
Pagi hari telah tiba Distan mau berangkat ke sekolah
dan begitu juga Ani yang sudah turun bersama suaminya Dirga. Mereka menuju ruang makan untuk sarapan pagi ini, Distan
duluan samapi di meja makan, hanya memperhatikan ke dua orang yang di mabuk cinta itu.
Ani yang dari tadi di peluk erat oleh suami itu hanya bisa membiarkan saja pagi- pagi suaminya itu sudah manja tak
karuan gitu, padahal dia juga harus berangkat ke sekolah lagi. Namun Ani tak
bisa apa- apa dengan kelakuan suaminya tersebut.
“Masih pagi dek, jangan nodai ini mata kakak.”
“Kamu cemburu, lagian gak ada yang marah kan. Dia sudah jadi istri
saya, jadi tak peduli di mana tempat saya.”
“Iya lah, kalau begitu lain kali tahu tempat dong ,
orang tahu bangat gue jomblo.”
“Makanya cepat cari pacar.”
‘Emang cari pacar segampang ceri bunga di pasaran.”
“Ya gak juga kakak,” saut Ani.
Akhirnya mereka berhenti ribut, dan duduk di meja
makan untuk sarapan pagi ini Distan menikmati sarapan paginya dengan tenang,
dia juga harus cepat berangkat hari ini. sedang Ani asyik menyuapi suami manja
dia yang tak karuan itu.
“Adik, kamu berangkat sama kakak?” tanya Distan.
“Baik kakak, aku berangkat sama kakak aja, mas Dirga
juga gak bisa mas dia juga harus datang pagi kak.”
“Gak bisa, kamu mas yang ngantar hari ini, mas gak
sibuk bangat hari ini kok.”
“Tapi mas, aku bisa pergi sama kakak Distan.”
“Gak! Aku gak izinkan kamu sayang, hari ini kamu
harus pergi sama mas.”
“Iya udah kalau begitu mas, biar aku berangkat sama
mas saja.”
“Kak, aku berangkat bersama mas Dirga saja kaka. Kakak
berangkat naik apa?” tanya Ani.
“Kakak udah di jemput Rendy di depan dek.”
“Kenapa gak di suruh masuk kakak Rendy kak? Kan dia
bisa ikut sarapan sama kita. Aku tahu bangat itu kakak Rendy gak bisa sarapan
pagi.
Lalu Ani berdiri menuju lemari tempat menyimpan tempat bekal dia mengambil salah satu
dari sana dengan ukuran kecil, kemudian
dia kembali ke meja makan dan memasukan bekal
ke dalam kontak tersebut kontak itu penuh dengan makan, sayuran di sana dan ada
juga buah.
__ADS_1
“Kak, bawain ini untuk kakak Rendy dia pasti belum
makan kakak.”
“Iya dik, sini biar kakak bawah kan,” ujar Distan
sambil mengambil bekal di tangan Ani itu.
“Baik kakak , sampaikan salam aku sama kakak Rendy,
bilang sarapan itu harus di habiskan ya kak.”
“Oke dik, sini kakak bawa,” lalu Distan mendekat ke Ani dan mencium pipi adiknya.
Sedangkan Dirga sudah terlihat kesal sekali melihat
istrinya begitu perhatian ke bocah tengil itu. dia harus menghukum Ani saat
ini.
“Mas kenapa sudah siapa aja?” tanya Ani.
“Mas gak nafsu makan lagi,” saut Dirga.
“Kenapa mas, jadi kesal begitu?”
“Kamu pikir aja sayang, kamu pasti tahu apa jawaban
apa yang membuat suamimu ini seperti ini.”
“Mas kesal karena aku menyiapkan bekal untuk Kak
Rendy?”
“Iya , kamu kenapa juga siapin bekal untuk dia?”
“Ya aku tahu mas, kak Rendy itu gak bisa makan pagi-
pagi begini, jadi aku selalu siapkan dia bekal.”
“Iya,( angguk- angguk Ani).
“Ini yang terakhir sayang, jangan pernah lagi kamu
seperti itu. atau kamu mau dia akan mas lenyapkan di muka bumi ini.”
“Iya mas, jangan begitu membenci kakaK Rendy mas.”
“Kamu hari
ini gak usah berangkat ke sekolah sebagai hukuman kamu bikin mas kesal. Dan sekarang
kamu harus ikut bersama mas ke kantor.”
“Tapi mas, aku gak bisa mas, besok aku akan
ujian mas.”
“Mas gak peduli sayang, yang penting hari ini kamu ikut dengan mas ke kantor!.”
“Iya mas, kalau begitu aku ganti baju dulu,” jawab
Ani dengan menurut.
Ani menaiki tangga untuk menuju kamarnya dengan
gerutu di dalam hatinya
Punya suaminya kayak begitu amat , begini gak boleh
begitu juga gak boleh. Sungguh sangat mengesalkan di pagi yang cerah dirinya
itu. dia masuk ke dalam Kamar segera mengganti bajunya, namun terlintas di
benak untuk mengerjai Dirga . dia memakai baju yang menampakkan bahunya dan paha
polos miliknya itu.
__ADS_1
Dirga yang memperhatikan istrinya yang menuruni
tangga dengan pakaian yang hampir memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya, dia
yang melihat itu saja jiwa laki- lakinya
bangkit ingin sekali dia menghabisi waktu berdua dengan istrinya saat ini juga.
Ani yang melihat sorotan tajam suaminya itu mala
tersenyum senang dia bisa membuat Dirga tak berkutik.
“Ayo mas kita berangkat ke kantor mas,” ajak Ani.
“Sayang apa kamu tak punya pakaian selain ini! kamu
tahi gak seperti itu sama saja kamu membiarkan tubuh kamu di lihat pria lain.”
“GaK kok mas, aku hanya ingin makai pakaian ini.”
“Tapi sayang lihat seluruh lekuk tubuh kamu dan terbuka begitu di lihatin orang banyak sayang, cukup mas
yang lihat. Dan itu hak mas, jadi jangan bagikan ke orang lain.”
“Pokoknya mas mau kamu ganti sekarang?”
“Gak bisa mas, keburu siang mas.”
Dirga hanya menghela nafas saja saat istrinya itu
tak mau mengganti pakaian tersebut.
Dengan cepat dia membungkuk dan mengangkat Ani menaiki tangga dan masuk ke kamar. Dirga
meletakkan Ani di atas ranjang itu, lalu dengan cepat dia menarik baju istrinya
itu hingga robek. Terlihat tubuh polos istrinya itu hanya di tutupi dengan
kalian segi tiga saja.
Dirga yang melihat menelan ludah saat itu, dia tak
bisa membiarkan begitu saja. Dia menindih istrinya itu lalu kemudian dia mulai
aksinya di atas tubuh istrinya tersebut.
Dia tak rela ada yang melihat tubuh istrinya itu.
Setelah dia menjalankannya aksinya Dirga mulai bangkit
dari atas tubuh istrinya tersebut.
“Ahhh.... mas kenapa sebanyak ini merah – merahnya si! Terus aku harus pakai baju tertutup dong hari ini,” protes Ani kepada suaminya
itu.
“Itu hukuman kamu sayang sudah tidak mau menuruti
ucapan mas sayang.”
“Kan gak gini juga mas, kan ada lain juga.”
“serius kamu mau yang lain?” tanya Dirga.
“iya,” jawab Ani yang membuat Dirga tersenyum jahil.
“Baik sayang, kalau itu yang kamu minta dengan
senang hati mas akan memberikannya sayang.”
Hingga terjadi pergulatan panas di pagi itu diantara
dua sejoli yang sedang memadu kasih.
“Sayang makasih ya, sudah menambah semangat mas
pagi-pagi ini, semoga bisa hadir di sini ya sayang ,” ujar Dirga sambil mengelus perut rata istrinya itu.
__ADS_1