
Hari ini di mana Ani akan sendiri lagi jauh
dari sang kakak- kakak terciptanya itu. hari ini begitu berat terasah oleh
dirinya, entah mengapa tak ada semangat di dalam dirinya. Semua terasa hampa...
ya seperti saat ini Ani duduk bersama sang kakaknya yang mengelus rambutnya
dengan penuh kasih sayang dan dirinya bergelayut manja di pelukan sang kakak.
“Jangan nakal ya selama
kakak di sana ya.”
“Hmmm. Iya kakak, kakak
sering-sering kabar Ani ya.”
“Iya kakak akan sering
memberi kabar ke kamu kok sayang, nanti kalau kakak pulang kita pergi bersama ya ke sana.”
“Iya kakak, nanti Ani akan
ikut dengan kakak.
“Ya pokoknya kamu harus
baik- baik aja di sini ya, jadi lah istri yang baik ya buat om galak itu!”
tutur Distan.
Dirga namanya yang di
sebut hanya bisa diam dan melorotkan
matanya saja, kakak iparnya itu kadang membuat dia entah berasa gimana.
“kak, kalau nanti Ani tiba-
tiba datang ke tempat kakak boleh ya?” tanya Ani.
“Iya boleh, tapi kamu
pergi sama suami kamu ya.”
“Malas la Kakek, suami aku
itu tahu aa... kadang – kadang di agak
jelas kakak.”
“Kamu gak boleh jelek
suami gitu ke orang lai sayang,” sahut
Dirga.
“Aku gak jelek mas kok,
emang kadang mas itu gaje, ngeselin orangnya.”
“Ya kan kamu cinta kan?”
“Gak,” ucap Ani.
“Berarti selama ini kamu
gak cinta sama mas?” tanya Dirga lagi.
“Gak aku gak cinta sama
mas,”
“Kan emang gak cinta mas,
gak bisa di paksakan juga.”
“Jadi selama ini kamu
anggap aku ini?” tanya Dirga mulat geram.
“Ya suami aku lah siapa
lagi.”
“kamu anggap aku suami
kamu, tapi kamu tidak mencintaiku, lalu selama ini aku apa artinya untuk kamu”
__ADS_1
tegas Dirga.
“Mas tahu bagaimana aku menganggap kamu itu seperti apa?”
“Aku bertanya kepada kamu,
bukan di tanya balik pada ! jawab pertanyaan aku Ani.”
“Hi.... mas jangan nyosor
dong kalau mau pertanyaan di jawab.”
“Mau gak nyosor ha! Istrinya
saja tak menganggap aku apa- apa.”
“Kan mas ini gak bisa di
ajak bercanda.”
“Ini bukan rana bercanda
Ani, ini serius jadi gak ada yang bercanda di sini.”
“Iya kan aku cuman mau
jahilin mas,” rajuk Ani.
“Tapi gak begini juga sayang, kamu tahu gak bagaimana perasaan
mas tadi kamu begitu?”
“Iya maaf aku tidak
bermaksud mas buat mas marah.”
“jangan di ulangi lagi lain
kali.”
“Iya mas, aku tidak ulangi lagi kok. Tapi mas maafin aku
kan as?” rajuk Ani.
“Gak mas gak maafin kamu.”
Setelah itu Dirga fokus ke depan dengan mobilnya. Sedang kan Distan
ego tinggi begitu dia hanya bisa menghembuskan nafas dengan pasangan itu.
Hingga akhirnya kesunyian terpecahkan sejak
perdebatan pasutri itu setelah meraka sudah sampai di bandara.
“Kak ayuk turun aku antar tuk.”
“Iya Sayang sabar
sebentar.”
Dengan sangat lesu Ani berjalan mengantar
sang kakak tercintanya itu yang sudah di nanti oleh dua orang kakaknya di sana
Ada Aldo,Rendy, juga akan berangkat satu jam setelah Distan. Mereka sengaja
datang lebih cepat untuk bertemu dengan Distan.
“Wah... bro udah datang
aja lo.”
“Ya kan kita mau lihat lo
pergi.”
“Iya thanks ya, kalian
juga ya, kalian jam berapa landas?”
“Jam 11 nanti.”
“Wah kalau gitu gue duluan
ya, sampai nanti,” mereka pelukan alah- alah cowok.
Distan sudah masuk ke
pesawatnya. Tinggal Aldo, Rendy saat ini yang akan berangkat ke Jerman.
__ADS_1
“Kak Aldo,kak Rendy jangan
lupa kabari Ani nanti di sana ya.”
“Iya gak bakal lupa kabari
kamu kok.”
“Kakak janjikan sama aku.”
“Iya kakak janji sama kamu
kok.”
“Wah..aku akan sangat
merindukan kakak berdua,” ujar hani dan berhamburan ke pelukan mereka.
Dirga yang melihat
istrinya dengan kedua bocah itu hanya melihat dengan kesal saja, mau di
melarang bukan saatnya apalagi dia tahu bahwa istrinya itu emang manja dengan
ke dua bocah itu.
Selang satu jam berlalu sekarang Ani pulang ke
rumahnya dengan suaminya itu, Istrinya yang tertidur pulas di sampingnya. Dirga hanya mengelus rambut istri manjanya
itu.
Hingga akhirnya mereka
sampai di rumah.Dirga yang melihat istrinya itu tertidur pulas, dia turun dari
mobil dan membuka pintu mobil untuk
istrinya itu. kemudian dia mulai membungkuk dan mengangkat tubuh istrinya itu
alah korea... lalu kemudian dia berjalan masuk ke dalam rumah.
Dirga meletakkan istrinya
itu dengan perlahan di atas tempat tidur mereka lalu dia menyelimuti istrinya itu. kemudian dia mulai melepaskan
pakaiannya yang di kenakan dan ia segera mengambil handuk dan menuju kamar
mandi untuk membersihkan diri lagi karena dia merasa gerah.
Sedangkan dia sebuah rumah mewah yanga saat
ini penuh dengan suara teriakkan dan bentakan oleh sepasang suami istri itu
yang sudah mulai tua.
“Ini semua gara- gara
papa.”
“Ini juga salah mama!”
“Papa kok jadi salahkan mama.”
“Iya salah mama, karena
mama yang ikut- ikut bisnis begituan yanng gak jelas.”
“kan mama juga mau ikutan
pa,”
“Tapi apa yang mama
hasilkan! Mala ada aku rugi ma... 6 miliar itu tidak sedikit ma!”
“Iya itu juga sudah
terjadi pa.”
“Mama emang bisa bilang
begitu, tapi aku yang cari uang susah paya.”
“Papa jangan salahkan mama
terus dong.”
“Sudah la Ma! Papa sangat
__ADS_1
pusing sekarang. Punya istri kok kayak begini bangat.”