
Ani yang melihat Doni
makin mendekat ke arah dirinya, dia mulai mundur dari hadapan Dori, semakin mundur Ani semakin maju Doni hingga
Ani terbentur ke dinding kamar itu. Ani sudah membuat jarak yang membuat dia
dan Doni untuk terjang menerjang.
“Lo mau ngapain si?!”
bentak Ani.
“Tenang dong sayang, aku
gak ngapain- ngapain kok,” ujar Doni.
“Jijik aku dengar lo
manggil gue kayak gitu.”
“Jangan dong sayang,
kamu gak boleh seperti itu... aku ini calon suami kamu nanti.”
“Idih gak sudi gue jadi
istri lo.”
“Jangan terlalu
membenci sayang, nanti kamu jatuh cinta lagi sama aku.”
“CIH... sungguh
menjijikan sekali.”
“Terserah sayang aku akan tetap cinta sama kamu, aku sudah
menunggu kamu begitu terlalu lama.”
“Terserah , gue gak
peduli dengan apa yang lo katakan.”
“Jangan manggil aku lo
lagi, tapi kita ganti ya sayang manggil aku kamu.”
“Aku gak bakal mau,
setelah aku tahu seperti ini.”
“Iya aku tidak akan memaksa dirimu kok sayang,
namun lambat laut kamu akan cinta ke
aku.”
Ani hanya diam saja apa yang di ungkapkan oleh Doni. Dia harus
__ADS_1
melawan Doni saat ini, dirinya harus melawan dia.
Doni makin mendekat ke arah ani membuat jarak
mereka semakin tak berjarak, hal itu
membuat Ani merasa risih saat tangan Doni mulai menyentuh kedua pundak Ani. Ani
sontak kaget dengan perlakuan tersebut dengan refleks dia menampar pipih Doni dengan cukup keras,
Doni tidak merasakan sakit namun dia
sedikit tersulut marah saat dia di tampar oleh seorang wanita yang di
cintainya.
“Ternyata kamu sudah
berani ya menampar diriku ?”
“Iya itu pantas buat
kamu, yang tidak sopan.”
“Ha... ha... sayang
sekali aku tidak akan terpengaruh dengan apa yang lakukan.”
“Terserah..”
Doni mulai makin
tubuhnya.
Bug.. bug..
aa.... begitu lah
erangan Doni saat perutnya di tendang dan terjatuh ke atas lantai akibat
tendangan Ani yang begitu kuat. Doni merasakan sakit pada Perutnya dengan
tendangan Ani yang lumayan cukup kuat untuk dia. Dia berusaha bangun dan melakukan niatnya untuk memiliki Ani
seutuhnya dan dengan cara itu dia tidak akan jauh lagi dengan Ani.
Dia bangkit dan mendekat ke Ani dia menarik
tangan Ani dengan ke dalam pelukannya. Dia mengeratkan pelukannya di tubuh Ani.
“Lepaskan Doni !”
“Gak, aku tidak akan
melepaskan kamu Ani.”
“Lepasin gue, atau lo
akan habis di tangan Gue.”
__ADS_1
“Tidak sayang,” bisik
Doni di telinga Ani.
Karena geram dengan respon yang diberikan Doni
Ani tak tinggal dia saja dia berusaha
untuk lepas diri dari Doni.
“Sayang kamu tidak bisa
diam hmmm..? nanti aku bangun lo sayang,” ujar Doni yang membuat buluk leher
Ani berdiri.
“Apaan si lo, lepasin
gue, gue gak suka dengan tindakan kamu yang begini.”
“Lalu kamu mau yang
kayak bagaimana? Sampaikan dong biar aku bisa membuat posisi nyaman,” goda Ani.
Pletok.. pletok...
“Dasar sinting ,
bajingan lo. Mati aja lo sekarang.”
“Kalau aku mati , nanti
kamu sedih dong.”
“Gue gak bakal sedih,
mala gue senang lihat lo tak ada di muka bumi ini.”
“Tega sekali sayang ku
ini.”
“Hey... lo bisa
berhenti gak untuk manggil gue dengan panggilan menjijikan mu itu.”
“Apapun yang kamu
katakan aku tidak akan merah. Karena rasa cintaku tak bisa mengalahkan rasa
marahku.
“Benar- benar sinting
sekali lo.”
Ani tak sabar dengan
semuanya, dengan kesalnya Ani mendekat ke arah Doni dan menggigit telinga Doni
__ADS_1
dengan keras, tentu saja membuat dirinya terlepas dari pangkuan Doni.