Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
16. Kehidupan Baru


__ADS_3

Pindah rumah, pindah dari kost lama tempat Arsyil kini dia dan Najwa sudah pindah rumah di rumah kontrakan yang baru, yang lebih luas di banding kost Arsyil yang dulu.


Kini mereka sedang membereskan semua barang-barangnya. Arsyil membantu mengangkat kasur baru yang dia beli sengaja untuk Najwa. Dia tidak mau Najwa jadi tidak betah jika tidur di atas kasur lamanya, meski hanya tiga bulan saja pernikahan mereka tapi Arsyil tidak mau istrinya tidak nyaman tinggal dengannya.


"Dek, kamu atur saja rumah ini mau seperti apa. Nanti tinggal bilang saja sama abang, abang akan bantu memindahkan barang-barangnya." kata Arsyil.


"Iya bang, rumahnya kan belum ada apa-apa, perabot dapur juga baru ada kompor kecil dan panci untuk masak mie instan saja kan." kata Najwa.


"Oh iya ya aku belum beli perabotan dapur, heheh. Besok deh abang beli, pulang dari percetakan. Atau adek mau ikut juga beli perabotan dapur, biar tahu apa saja yang harus di beli." kata Arsyil.


"Boleh bang, tapi jangan banyak-banyak ya. Sayang." kata Najwa.


"Kenapa? Kan biar adek masak peralatan dapur ada semua. Ngga perlu bingung lagi." kata Arsyil.


"Kita kan cuma sebentar bang, jadi ngga perlu banyak-banyak." kata Najwa.


Arsyil tersenyum, dia lupa dengan pernikahan itu hanya pernikahan kontrak saja. Terlalu senang dia sudah menikah dengan Najwa yang cantik dan sholehah itu.


"Ngga apa-apa, kalau perjanjiannya selesai kan abang bisa nikah lagi. Nanti istri abang baru yang menggunakan perabotnya." kata Arsyil.


Najwa diam saja, dia menatap sekilas wajah suaminya. Ada rasa bersalah dia mengatakan itiu, dia tahu dengan wajah ceria Arsyil ketika menikahinya. Sangat bahagia, dia tidak tega dengan wajah kecewa Arsyil itu.


"Ya udah kalau abang ngga masalah beli perabot banyak. Hitung-hitung sudah persiapan ya bang." kata Najwa.


"Iya."


Diam, keduanya diam. Mereka bingung mau bicara apa, saling menatap lalu tersenyum kaku. Arsyil pun pergi dari hadapan Najwa, detak jantungnya bergetar entah sejak kapan.


Ya, Arsyil jatuh cinta lebih cepat pada Najwa. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi perasaannya itu. Saat ini dia bisa mengendalikannya, Najwa menanggapinya hanya sebatas menghormatinya sebagai suami.


Najwa menatap kepergian suaminya, dia sendiri merasa bersalah mengingatkan Arsyil tentang perjanjian itu. Kehidupan pernikahan mereka masih awal, tapi Najwa kenapa mengungkitnya.


Seharusnya dia tidak mengatakan apa pun, membiarkan Arsyil melakukan apa pun sebagai suaminya.


Ya, Najwa akan membantunya untuk meyakinkan Arsyil kalau dia adalah istrinya yang sah. Dia akan menghilangkan perasaan berbeda dan jarak antara dirinya dan Arsyil.

__ADS_1


"Emm, bang. Lapar ngga?" tanya Najwa.


"Iya dek, abang lapar. Tadi mau bilang takutnya dek Najwa capek habis beres-beres rumah. Abang jadi merasa bersalah." kata Arsyil.


"Ngga apa-apa bang nanti adek buatkan makanan ya. Kita makan bersama." kata Najwa dengan senyum manisnya.


Arsyil tersenyum, dia sangat senang melihat senyuman istrinya itu.


"Ya Allah, aku harus menahan semuanya." ucap Arsyil ketika Najwa sudah pergi dari hadapannya.


Kini dia kembali membereskan kasur untuk Najwa tiduri, sedangkan kasur yang lama tidak dia buang. Tapi di tempatkan di kamar belakang, itu untuk dirinya itu. Saat ini belum bisa tidur bersama, karena masih ada kecanggungan di antara mereka.


_


Esok harinya, pagi hari Arsyil bangun lebih dulu. Dia melihat Najwa sedang tidur dengan nyenyak, Arsyil pun mendekat. Hendak membangunkan istrinya itu untuk sholat subuh.


Langkahnya mendekat ke ranjang, dan berdiri di depannya. Tangannya terulur hendak membangunkan Najwa, tapi rupanya Najwa sudah bangun lebih dulu.


"Eh, abang sudah bangun lebih dulu. Maaf bang aku ketiduran sangat lelap." kata Najwa merapikan rambutnya.


"Iya, ngga apa-apa. Mungkin adek lelah karena kemarin harus beres-berea rumah." kata Arsyil.


"Apa kita sholat subuh berjamaah bang?" tanya Najwa.


"Ya boleh, sewaktu di kost kita belum sempat sholat berjamaah." kata Arsyil.


"Abang ajak saja aku kalau lupa sholat jamaah bang, karena aku belum biasa. Maaf, karena lama juga ngga sholat jamaah dengan suami." kata Najwa.


"Iya, nanti abang ingatkan."


"Ya sudah, aku ke kamar mandi dulu bang ambil air wudhu."


"Iya, abang tunggu di tenpat mushola kecil ya." kata Arsyil.


"Iya bang."

__ADS_1


Najwa beranjak dari duduknya, Arsyil pun pergi ke mushola kecil yang sengaja dia buat. Tak lama Najwa datang dengan mengenakan mukenahnya. Arsyil sudah melakukan sholat sunah kobliyah subuh dan kini keduanya sholat berjamaah.


Tampak khusyuk mereka sholat, Arsyil membacakan ayat suci Al-qur'an dengan merdu. Najwa sampai terkesima mendengar suara merdu suaminya itu. Untungnya dia ingat kalau sekarang sedang sholat, jadi dia pun khusyuk kembali dalam sholatnya.


Dua rokaat selesai, mereka berdoa sesuai keinginan masing-masing. Najwa menyalami tangan Arsyil, dia melihat Arsyil mengambil Al-qur'an lalu membacanya. Najwa ingin melihat suaminya melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an.


Benar saja, suara Arsyil sangat merdu. Apa lagi dalam membaca wahyu Nabi Muhammad saw itu dengan fasih dan makhrojul khurufnya benar. Tidak ada yang cacat di mata Najwa selama lima hari tinggal dengan Arsyil.


Baru kali ini Najwa melihat sisi lain dari Arsyil yang agamis. Selain sikapnya yang sopan dan berwibawa, Najwa melihat Arsyil sangat penyayang.


"Sodakallahul adziim."


Arsyil mengakhiri membaca Alz-qur'annya. Dia tidak sadar kalau Najwa masih duduk di belakangnya mendengarkannya mengaji. Begitu berbalik, dia terkejut melihat Najwa masih di belakangnya.


"Astaghfirullahal adziim, dek. Abang pikir kamu sudah pergi ke dapur." kata Arsyil masih dalam kekagetannya.


"Heheh, maaf bang. Aku ingin dengar abang mengaji, suara abang merdu. Aku suka dengarnya bang." kata Najwa.


"Alhamdulillah, abang hanya sempat mengaji di rumah waktu subuh saja. Kalau waktu maghrib kadang-kadang karena pulang lebih sering di jalan. Tapi sekarang kalau pulang harus cepat, biar dek Najwa ada temannya di rumah sewaktu maghrib tiba." kata Arsyil.


"Iya, kalau magrib itu rasanya sepi ngga ada temannya." kata Najwa.


"Ya udah, sekarang abang pulang sebelum magrib. Biar adek ngga takut sendirian di rumah." kata Arsyil.


"Iya bang. Kalau begitu, adek pergi ke dapur menyiapkan sarapan." kata Najwa.


"Iya, abang mau beres-beres rumah dulu. Biar semuanya beres." kata Arsyil.


Najwa mengangguk, dia pun pergi ke kamarnya untuk berganti baju, sedangkan Arsyil segera mengambil sapu untuk membersihkan lantai rumah. Berbagi tugas dengan istrinya itu, dia tidak mau istrinya merasa kelelahan karena mengerjakan pekerjaan rumahnya.


_


_


*********************

__ADS_1


__ADS_2