
Ani hanya bisa
menerima nasibnya saat ini, dirinya tidak tahu ini di mana kedua kaki yang di
pasung dengan rantai, kedua tangan juga ikut dirantai, mulut yang di tutupi
labpbam hitam hanya tangis yang bisa dirinya lakukan saat ini.
Tidak ada seorangpun di sana yang bisa membantu dirinya di tambah perutnya
sangat lapar rasa haus juga dia rasakan saat ini. Ani berusaha menggerakan
tangannya yang di rantai itu untuk menggapai lapbam yang menutup mulutnya
tersebut.
Sudah 30 menit dirinya berusaha untuk melepaskan
lapbam di mulutnya tersebut... lalu dengan lega lapbam itu mampu dirinya buka.
Ani menghirup nafas dalam- dalam saat ini supaya dirinya bisa tenang. Sekitar lima
belas menit dirinya meredakan nafasnya, kemudian dia melihat ruangan itu sambil
berteriak minta tolong, barang kali ada yang mendengar dirinya saat ini.
Tolong.................tolong..................tolong...............
teriak Ani saat ini, tak lama kemudian terdengar bunyi suara sepatu masuk ke dalam ruangan itu.
“Berhenti berteriak! Tidak ada yang akan menolong
kamu.”
“Lepaskan saya, saya tidak punya masalah sama
kalian.”
“Sudah ku katakan, jangan berteriak pada
ku...plak.....plak....,” kata peria itu dengan marah serta memberikan tamparan
di pipi Ani.
“argh...” rintih Ani.
“Lepaskan aku! Kalian akan menyesal sudah
melakukan ini padaku.”
“Diam kau wanita sialan.”
__ADS_1
“Berikan aku makan?” pinta Ani yang sangat lapar
persetanan dengan dirinya yang di pasung saat ini.
“Tidak ada makan untuk kau,” titah pria itu.
“Aku mohon berikan aku makan, aku sangat lapar sekali.”
“Tidak ada makan untuk kamu!”
“Kalau tidak ada makan, berikan aku air saja.”
“Air juga tidak ada untuk kau.”
“Ih... dasar biadab sekali kau pria tua,” caci Ani
yang sangat tidak tahan dengan sikap pria itu.
Kemudian pria
itu pergi meninggalkan Ani yang saat ini menahan rasa lapar serta haus
menggorokin ternggorokannya. Tak lama kemudian pria tua itu datang dengan
segelas air putih dan satu piring nasi.
“Ini makan untuk kau.”
Ani menatap piring itu hanya ada nasi putih diatasnya
“Kau makan itu! jangan menatapku dengan mata kau
itu, jika tidak mau kehilangan ke dua mata kau itu.”
“Bagaimana aku akan makan jika kedua tangan aku
saja kau rantai begini,” ujar Ani. Pria tua
itu membuka sebela rantai di tangan Ani.
“sudah, cepat makan atau akan kubuang makan itu.”
segera mungkin Ani menarik piring yang berisi nasi putih itu terus dirinya
mulai memakan nasi putih tersebut. Ani sedikit
merasa legah walau dirinya hanya makan nasi putih saja, setidaknya dirinya
tidak merasa kelapan lagi. Setelah selesai makan tangan Ani kembali di rantai
oleh pria itu kemudian dia pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Ani menatap dinding ruangan itu dengan lesuh bagaimana dirinya bisa keluar dari sana, dia
teringat akan suaminya pasti suaminya sangat khwatir sekali saat ini. Ani tak
habis pikir jika mamanya masih tega pada dirinya dan memperlakukannya dengan
begini dari dulu dia juga sudah menderita setiap hari oleh orang tuanya sekarang mereka masih
tetap sama. Semakin Ani berfikir terhadap kedua orang tuanya itu yang sangat
kejam terhadap dirinya.
Dikota sana wanita yang di sebut mama Ani itu
sedang merayakan keberhasilan mereka dalam rangkah menyakiti Ani bersama
suaminya.
“Mas sekarang kita akan mulai rencana selanjutnya,
mama mau Dirtan kembali ke mama.”
“Iya sayang, papa juga berharap sama dan anak kita
tidak lagi membela anak sialan itu.”
“Sekarang kita nikmat perayaan ini papa.”
“Tunggu sebentar pa.”
“Kenapa mama?”
“Mama mau hubungi orang suruhan mama yang mengjaga
anak sialan itu.”
“Iya mama, silah kan .”
Wanita yang
di panggil Yuli itu menghubungi orang suruhannya
“Hallo, bagaimana anak sialan itu.”
“Dia sudah sadar Ny.Yuli.”
“Bagus sekali, kau terus awasi dia jangan sampai
kau gagal. Baiarkan dia membusuk di sana.”
“Baik Ny.Yuli, saya akan jaga dia di sini sesuai
__ADS_1
dengan permintaan Anda.”
“Bagus kalau begitu.”