
“ Apakah benar yang di bilang pria itu sayang?”
Kekasihnya itu hanya diam saat ditanya oleh Dirtan, sedangkan Dirtan yang melihat itu kembali
fokus mengendarai mobilnya walau banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan pada kekasihnya , namun
di urungkan saat melihat reaksi ke
kasihnya yang diam mungkin kekasihnya
masih shock dengan kejadian tadi yang menimpah dirinya.
Hingga akhirnya sampai di Apartemen dirinya, Dirtan membawa ke kasihnya itu
kedalam untuk beristirahat terlebih dahulu.
“Duduklah dulu,
istirahat lah aku mau bersih- bersih terlebih dahulu.”
Setelah itu Dirtan
meninggalkan kekasihnya itu Dirtan
berjalan menuju kamarnya. Dirtan menguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin
dibawah shower berusaha meredamkan rasa
amarah dalam dirinya dia tidak mau membuat ke kasihnya itu makin ketakutan,
dia harus memikirkan apa yang dilakukan selanjutnya oleh jika Seandai kenyataan itu benar. Dia baru saja merasakan kembali
rasa jatuh cinta dan berjuang demi
bersama kekasihnya itu. Dia tidak mau
lagi merasakan kesepian lagi. Selama dirinya bersama wanita itu dia sangat
menemukan kebahagian hidup selain dengan
adiknya Ani. Tapi hatinya tidak bisa
terima jika itu benar, sedangkan dirinya membutuhkan sosok wanita tersebut.
__ADS_1
Dirtan mengakhiri mandinya lalu mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu segera memakai lalu dia keluar untuk
menggunakan pakaiannya. Dirtan tidak
langsung keluar setelah selesai dia
duduk ditepi ranjang miliknya sambil
mengusap wajahnya.
Sudah cukup waktu untuk dirinya bertenang
Dirtan keluar dari kamarnya untuk menghampiri kekasihnya itu yang masih terduduk di sofa warna navy tersebut dengan kepala
ditekuk. Dirtan mendudukkan bokongnya di depan Kekasihnya itu.
“Sayang, apa kamu mau
bersih- bersih terlebih dahulu,” tawarnya dengan lembut.
“Nanti saja setelah aku pulang.”
“Baiklah kalau begitu. Apakah
mau minum sesuatu biar aku bikinkan?” tanya Dirtan.
aku sedang tidak mau apa- apa saat ini.”
“Oke tunggu sebentar,”
Dirtan pergi ke bar lalu mengambil segelas air putih kemudian dibawah kepada kekasihnya itu.
“Minum lah dulu.”
Kekasihnya itu pun
meminum air itu dengan cepat dan air dalam gelas itu tandas dalam satu tegukan saja. Kemudian dia meletakan gelas
diatas meja, kemudian dia menatap pria
didepannya itu dengan mata yang sangat sayu. Dirinya tahu jika Dirtan kekasihnya itu sedang menahan
emosinya saat ini, dia juga bingung mau menyampaikan apa kepada
__ADS_1
kekasihnya semua emang benar apa adanya.
“Sayang, maafkan aku
semua apa yang dikatakan pria itu benar,” ujarnya sambil menunduk dan memilin
tangannya takut dengan reaksi Dirtan.
Sedangkan Dirtan yang mendengarkan itu sangat terkaget dan tak bisa menahan
amarahnya saat itu.
“Terus kenapa sejak awal kamu tidak bilang padaku?”
“Aku sudah menghindari
kamu dari awal! Tapi kamu saja tetap gencar mendekatiku dan mengancam diriku.”
“Tapi ini juga diri
harus jujur dari awal padaku.”
“Emang dari awal aku
ingin sampaikan, tapi aku belum ada waktu tepat menyampaikan pada kamu dan sekarang kamu juga tahu semua.”
“Kamu tahu bagaimana
hancur hatiku saat mendengarnya!”
“Aku tahu bagaimana
rasanya, tapi tolong maafkan aku yang tidak memberi tahukan pada kamu.”
“Semua terlambat , aku
tidak bisa mempertahankan hubungan ini,
dan itu bukan aku tidak sayang dan mencintaimu, Tapi ini adalah prinsipku. Sekarang antara kamu dan aku sudah tak ada
hubungan apa- apa lagi, aku sudah maafkan atas kesalahan itu dan aku akan
menjaga aib itu. tapi tolong pergilah
__ADS_1
sekarang dari sini akan ku pesankan taksi untuk kamu. Sekarang pergilah aku
takut berubah pikiran dan melukai dirimu.”