
"Assalamu alaikum!"
Salam dari luar membuat abah yang ada di ruang keluarga menonton TV pun kaget, dia lalu menjawab salam Arsyil di luar.
"Wa alaikum salam."
Arsyil masuk dan melihat abahnya sedang duduk di sofa. Dia menghampiri mertuanya itu dan menyalaminya.
"Dari tadi abah datang?" tanya Arsyil ikut duduk di sofa.
"Ngga sih, baru setengah jam lalu." kata abah.
"Oh, lumayan ya. Umi ngga ikut bah?" tanya Arsyil.
"Umi di dapur sama istrimu." jawab abah.
"Oh, kalau begitu saya masuk kamar dulu bah. Ganti baju."
"Iya."
Arsyil pun beranjak dari duduknya, dia menuju kamarnya. Abah melihat kamar Arsyil tampak di sebelah kamar Najwa. Dia mengerutkan dahinya, apakah anaknya dan suaminya pisah kamar?
Tak lama, Najwa dan umi datang menghampiri abahnya. Mengajaknya makan siang.
"Bah, makan yuk di belakang." ajak Najwa.
"Iya, tuh suamimu sudah pulang." kata abah.
"Iya bah, nanti aku panggilkan bang Arsyil.
Abah pun bangkit dari duduknya, dia dan istrinya menuju dapur. Di mana meja makan ada di sana, sedangkan Najwa menemui suaminya.
"Bang, makan sama abah dan umi yuk." kata Najwa mengajak suaminya.
"Iya dek tunggu sebentar, abang ganti baju dulu." kata Arsyil.
Najwa diam, dia masih berdiri di depan kamar Arsyil. Tak lama Arsyil pun keluar, dia melihat istrinya masih berdiri di depan kamarnya.
"Lho, masih di sini? Abang pikir udah ke dapur." kata Arsyil.
"Tunggu abang, kita ke dapur sama-sama." kata Najwa tersenyum.
Arsyil pun ikut tersenyum, dia mengusap kerudung Najwa dan mengajak istrinya ke dapur. Najwa senang Arsyil melakukan itu, karena itu menandakan rasa sayang padanya. Eh, sayang?
"Waah, kalian sudah serasi ya." kata umi Dila.
"Serasi bagaimana mi?" tanya Najwa duduk di samping suaminya menghadap abah dan umi.
"Sudah, ayo kita makan sekarang. Abah sudah lapar, sengaja abah tidak makan dulu di rumah. Biar bisa makan masakan Najwa." kata abah.
__ADS_1
"Hahah, iya bah. Abah kangen masakan aku ya." kata Najwa mengambilkan nasi ke piring abah, lalu berganti ke piring Arsyil.
"Ya, sesekali kangen masakan kamu. Tapi lebih enak sih masakan umi." kata abah.
"Hemm, tetap saja umi yang nomor satu." ucap Najwa mencibir ucapan abahnya.
Arsyil hanya tersenyum saja mendengar candaan istri dan mertuanya itu. Dia senang bisa melihat keakraban di meja makan dengan mertuanya.
"Nak Arsyil, ayahnya tidak di ajak kemari?" tanya umi Dila.
"Iya umi, katanya masih mengurus kebun dulu. Mungkin lusa kemari." jawab Arsyil.
"Kapan-kapan boleh kita kumpul dengan ayahmu, nak Arsyil." kata abah.
"Iya bah, nanti saya kasih tahu ayah."
Semua makan dengan tenang, bicara santai dan selalu saja abah memberikan petuah yang baik pada pasangan pengantin baru itu.
Lama mereka berada di rumah Najwa, hingga sore hari kedua orang tua itu pun berpamitan pulang.
"Najwa, umi sama abah pulang dulu ya. Kamu harus jadi istri yang baik buat suamimu. Dan umi lihat kalian kamarnya masih terpisah ya?" tanya umi Dila.
"Nanti mi, baru juga beradaptasi." kata Najwa beralasan.
"Jangan lama-lama, umi sama abah hanya ingin kalian menjadi suami istri yang tidak canggung satu sama lain. Umi lihat sih nak Arsyil lebih akrab dengan kamu, Najwa. Jangan jaga jarak, lakukan apa yang mesti kamu lakukan." kata umi Dila.
"Iya mi." kata Najwa.
"Abah selalu begitu, ngga mau jauh sama umi."
"Iyalah, umi ini pawangnya abah. Hahah."
"Hahah, umi bisa saja."
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Najwa menyalami uminya, begitu juga Arsyil. Mereka melambaikan tangan pada kedua orang tua yang sudah melajukan motornya. Najwa pun masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh Arsyil.
Dia akan membantu Najwa untuk membereskan perabot yang sudah di gunakan untuk memasak. Arsyil pergi ke dapur, mengambil peralatan yang kotor. Membuat Najwa heran.
"Bang, mau apa?" tanya Najwa.
"Mau cuci peralatan ini." jawab Arsyil menunjuk ke tempat cucian.
"Biar saja bang, adek yang mencuci." kata Najwa.
"Ngga apa-apa, kamu kan habis masak banyak. Pasti capek, biar abang bantu cuci perabotnya. Kamu mandi saja, ini sudah sore kan." kata Arsyil.
__ADS_1
"Tapi bang."
"Ngga apa-apa." kata Arsyil dengan senyum manisnya.
Najwa pun tak bisa mencegah suaminya, dia sangat terharu Arsyil sering sekali membantu pekerjaannya. Dia jadi membandingkan dulu masih menikah dengan Azam, tidak pernah membantunya dalam pekerjaan rumah.
Meskipun ada pembantu di rumahnya, tapi Azam jarang membantu apa pun pada Najwa. Dia selalu pulang malam, jadi selalu merasa capek. Sedangkan Arsyil, meski dia lelah tapi menyempatkan membantu Najwa dalam mengurus pekerjaan rumah.
"Dek, kok masih di situ saja?" tanya Arsyil yang hampir selesai mencuci perabot masakan.
"Oh, iya bang." kata Najwa gugup, lalu tersenyum.
Najwa pun pergi menuju kamarnya mengambil handuk dan baju gamis rumahannya. Lalu dia pun pergi mandi.
Arsyil membereskan semua perabot yang sudah di cuci di simpan di tempatnya semula. Tiba-tiba hujan lebat turun, dia kaget juga.
Najwa yang sedang asyik mandi di kamar mandi keluar dengan memakai handuk kimono saja. Keluar dengan terburu-buru dan berjalan cepat menuju depan, Arsyil heran kenapa Najwa keluar dari kamar mandi dengan cepat.
"Dek, mau kemana?" tanya Arsyil.
"Itu bang, jemuran di depan belum di ambil."
"Sudah kamu masuk lagi, biar abang yang ambil. Masa kamu mau keluar pakau baju seperti itu." kata Arsyil bergegas keluar rumah.
Najwa diam, dia tidak memberitahu suaminya. Najwa pun masuk ke dalam kamarnya, berganti pakaian dan memakai baju yang tadi dia bawa ke dalam kamar mandi. Lupa kalau tadi dia keluar dengan memakai baju handuk kimono.
Untungnya Arsyil tidak menyadari dia memakai baju tersebut. Atau karena panik hujan lebat dan langsung mengambil jemuran di depan.
"Basah kamu bang."
"Iya, sekalian mandi sore aja. Tapi ini jemurannya juga ada yang sudah basah dek." kata Arsyil.
"Ngga apa-apa bang, besok di jemur lagi."
Arsyil menyadari Najwa sudah berganti baju gamis santai. Memakai kerudung instan, dia pun tersenyum.
"Waah, sudah ganti baju saja dek. Aku kaget kamu tadi pakai baju kimono mau keluar rumah itu sadar atau tidak ya." kata Arsyil tertawa kecil.
"Eh, iya bang. Aku lupa tadi." kata Najwa merasa malu.
"Hahah, lupa seterusnya di kamar sih ngga masalah." kata Arsyil berbalik dan masuk ke dalam kamarnya mengambil handuk.
Najwa diam saja, dia merasa malu karena tadi terlihat tubuh aslinya meski hanya sebagian saja. Selama ini Arsyil belum pernah melihat wajahnya tanpa kedurung, apa lagi rambut panjangnya. Najwa pun menyimpan jemurannya di kursi depan.
Dia berpikir apakah malam ini akan tidur satu kamar dengan suaminya?
_
_
__ADS_1
*****************