MENDADAK NIKAH SAMA CEO

MENDADAK NIKAH SAMA CEO
Menangis


__ADS_3

Dirtan datang ke rumah


adiknya dengan tergesa- gesa dirinya tak kuat  lagi saat ini mau mengadu kepada siapa, saat ini dirinya sangat membutuhkan


adiknya sebagai sandaran saat rasa hancur yang diterima saat ini, dia emang


sangat sulit untuk move on dari mantan kekasihnya itu. namun apa daya dia  tidak mau dengan wanita seperti itu.  sesampai di rumah adiknya itu dengan bergegas


dia masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan para bodyguard  yang menatapnya aneh.


“Ani sayang, kamu


dimana? Kakak datang.”


“Ani, Ani... kamu


dimana?”


Ani yang  barusan keluar dari kamarnya mendengar suara


kakaknya yang sedang memanggil- manggil dengan segera dirinya turun menggunakan


lift dan menghampiri kakaknya itu


“Ada apa kakak


manggil  begitu?” tanya Ani pada kakaknya


.


Dirtan  yang melihat adiknya segera berlari memeluk


adiknya itu dengan erat dan dia menangis di pundak adiknya itu. Ani yang


merasakan pundaknya basah  dan membiarkan


kakaknya itu menangis terlebih dahulu Ani mengangkat tangannya untuk mengusap


punggung kakaknya dengan penuh kasih sayang menenangkan sang kakaknya.


“Ani hati kakak sakit


bangat !”


“Sakit bangat sayang!”


“Kakak gak sanggup


rasanya  menahannya. Tapi wanita itu tak


seperti yang kakak duga selama ini.”


Ani  mendengarkan sang kakak yang saat ini


mengeluarkan  isi hatinya , dengan erat


Ani memeluk sang kakak untuk memberikan semangat padanya.

__ADS_1


“Kakak, kalau mau


menangis sepuasnya silahkan, lepaskan semuanya silahkan aku akan mendengarkan


semuanya kakak. Aku akan menjadi akan sandaran untuk kakak, sekarang kakak


coba  tarik nafasnya dulu perlahan –


lahan,” ujar Ani sambil merenggangkan pelukan kakaknya. Ani  memperhatikan wajah kakaknya  yang sudah sembab dan mata memerah karena


menangis lalu dia tersenyum kepada kakaknya.


“Sekarang kakak, tarik


nafasnya dalam- dalam, kemudian  hembuskan  perlahan- lahan ya biar


kakak reflex dulu ya. Gak boleh nangis terus ya kakak.”


Dirtan mengikuti arah


adiknya itu menarik nafas perlahan- lahan  kemudian dihembuskan perlahan- lahan , dan


terus dilakukan sebanyak  sepuluh kali. Hingga


terasa sedikit lebih tenang dan relax.


“Bagaimana rasanya


kakak, apa sudah mendingan?” tanya Ani kepada kakaknya.


“Sudah lumayan tenang


“Begitu dong, sekarang


sudah relax dan tenangnya. Senyum dong  masa datar begitu aja wajahnya,” ujar Ani


sambil menggoda sang kakak.


“Ini lihat lah aku


tersenyum,” kata Dirtan sambil tersenyum kepada adiknya itu.


“Nah begitu dong,


terlihat lebih ganteng, gak burik kali kayak tadi,”  kata Ani sambil mengejek kakaknya itu.


Dirtan hanya bisa


tertawa dengan hal itu sebab adiknya itu telah menghibur dirinya saat ini.


“Nah sekarang mari kita


duduk dulu kakak, emang gak capek apa  dari tadi berdiri mulu,”


Ani menggandeng


tangan  kakaknya itu  untuk duduk sopa.

__ADS_1


“Kak, sekarang


kakak  harus pergi healing dulu untuk


menghibur hati kakak ya. Jangan pikirkan lagi wanita itu, coba lepaskan dia


perlahan- lahan kak. Karena itu gak cocok untuk kakak  aku yang ganteng ini. akan ada waktunya dan


ada juga akan lebih baik dari dia datang kepada kakak nanti. Sekarang jangan


sedih  lagi ya. Kalau kakak masih butuh


aku untuk menangis aku akan selalu ada untuk kakak. Tapi aku mohon kepada


kakak  jangan sampai melakukan hal yang


fatal. Karena aku cuman punya kakak lagi di dunia ini. Jika gak ada kakak


kepada siapa lagi aku  akan mengadu


kak.”


Dirtan menatap adiknya


itu dengan penuh kasih sayang , lalu memeluk adiknya itu


“Kakak gak bakal


melakukan hal itu sayang, kakak akan fokus saja saat ini sama impian


kakak,  jika nanti kakak gak ada siapa


lagi yang akan menjaga adik kakaknya ini.”


 Sedangkan dibelakang mereka Dirga menatap


kedua  kakak beradik itu dengan geleng –


geleng kepala saja, dan membiarkan dua orang itu bersama. Namun dia  juga ikut nimbrung saat sudah membahasa tidak


ada yang akan menjaga istrinya itu.


“Siapa bilang jika kamu


tidak ada, tidak ada menjaga  istriku.


Aku akan menjaga istriku,” kata Dirga tegas lalu memisahkan adik kakak itu yang


sedang berpelukan.


“Enak saja peluk –


peluk istriku,” ujarnya ketus.


“ Emang salah aku kakaknya.”


“Dia istriku, gak boleh

__ADS_1


dipeluk –peluk.”


“Ya,  mulai lagi itu jiwa cemburunya keluar.”


__ADS_2