MENDADAK NIKAH SAMA CEO

MENDADAK NIKAH SAMA CEO
Ditendang


__ADS_3

Ani yang melihat Doni


makin mendekat ke arah dirinya, dia mulai  mundur dari hadapan Dori, semakin mundur Ani semakin maju Doni hingga


Ani terbentur ke dinding kamar itu. Ani sudah membuat jarak yang membuat dia


dan Doni untuk terjang menerjang.


“Lo mau ngapain si?!”


bentak Ani.


“Tenang dong sayang, aku


gak ngapain- ngapain kok,” ujar Doni.


“Jijik aku dengar lo


manggil gue kayak gitu.”


“Jangan dong sayang,


kamu gak boleh seperti itu... aku ini calon suami kamu nanti.”


“Idih gak sudi gue jadi


istri lo.”


“Jangan terlalu


membenci sayang, nanti kamu jatuh cinta lagi sama aku.”


“CIH... sungguh


menjijikan sekali.”


“Terserah sayang  aku akan tetap cinta sama kamu, aku sudah


menunggu kamu begitu terlalu lama.”


“Terserah , gue gak


peduli dengan apa yang lo katakan.”


“Jangan manggil aku lo


lagi, tapi kita ganti ya sayang manggil aku kamu.”


“Aku gak bakal mau,


setelah aku tahu seperti ini.”


“Iya  aku tidak akan memaksa dirimu kok sayang,


namun lambat laut  kamu akan cinta ke


aku.”


 Ani hanya diam saja apa  yang di ungkapkan oleh Doni. Dia harus

__ADS_1


melawan Doni saat ini, dirinya harus melawan dia.


 Doni makin mendekat ke arah ani membuat jarak


mereka semakin  tak berjarak, hal itu


membuat Ani merasa risih saat tangan Doni mulai menyentuh kedua pundak Ani. Ani


sontak kaget dengan perlakuan tersebut dengan refleks  dia menampar pipih Doni dengan cukup keras,


Doni tidak merasakan sakit  namun dia


sedikit tersulut marah saat dia di tampar oleh seorang wanita yang di


cintainya.


“Ternyata kamu sudah


berani ya menampar diriku ?”


“Iya itu pantas buat


kamu, yang tidak sopan.”


“Ha... ha... sayang


sekali aku tidak akan terpengaruh dengan apa yang  lakukan.”


“Terserah..”


Doni mulai makin


tubuhnya.


Bug.. bug..


aa.... begitu lah


erangan Doni saat perutnya di tendang dan terjatuh ke atas lantai akibat


tendangan Ani yang begitu kuat. Doni merasakan sakit pada Perutnya dengan


tendangan Ani yang lumayan cukup kuat untuk  dia. Dia berusaha bangun dan melakukan niatnya untuk memiliki Ani


seutuhnya dan dengan cara itu dia tidak akan jauh lagi dengan Ani.


 Dia bangkit dan mendekat ke Ani dia menarik


tangan Ani dengan ke dalam pelukannya. Dia mengeratkan pelukannya di tubuh Ani.


“Lepaskan Doni !”


“Gak, aku tidak akan


melepaskan kamu Ani.”


“Lepasin gue, atau lo


akan habis di tangan Gue.”

__ADS_1


“Tidak sayang,” bisik


Doni di telinga Ani.


 Karena geram dengan respon yang diberikan Doni


Ani tak tinggal dia saja  dia berusaha


untuk lepas diri dari Doni.


“Sayang kamu tidak bisa


diam hmmm..? nanti aku bangun lo sayang,” ujar Doni yang membuat buluk leher


Ani berdiri.


“Apaan si lo, lepasin


gue, gue gak suka dengan tindakan kamu yang begini.”


“Lalu kamu mau yang


kayak bagaimana? Sampaikan dong biar aku bisa membuat posisi nyaman,” goda Ani.


Pletok.. pletok...


“Dasar sinting ,


bajingan lo. Mati aja lo sekarang.”


“Kalau aku mati , nanti


kamu sedih dong.”


“Gue gak bakal sedih,


mala gue senang lihat lo tak ada di muka  bumi ini.”


“Tega sekali sayang ku


ini.”


“Hey... lo bisa


berhenti gak untuk manggil gue dengan panggilan menjijikan mu itu.”


“Apapun yang kamu


katakan aku tidak akan merah. Karena rasa cintaku tak bisa mengalahkan rasa


marahku.


“Benar- benar sinting


sekali lo.”


Ani tak sabar dengan


semuanya, dengan kesalnya Ani mendekat ke arah Doni dan menggigit telinga Doni

__ADS_1


dengan keras, tentu saja membuat dirinya terlepas dari pangkuan Doni.


__ADS_2