
“Kamu
tahu sendiri jawabannya kenapa mas begini.”
“Iya
mas, maafin aku ya bikin mas marah gini.”
“Ada
syaratnya kalau kamu mau dapat maaf dari mas,” kata Dirga pada Ani.
“Kok
pakai syarat segala si mas, kan aku udah minta maaf sama mas.”
“Pokoknya
mas gak mau memaafkan kamu tanpa syarat.”
“Oke,
mas mau aku ngapain mas?” tanya Ani.
Dirga
yang senang saat istrinya menyetujui dengan syarat yang ia janjikan untuk
memaafkannya.
“Oke
mau kamu sayang.....” Dirga menarik tangan Ani dan merangkul ke pelukannya lalu
dia berisik di telinga Ani.
“Mas
mau punya anak tahun ini.”
Jedar..... Ani kaget dengan syarat yang di
ajukan oleh suaminya itu. ia bisa saja menerima tapi dirinya masih sekolah ,
dan dia juga mau melanjutkan pendidikannya.
“Mas,
yakin denga syarat mas ajukan sama aku itu?” tanya Ani dengan sedikit ragu.
“Iya
sayang mas sudah ingin punya anak.”
“Apa
__ADS_1
tak terburu- buru mas, lagian aku belum lulus sekolah mas.”
“Iya
mas tahu, tapi kan kamu sekolah hanya satu bulan lagi sayang, jadi menurut mas, kita gak papa bikin
dari sekarang.”
“Mas,
tapi aku belum siap untuk mempunyai anak
mas. Aku mau lanjutin pendidikan aku dulu.”
“Kan
kamu bisa kuliah sayang, walau kamu sudah punya anak. Gak ada larangannya
sayang.”
“Tapi
aku belum mau mas, mas jangan yang ini ya syaratnya . aku belum sanggup mas.”
“
terus kamu kapan mau kasih aku anak sayang, aku sudah 2 tahun menungguhnya aku
ingin mempunyai anak. Jadi apa salahnya kamu kasih aku anak.”
“Mas
berbahaya bagi akau mas.”
“Kamu
itu sudah delapan 18 tahun Ani, sudah bisa mengadung anak.”
“Tapi
akan sangat berbahaya dan berisiko mas,” ucap Ani dengan tegas.
“Terserah
kamu Ani, mas gak akan meminta lagi. Terserah kamu saja aku bisa cari yang lain
jika itu yang kamu mau Ani.
Ani yang mendengar kekecewaan dari suaminya
hanya bisa menghela nafas, apa yang aka dia lakukan semua berkecambuk di
kepalanya.
Dirga
__ADS_1
yang sudah sampai di kamar ia mengelah nafas dengan kesal akan permintaannya tak dihiraukan oleh istrinya.
Tak
lama kemudian pintu kamar terbuka, masuk Ani ke dalam kamar tersebut niat ingin
mendekati suaminya namun Dirga berbaring ke atas ranjang lalu menutup seluruh
tubuhnya dengan selimut. Ani yang melihat hanya pasrah saja mungkin suaminya
butuh tenang.
Ani
masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket oleh
keringat. Tak lama kemudian dirinya juga keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
Ani
menuju kaca riasan miliknya lalu menyisir rambut basahnya itu terlebih dahulu.
Dirga yang menurunkan selimut yang menutup seluruh tubuhnya itu sekilas melihat
istrinya yang lagi duduk di depan cermin riasan dengan berbalut handuk kecil di
tubuhnya.
Dengan
sigap dirinya bangun dari tempat tidur lalu mendekat ke istrinya itu lalu
dengan kilat dirinya mengangkat tubh Ani ke atas ranjang tersebut. Kemudian dia
menindih tubuh istrinya tersebut lalu ke dua tangan istrinya di letakan di atas
kepala dan di tahan oleh salah satu tangannya.
“Sayang
mas gak bisa nunda lagi, untuk punya anak,” ucap Dirga sambil menatap wajah Ani
dengan teliti.
“Tapi
mas....” ucapan Ani di potong oleh Dirga.
“Berdosa
jika kamu tak menuruti kemauan suami kamu.”
Ani
yang tak mau berdosa menolak apa yang suaminya minta dengan terpaksa dirinya
__ADS_1
mengggukan kepala menandakan iya. Dirga yang dapat jawaban dari Ani langsung
senyum gembira dan sore itu terjadi penyatuan di antara ke dua insan tersebut.