
Dirtan datang ke rumah
adiknya dengan tergesa- gesa dirinya tak kuat lagi saat ini mau mengadu kepada siapa, saat ini dirinya sangat membutuhkan
adiknya sebagai sandaran saat rasa hancur yang diterima saat ini, dia emang
sangat sulit untuk move on dari mantan kekasihnya itu. namun apa daya dia tidak mau dengan wanita seperti itu. sesampai di rumah adiknya itu dengan bergegas
dia masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan para bodyguard yang menatapnya aneh.
“Ani sayang, kamu
dimana? Kakak datang.”
“Ani, Ani... kamu
dimana?”
Ani yang barusan keluar dari kamarnya mendengar suara
kakaknya yang sedang memanggil- manggil dengan segera dirinya turun menggunakan
lift dan menghampiri kakaknya itu
“Ada apa kakak
manggil begitu?” tanya Ani pada kakaknya
.
Dirtan yang melihat adiknya segera berlari memeluk
adiknya itu dengan erat dan dia menangis di pundak adiknya itu. Ani yang
merasakan pundaknya basah dan membiarkan
kakaknya itu menangis terlebih dahulu Ani mengangkat tangannya untuk mengusap
punggung kakaknya dengan penuh kasih sayang menenangkan sang kakaknya.
“Ani hati kakak sakit
bangat !”
“Sakit bangat sayang!”
“Kakak gak sanggup
rasanya menahannya. Tapi wanita itu tak
seperti yang kakak duga selama ini.”
Ani mendengarkan sang kakak yang saat ini
mengeluarkan isi hatinya , dengan erat
Ani memeluk sang kakak untuk memberikan semangat padanya.
__ADS_1
“Kakak, kalau mau
menangis sepuasnya silahkan, lepaskan semuanya silahkan aku akan mendengarkan
semuanya kakak. Aku akan menjadi akan sandaran untuk kakak, sekarang kakak
coba tarik nafasnya dulu perlahan –
lahan,” ujar Ani sambil merenggangkan pelukan kakaknya. Ani memperhatikan wajah kakaknya yang sudah sembab dan mata memerah karena
menangis lalu dia tersenyum kepada kakaknya.
“Sekarang kakak, tarik
nafasnya dalam- dalam, kemudian hembuskan perlahan- lahan ya biar
kakak reflex dulu ya. Gak boleh nangis terus ya kakak.”
Dirtan mengikuti arah
adiknya itu menarik nafas perlahan- lahan kemudian dihembuskan perlahan- lahan , dan
terus dilakukan sebanyak sepuluh kali. Hingga
terasa sedikit lebih tenang dan relax.
“Bagaimana rasanya
kakak, apa sudah mendingan?” tanya Ani kepada kakaknya.
“Sudah lumayan tenang
“Begitu dong, sekarang
sudah relax dan tenangnya. Senyum dong masa datar begitu aja wajahnya,” ujar Ani
sambil menggoda sang kakak.
“Ini lihat lah aku
tersenyum,” kata Dirtan sambil tersenyum kepada adiknya itu.
“Nah begitu dong,
terlihat lebih ganteng, gak burik kali kayak tadi,” kata Ani sambil mengejek kakaknya itu.
Dirtan hanya bisa
tertawa dengan hal itu sebab adiknya itu telah menghibur dirinya saat ini.
“Nah sekarang mari kita
duduk dulu kakak, emang gak capek apa dari tadi berdiri mulu,”
Ani menggandeng
tangan kakaknya itu untuk duduk sopa.
__ADS_1
“Kak, sekarang
kakak harus pergi healing dulu untuk
menghibur hati kakak ya. Jangan pikirkan lagi wanita itu, coba lepaskan dia
perlahan- lahan kak. Karena itu gak cocok untuk kakak aku yang ganteng ini. akan ada waktunya dan
ada juga akan lebih baik dari dia datang kepada kakak nanti. Sekarang jangan
sedih lagi ya. Kalau kakak masih butuh
aku untuk menangis aku akan selalu ada untuk kakak. Tapi aku mohon kepada
kakak jangan sampai melakukan hal yang
fatal. Karena aku cuman punya kakak lagi di dunia ini. Jika gak ada kakak
kepada siapa lagi aku akan mengadu
kak.”
Dirtan menatap adiknya
itu dengan penuh kasih sayang , lalu memeluk adiknya itu
“Kakak gak bakal
melakukan hal itu sayang, kakak akan fokus saja saat ini sama impian
kakak, jika nanti kakak gak ada siapa
lagi yang akan menjaga adik kakaknya ini.”
Sedangkan dibelakang mereka Dirga menatap
kedua kakak beradik itu dengan geleng –
geleng kepala saja, dan membiarkan dua orang itu bersama. Namun dia juga ikut nimbrung saat sudah membahasa tidak
ada yang akan menjaga istrinya itu.
“Siapa bilang jika kamu
tidak ada, tidak ada menjaga istriku.
Aku akan menjaga istriku,” kata Dirga tegas lalu memisahkan adik kakak itu yang
sedang berpelukan.
“Enak saja peluk –
peluk istriku,” ujarnya ketus.
“ Emang salah aku kakaknya.”
“Dia istriku, gak boleh
__ADS_1
dipeluk –peluk.”
“Ya, mulai lagi itu jiwa cemburunya keluar.”