
Arsyil sudah siap untuk pulang ke rumah ayahnya, dia mengambil tasnya yang sudah berisi baju-bajunya yang akan dia bawa untuk tinggal beberapa minggu di sana. Meski jauh dari tempat kerjanya, tapi dia bisa berangkat lebih pagi agar tidak terjebak macet. Begitu pikir Arsyil.
Dia menatap sekeliling rumah, setiap sudut rumah itu mengandung kenangan dengan Najwa. Arsyil menarik napas panjang, sudah saatnya dia harus melupakan Najwa.
Hanya sebentar saja, dua bulan dua puluh sembilan hari kebersamaan dengan Najwa. Dan kedekatan mereka hanya dua bulan kurang saja, jadi sangat singkat bagi Arsyil tapi sangat berkesan baginya.
Lama Arsyil mengenang semua itu, tapi kemudian dia segera mengakhirinya dan tidak akan berlarut-larut dalam kesedihannya karena di tinggal oleh orang yang dia cintai. Apa lagi ayahnya juga baru beberapa hari meninggal.
Dia harus kembali ke rumah ayahnya, kerabatnya yang dari Jawa akan datang ke rumah ayahnya. Dia memberitahu keluarga ayahnya ketika pagi harinya menjelang di kuburkan jenazah pak Marwan.
Dan memang jauh perjalanan menuju kota dari Jawa. Kemungkinan hari ini akan datang, maka dari itu Arsyil segera pergi dari rumah kontrakan yang penuh kenangan itu.
Dia mengambil kunci pintu kontrakan dan segera menguncinya. Lalu memandangi sekali lagi dan segera menaiki motornya, rasanya lepas sudah semua kenangan yang pernah dia lewati dengan Najwa di rumah itu.
"Bismillah, aku ikhlas melepas istriku. Meski itu hanya sekejap saja, tapi aku berat melepas Najwa dari sisiku. Maka dari itu, aku akan melepasnya dengan ikhlas. Semoga dia bahagia dengan Azam." ucap Arsyil dengan pilu.
Arsyil menjalankan mesin motornya dan segera pergi dari rumah kontrakan itu. Karena dia ingat Azam akan datang ke rumah ayahnya, dia akan tinggal di sana untuk selamanya. Dan membiarkan rumah kontrakan itu habis sesuai waktu yang sudah di tentukan, lima bulan dia mengontrak.
Dia berpikir nanti akan memindahkan barang-barangnya setelah empat puluh hari ayahnya.
Motor melaju dengan kencang, agar Arsyil sampai di rumah ayahnya sebelum Azam datang lebih dulu.
Satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga. Rumah masih sepi dan pintu tertutup rapat. Karena memang kemarin dia pulang dengan Najwa dalam keadaan yang sama seperti sekarang ini.
Arsyil membuka pintu rumah, dia masuk dan berdiri. Menarik napas panjang lalu melangkah masuk ke dalam, di mana pun dia berada kesedihan selalu menyertai. Di rumah ayahnya, dia ingat dengan ayahnya yang sudah tiada. Tinggal di rumah kontrakan dia ingat dengan Najwa yang sekarang jadi mantan istrinya.
"Ya Allah, kuatkan aku menghadapi semua ini." ucap Arsyil.
Dia masuk ke dalam kamarnya, tampak rapi ranjang serta meja di kamar tersebut. Dia melihat ada ikat rambut Najwa yang tertinggal, Arsyil mendekat dan mengambil ikat rambut itu kemudian menciumnya.
"Masih wangi yang sama seperti dirimu, dek." ucap Arsyil memegangi ikat rambut Najwa itu.
Dia letakkan kembali di meja, kemudian dia mengambil tasnya untuk memindahkan baju-bajunya ke dalam lemarinya.
Terdengar dari luar suara salam dari seorang laki-laki. Arsyil menebak bahwa itu adalah Azam, sahabatnya sekaligus calon suami Najwa. Arsyil menarik napas panjang, dia mencoba menguatkan hatinya untuk bertemu dengan Azam.
"Assalamu alaikum!"
Ucapan salam untuk kedua kalinya dari Azam, Arsyil keluar dari kamarnya dan menjawab salam Azam tersebut.
"Wa alaikum salam."
Arsyil membuka pintu dan memang tampak Azam masih berbaju kantoran dengan setelan jas lengkap. Dia tersenyum pada Arsyil dan segera masuk tanpa di suruh oleh Arsyil. Azam menyalami sahabatnya itu dan memeluknya.
__ADS_1
"Maaf aku baru mengunjungimu, Syil." kata Azam.
"Tidak apa, Zam. Duduk dulu Zam, aku buatkan minum dulu." kata Arsyil.
"Jangan repot-repot Syil, aku hanya sebentar saja kok." kata Azam.
"Ngga apa-apa, cuma air putih saja yang ada. Sebentar ya." kata Arsyil.
Arsyil masuk ke dalam untuk mengambil air minum untuk Azam. Azam sendiri melihat-lihat sekeliling ruang tamu itu, tak ada hiasan apa pun di dinding. Hanya ada pigura yang menggantung, itu pun cuma berisi foto jama dulu ayah Arsyil dan ibunya.
Azam tersenyum kecut ketika dia ingat juga kedua orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan tujuh bulan lalu. Dia menarik napas panjang, mencoba menghilangkan rasa perih ingatan akan kecelakaan itu.
Arsyil datang dengan membawa nampan berisi air putih dalam gelas bening. Dia letakkan gelas tersebut di meja, meletakkan nampan di sampingnya.
"Minum dulu Zam." kata Arsyil.
"Iya Syil, terima kasih." kata Azam mengambil gelas itu lalu meneguk isinya hingga tinggal separuhnya.
"Ada apa kamu datang kemari, Zam?" tanya Arsyil.
"Aku hanya mau berterima kasih sama kamu, sesuai janjiku sama kamu. Aku akan memberikan saham sepuluh persen di perusahaanku." kata Azam.
"Tidak perlu Zam, aku ikhlas melakukannya. Lagi pula, semua tidak bisa di ukur dengan uang kan?" kata Arsyil.
"Ya, tapi aku sudah janji sama kamu kalau semuanya sudah beres sahamku sepuluh persen aku berikan sama kamu." kata Azam.
Azam diam, dia merasa tidak enak sama Arsyil. Biar bagaimana pun Arsyil menepati janjinya untuk menceraikan Najwa dan mengembalikan mantan istrinya ke rumah abahnya.
"Lalu, apa yang harus aku berikan sama kamu, Syil?" tanya Azam.
"Tidak usah memberi apa pun, aku mendapatkan banyak pelajaran dan kenangan saja itu sudah cukup. Aku tidak meminta apa pun sama kamu, dan kamu juga tidak usah memberiku apa pun." kata Arsyil lagi.
"Baiklah, aku merasa berhutang sama kamu Syil."
"Kalau merasa berhutang, kamu nanti harus membayarnya Zam. Jadi, jangan merasa berhutang padaku." kata Arsyil lagi.
Azam tampak diam, dia merasa beruntung Arsyil tidak memikirkan apa pun tentang imbalan karena telah membantunya. Kini tinggal dirinya akan mendatangi Najwa ke rumah abahnya.
"Minggu depan aku akan ke rumah abah menemui Najwa, Syil." kata Azam.
"Terserah kamu, Zam. Aku sudah tidak punya urusan lagi dengan abah dan umi Najwa, terutama pada Najwa juga. Aku sudah selesai." kata Arsyil.
Hatinya pilu mengatakan itu, dia menguatkan hatinya. Ingin sekali dia menyudahi obrolan mengenai Najwa, tapi Azam masih saja membicarakannya. Mengatakan kalau dia benar-benar mencintai Najwa.
__ADS_1
Arsyil hanya mendengarkan saja, tanpa mau bertanya atau menanggapi apa yang di katakan oleh Azam mengenai Najwa.
"Dia memang sangat cantik dan santun, Syil. Siapa pun akan tertarik padanya." kata Azam mengakhiri ceritanya tentang Najwa.
'Begitu juga denganku, Zam. Aku tertarik dan mencintai Najwa.'
Hanya dalam hati Arsyil mengatakannya, dia tidak bisa mengucapkannya di depan Azam. Sangat tidak etis baginya harus memperebutkan perempuan sholehah itu.
"Maaf kalau aku membicarakan Najwa, aku hanya sedang merindukannya." kata Azam.
Arsyil masih diam, dia menunduk dalam. Menguatkan telinga dan hatinya mendengar ucapan Azam itu.
"Apa kamu tidak pergi ke kantor?" tanya Arsyil.
"Ah ya. Aku ada janju dengan mr. Roby siang ini. Untung kamu mengingatkanku, terima kasih Arsyil." kata Azam tersenyum senang.
"Ya, tadi kamu bilang juga hanya sebentar saja kan mampir kemari."
"Iya. Kalau begitu, aku pergi dulu Syil. Oh ya, nanti aku akan kirim uang untuk selamatan mendoakan ayahmu ya. Hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu." kata Azam.
"Tidak usah, Zam. Aku masih bisa menggunakan tabunganku untuk selamatan ayahku nanti."
"Tapi Syil, ...."
"Sungguh, Zam. Aku masih ada tabungan, jangan repot-repot ya." kata Arsyil kembali menolak bantuan Azam itu.
"Lalu aku harus membantumu seperti apa, Syil? Kalau kamu sendiri selalu menolak bantuanku." kata Azam.
"Tidak perlu, Zam. Mungkin nanti ada saatnya aku minta bantuanmu, tapi aku akan tetap berusaha sendiri untuk tidak minta bantuan padamu."
"Ya ampun, Arsyil. Kita sahabat sejak lama, kenapa kamu selalu menolak bantuanku."
"Aku belum butuh Zam, insya Allah nanti ada saatnya aku minta bantuanmu. Jangan khawatir." kata Arsyil lagi.
"Baiklah, tapi aku akan tetap metransfer uang ke rekaningmu. Uangnya tidak banyak sih, tapi itu cukup untuk selamatan doa om Marwan. Dan jangan menolak lagi, Arsyil." kata Azam menekan sahabatnya agar menerima pemberiannya itu.
Arsyil menarik napas panjang, dia diam saja. Azam lalu berpamitan untuk pergi ke kantornya karena jam satu siang dia akan bertemu dengan mr. Roby.
"Assalamu alaikum, Arsyil."
"Wa alaikum salam, Azam."
_
__ADS_1
_
********************