
Selesai
makan malam sepasang suami istrinya
kembali ke rumah mereka. Setiba didepan pintu mereka sudah di nanti oleh oleh Distan yang dari tadi mondar-mandir di depan pintu.
“Kakak
kenapa mondar- mandir di depan pintu, kenapa gak masuk aja kak?” tanya Ani.
“Hii...hi...,” tawa Ani sambil menggaruk kepala yang tak
gatal.
“kamu
lama pulang si, jadi kakak nunggu di
sini saja dek.”
“Yok
kak masuk ke dalam di luar udaranya dingin,” aja Ani sambil mengandeng tangan
kakaknya dan dia bergelayut manja di tangan Distan.
Dirga
yang melihat hanya diam saja dan mengikuti dua kakak beradik itu masuk ke dalam
rumah. Ani dan Distan duduk di kursi
lalu Distan menatap adiknya itu dengan serius sekali.
“Dek
kayak mama sudah curiga dengan keberadaan kakak di rumah kamu,” bisik Distan
di telinga adiknya.
“Iya
kakak lalu kita harus gimana sekarang?” tanya Ani.
“Satu-
satu cara sekarang kakak terpaksa harus sembunyi di sini dek. Kakak takut
mereka akan menghancurkan- rumah mu itu
dek.”
“Iya
kakak, aku mengerti kakak.”
“Iya
dek, kemaren ada beberapa suruhan papa ngikutin kakak.”
“Untuk
sekarang kakak tinggal di sini dulu kakak.”
“Lalu
kak, apa mereka tahu kakak kerja di restoran?” tanya Ani.
“kakak
kemaren hampir ke tahuan sama mama kalau kakak kerja di sana. Sebab kemaren mereka
makan di restoran di mana kakak kerja.”
“Apa
mereka mengenali kakak?”
“Iya
mereka mungkin mengetahui kakak, terutama mamam, namun kakak bilang ke mereka
kalau kakak itu bukan orang yang mereka cari.”
“untuk
sementara kakak berhenti dulu kerja dulu kakak.”
“Kalau
kakak berhenti kerja mau dapat money dari mana sayang ku,” ucap Distan mengusap
kepala adiknya.
“Kakak
tenang aja, aku punya tabungan sedikit kakak bisa pakai uang itu kak.”
“Untuk
sementara kakak akan pakai uang kamu dulu dek, nanti kakak akan cari pekerjaan
setelah mama tak mencari kakak lagi.”
“Iya
kakak, sekarang kita fokus dulu aja untuk Ujian akhir kakak.”
“Iya,
saat ini kakak fokus sama ujian dulu Ani, nanti baru kakak pikirkan lagi.”
Dirga yang memperhatikan dua adik kakak
berbicara tampak serius sekali. Dia ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan
saat ini. dia ingin sekali ikut dengan pembicaraan mereka.
“Kalian
berdua sedang bicarakan apa?” tanya Dirga.
“Anu...anu
__ADS_1
mas...” jawab Ani dengan Gugup.
“Anu...anu...
apa sayang,” tanya Dirga.
“Itu
mas, Kakak Dirga mau nginap di sini dulu sampai kita selesai ujian akhir
sekolah. Sebab saat ini kakak Distan sudah lama pergi dari rumah, jadi dia gak
tinggal lagi di rumah. Dan sekarang anak buah mama, papa, sedang mencari kakak
Distan.”
“Kalau
di cari kenapa gak pulang?” tanya Dirga.
“Tidak
bisa mas, mas tahu siapa orang tuaku,” saut Distan.
“Hmmm...
lalu berapa lama kau akan tinggal di
sini?” tanya Dirga.
“Mas
kok ngomong gitu sama kakak Distan!” tegas Ani.
“Mas
gak bermaksud ngomong seperti itu sayang, kalau Distan tinggal di sini gak papa
sama mas, namun mas gak mau nanti Distan membawa ke sini Bocah tengil itu.”
“ha...ha...ha..
emang kenapa dengan kakak Rendy mas, datang ke sini?” tanya Ani.
“Sayang
kamu tahu kalau dia selalu bikin mas itu marah terus dengan tingkahnya itu.”
“Mas
aja yang kepancing sama kak Rendy.”
“Bagaimana
tidak sayang, dia selalu dekat- dekat dengan kamu.”
“mas
kak Rendy itu dia memang seperti itu dari dulu, bahkan semua pria yang dekat
denganku di sekolah aja dia kan membuat
mereka akan marah-marah dengan sikap kakak Rendy.”
“Apa
selain si curut yang kemaren?” protes
Dirga.
Aduh...batin
Ani dia sudah keceplosan ngomong lagi... ini akan ngambek lagi ini.pasti akan
berdebat lagi dengan suaminya itu.
“Mas..
itu dulu mas, sebelum aku punya suami mas,” tutur Ani menuju suaminya yang
duduk di ujung kursi sana.
“Tapi
kenyataan apa yang mas lihat waktu itu?”
ujar Dirga di samping istrinya itu.
“Mas
aku juga gak tahu juga mas, jadi jangan di bahas lagi ya.”
“Tapi
mas gak suka.”
“Iya
mas, aku juga gak dekat-dekat dengan kak Doni itu mas.”
“Jangan
kamu sebut- sebut nama dia di depan mas sayang.”
Distan
yang melihat dua orang itu yang tak mau mengalah satu cemburuan satunya friendly
ke semua laki- laki. Melihat mereka berdua berdebat Distan sebagai penonton
hanya bisa cekikikan melihat tingkah Dirga adik iparnya itu yang begitu
cemburuan sama adiknya.
Bukan
masalah dia yang selesai malah dirinya yang harus mengerti dua orang itu.
“Ini
aku nonton drama live ya,” sindir Distan.
“Diam
__ADS_1
kakak, ini juga paya bujuk dia,” balas Ani.
“Emang
siapa yang kamu bujuk,” kata Dirga dengan menautkan ke dua alisnya.
“Bujuk
mas lah, emang mau bujuk kak Rendy.”
Cup..cup...
“sekali
kamu ngomong gitu maka mas akan hukum kamu lebih dari ini sayang, mas gak akan
lihat di mana tempat nanti,” ancam Dirga.
“Wau..
ganas juga suami kamu dek, kakak gak nyangka dek,” goda Distan pada adiknya.
Ani
seketika merasa panas ke dua pipinya dengan godaan yang di lemparkan oleh
kakaknya itu. dia hanya bisa menatap kakaknya dengan tajam dan bersiap mengamuk
kakaknya itu.
“Distan
kamu lebih baik istirahat sana, sudah malam jangan menjahili istriku.”
“Iya
adik ipar aku tahu hari sudah malam, aku juga perlu di suruh juga, aku bisa
sendiri kali.”
“Kalau
bisa pergi sendiri.”
“Baik,
tapi di mana gue harus tidur ini?” tanya Distan.
“Di
kamar itu,” tunjuk Dirga.
“Kenapa
gak di kamar kamu aja dik. Kan gue bisa dengar suara....ah...uh..ah...,” ujar
Distan.
Pletak...
Ani menjitak kepala kakaknya itu yang pikirannya traveling kemana- mana.
“Kok
di jitak si dek,” protes kakaknya.
“Kakak
itu mikir apa si,” ujar Ani.
“Ya
kakak gak ngomong apa- apa kok.”
“Sudah
lah kak. Sekarang kakak istirahat besok
kita sekolah.”
“Iya
dek, kalau begitu kakak masuk dulu, selamat malam.”
“Selamat
malam kakak,” balas Ani sambil mencium pipih kakaknya.
Distan
sudah masuk ke dalam kamarnya lalu Ani melihat ke arah suaminya.
“Mas
kira- kira di kantor kamu ada lowongan pekerjaan gak mas?” tanya Ani.
“Ada
emang kenapa sayang?”
“Mas
bisa gak kakak aku kerja di sana gak? Sebab
dia kemaren kerja di restoran hampir ke tahuan sama mama dan papa dan sekarang suruhan papa lagi mencari kakak.”
“Bisa
besok kakak akan masukan dia kerja di kantor kakak sebagai asisten kakak aja
sayang, sebab mas butuh asisten yang kompeten. Jadi mas kira itu cocok untuk kakak kamu sayang.
“Serius
mas, aku senang mendengarnya. Terima kasih ya mas.”
“Iya
sayang, ayok sekarang kita istirahat besok kamu harus sekolah kan.”
“iya
mas.”
__ADS_1