hik hik." kata Najwa menumpahkan segala unek-uneknya.
__ADS_1
"Kata siapa abang ngga kerja lagi? Abang punya rencana lain dek, kan abang sudah bilang. Dengan musibah ini, abang jadi punya rencana baru. Mana ada suamimu ini jadi menyerah begitu saja dengan keadaan, abang langsung berpikir tanpa menggantungkan ganti rugi percetakan yang sudah di bakar oleh sekretaris Azam. Abang mau usaha sendiri, di bantu doa dari adek tentunya." kata Arsyil.
Najwa melepas pelukan suaminya, dia mengusap air matanya dan menatap penasaran dengan ucapan Arsyil itu.
"Abang punya rencana apa?" tanya Najwa.
"Mengelola kebun ayah, kan itu lama ngga di kelola. Hanya menanam sayuran yang musimnya panjang di panennya, jadi kurang efektif buat jadi penghasilan cepat. Makanya abang lagi cari-cari referensi tanaman apa yang cepat tumbuh dan cepat laku di pasaran." kata Arsyil.
"Abang mau jadi petani?" tanya Najwa.
"Tepat sekali istriku sayang. Ngga apa-apa kan jadi alih profesi?" tanya Arsyil dengan senyum mengembang.
"Ya ngga apa-apa bang, asal abang sabar aja." kata Najwa.
"Dalam menghadapi hidup, abang selalu sabar. Masa menjadi petani ngga bisa sabar sih?"
"Kalau petani itu kerja pakai tenaga bang, abang harus kuat untuk mencangkul lahan kebun ayah. Kemarin adek lihat tanahnya itu padat dan harus di gemburkan dulu dengan di bajak atau di cangkul." kata Najwa.
"Ya udah terserah abang aja, adek doakan semoga semuanya berhasil." kata Najwa.
"Amiin. Terima kasih sayang." kata Arsyil senyumnya mengembang.
"Tadinya adek juga mau bicara sama abang, bagaimana kalau abang mengajar saja di yayasan. Tapi abang sudah punya rencana sendiri." kata Najwa.
"Basic abang bukan mengajar, abang ngga bisa mengajar. Lagi pula nanti para santri itu bukannya menerima pelajaran dari abang, malah terpesona sama abang." kata Arsyil.
"Ih, peercaya diri banget abang deh." kata Najwa dengan senyum mengembang.
"Lha iya, kemarin aja waktu resepsi di yayasan. Mereka pada bisik-bisik dan lihat abang terus, takutnya nanti adek cemburu abang banyak yang deketin abang." kata Arsyil lagi.
"Tahu ah, abang narsis."
"Hahah! Itu fakta lho dek."
__ADS_1
"Iya, adek percaya aja. Dari pada abang ngomong terus, tambah panas nih telinga adek." ucap Najwa jadi cemberut.
"Heheh, makanya. Abang ngga mau mengajar, di tambah abang juga ngga bisa mengajar. Takut ngga sampai ke mereka ilmunya. Abang yang rugi karena ngga bisa menyalurkan dengan benar." ucap Arsyil lagi.
Najwa diam, dia pun membenarkan. Membenarkan kalau suaminya mengajar, memang pasti banyak yang menatapnya dengan kagum. Mana ada yang fokus belajar, ketika dia mengajar dulu selalu ada saja yang menggodanya.
Apa lagi di kelas laki-laki, sudah tentu ada saja alasannya untuk bertanya. Awalnya bertanya pelajaran, tapi nantinya lari ke hal lain.
Anak muda jaman sekarang, tentu berbeda dengan yang dulu. Sangat berani, meskipun dalam pesantren. Tetapi itu lebih baik, akhlak tetap terjaga, karena mereka setiap hari selalu fi ajarkan doa-doa oleh para kyai dan ustad yang membimbing mereka dalam pesantren.
"Sudah berapa bulan perutnya dek?" tanya Arsyil memecah kesunyian di antara mereka.
"Delapan bulan bang, sekitar tiga puluh dua minggu. Kata bidan sih enam minggu lagi bayi kita bisa lahir, itu normalnya. Tapi katanya ada juga yang telat atau maju." jawab Najwa.
"Hemm, begitu ya."
"Abang ngga sabar anak kita lahir?" tanya Najwa.
"Iya, rasanya pengen gendong aja kalau udah lahir." jawa Arsyil.
"Gendong adek aja." kata Najwa menggoda suaminya.
"Berat dek, perut sudah besar."
Najwa cemberut, Arsyil tersenyum dan berbisik.
"Pengennya makan adek malam ini."
_
_
******************
__ADS_1