
Distan yang berdiri
agak jauh dari adiknya itu, hanya bisa memperhatikan raut senang yang di pancarkan oleh adiknya itu. dia juga
ikut tersenyum saat melihat senyum indah terpancar di bibir adiknya tersebut. Tak terlepas dari penglihatan Rendy kebagian
yang di pancarkan oleh dua orang yang berharga itu. sungguh dia baru kali ini
melihat Distan tersenyum bahagia yang tulus memperhatikan adiknya yang bahagia.
Dia mengalihkan
pandangannya ke arah pantai banyak sekali orang yang berkeliaran di sana.
Hari sudah sore Ani pulang kerumahnya dengan
kakaknya yang diantar oleh Rendy. Selama
perjalanan Ani tertidur dengan nyenyak sekali dan tak ada percakapan diantara
mereka di dalam mobil.
Satu jam perjalan tiba
di rumah Rendy segera membangunkan Distan yang ikut tertidur di sampingnya itu.
“Distan bangun udah
samapi ini.”
“Iya, ini aku bangun
Rendy sabar bentar a gue pusing bangat ini.”
“Iya Distan.”
“Ani ketiduran tu, kamu
bantu dia gak Distan, kalau gak gue aja
yang bantu,”tawar Rendy.
“Yeah.. boleh si tapi lu siap gak di golek sama om- om galak no,” ujar Distan sambil melirik
keluar jendela yang sudah ada Dirga menunggu mereka.
“Wah.. sadis bangat itu
, tapi gue mau jahilin dia dulu de sebelum pulang,” tutur Rendy pada sahabatnya
itu.
“Terserah lu aja. Gue gak
tanggung jawab ya , kalau nanti lo di kejar om- om galak.”
“Tenang aja bro.”
Rendy keluar dari mobil kemudian dia membuka
pintu mobil bagian belakang dan sudah terbuka ia ingin membangunkan Ani
terlebih dahulu. Tapi sudah dia bangunkan Ani tak menyahut sama sekali.
Rendy menggendong Ani
keluar dari mobil hingga dia bisa
membawa keluar Ani keluar mobil, dan itu terlihat jelas oleh mata Dirga. Dirga sontak
berlari menghampiri bocah tengil
yang menggendong istrinya itu. sampai di
sana dia langsung ambil alih istrinya dari gendongan bocah tengil itu.
“Pelan- pelan dong om,”
protes Rendy ada Dirga.
“.....” Dirga
memandang Rendy dengan tak suka.
“Jangan seperti itu om,
nanti om cepat tua.”
“Kamu diam, ngapain
kamu gendong- gendong istri saya?” tanya Dirga dengan tegas.
“Ya saya mau ngantar
Ani kedalam la om? Emang mau ngapain lagi si om.”
“Kan ada Distan kenapa
harus kamu,” tegasnya.
“Ya dia emang ada lihat
no dia aja teler,” tunjuk Rendy pada
Distan yang sedang pura- pura tertidur lagi. Jika dia tidak membantu Rendy mala
keluar dari tadi dia.
“Lain kali saya tidak
mau melihat kamu lagi.”
__ADS_1
“Iya om gak papa gak
lihat saya, tapi tidak dengan adik kesayangan saya ini.”
“Dia bukan adik kamu.”
“Dia adik saya, dari
dulu saya juga cukup andil menjaga dia. Bahkan dari orang tua dia yang serakah.
Jadi om gak bisa larang- larang saya sama adik saya!” ketus Rendy.
“Tentu saya larang
kamu, karena dia istri saya hak saya mau melarang istri saya dengan siapa!”
ujar Dirga.
“Terserah om saja, yang
penting bagi aku jangan pernah larang saya untuk menemui adik saya.”
“TERSERAH..”
Dirga membawa istrinya
masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Rendy masuk ke dalam mobil dengan kesal
sendiri.
“Kenapa lo?” tanya
Distan.
“Kesal gue sama adik
ipar lo itu,” ketusnya.
“Kan gue sudah bilang,
lo aja si yang ngeyel .”
“ iya tapi gue senang
aja kalau dia bisa jaga istrinya.”
“Iya aku juga,” saut
Distan.
“Kalau gitu gue keluar
dulu ya, ngantuk berat gue.”
“Iya, gue juga mau
pulang lagi.”
mobil menuju rumah begitu juga dengan Rendy yang sudah meninggalkan pekarangan
rumah Dirga.
Distan sampai di dalam
kamar langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang empuk dia melanjutkan tidurnya yang terganggu
tadi. Sedangkan Dirga meletakkan tubuh
istrinya itu di atas ranjang dengan perlahan di ikuti dirinya berbaring di
samping istrinya tersebut.
Dirga memeluk erat
tubuh istrinya itu, kemudian dia juga ikut terlelap saat itu dan ia masih setia
untuk memeluk tubuh istrinya.
Rendy yang telah sampai
di rumah dia segera memarkirkan mobilnya di garasi, kemudian dia masuk ke dalan
rumah saat masuk ternyata ada kedua orang sedang bersantai di ruang keluarga.
“Papa,Mama, sudah
pulang kerja?” tanya Rendy.
“Iya Rendy, kamu kok kayak kesal gitu pulang- pulang?”
tanya Mama Rendy.
“Iya Ma, kesal aja sama
om-om galak itu. masa aku gak boleh
ketemu adik aku itu?” ujar Rendy kesal.
“ow.. ternyata itu ,
kamu juga si kayak karet bangat sama si Ani. Udah tahu suaminya dia itu kayak
gitu.”
“Iya si ma, tapi gak
juga gitu kali ma. Masa dikit aja dia marah.”
“Kamu akan merasakan
hal yang sama juga nanti jika kamu punya wanita yang bisa kamu jaga hatinya.”
__ADS_1
“iya mamaku.”
“ gitu nak, makanya
cari dong pacar sana. Biar gak ngajak istri orang terus.”
“ gak semudah itu ma ,
untuk cari pacar ma.”
‘ atau mama bantu
cariin ni?” tanya mamanya.
“Ma,Pa, kalau begitu
aku masuk ke dalam kamar ya ma.”
“Iya nak.”
Rendy sampai di dalam
kamar langsung melemparkan tasnya ke atas sofa itu. dan dia menatap segala
ruangan tersebut kemudian ia menatap foto Ani yang di pajang besar di kamarnya
itu.
“Ani kenapa segitu
posesif bangat suami kamu itu! aku jadi kesal bangat lihatnya,” gerutu Rendy
kesal dia sendiri.
Rendy bangun dari
tempat duduknya , lalu kemudian dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan
dirinya. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan segera menuju shower untuk menyiram
tubuhnya dengan air.
Tak lama kemudian Rendy selesai mandi, ia keluar
dengan pakaian santai di rumah dia berjalan menuju meja belajarnya untuk belajar
terlebih dahulu.
Ani merasakan tubuhnya
berat ia mengilat dan membuka matanya saat itu, dia merasakan tangan besar
milik suaminya itu bertengger di perutnya. Dia berbalik ke samping
memperhatikan wajah suaminya itu sudah
mulai di tumbuhi rambut- rambut halus di dagunya.
Ani menarik- narik
rambut halus itu hingga mengganggu tidur Dirga. Dirga yang merasa geli saat ada
tangan yang bermain- main di dagunya.ia
membuka matanya perlahan- lahan dia lihat tingkah laku istrinya itu. dia
membiarkan saja apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
“Kamu senang sayang?”
tanya dia pada istrinya yang asyik di dagunya.
Ani kaget segera
menarik tangannya saat itu juga.
“Mas sudah bangun,”
ucapnya sambil tersenyum.
“Iya mas sudah bangun,
emang kamu mau mas gak bangun.”
“Gak juga kok mas,”
saut Ani.
“Tapi mas selalu bangun
sayang, saat bersama kamu.”
“Emang gak pernah
tidur, terus tadi mas tidur atau bangun?” tanya Ani.
“Mas bangun sayang, mas
sudah bilang sama kamu, mas selalu bangun jika bersama kamu. Kamu harus
tanggung jawab dong.”
“Tangung jawab gimana
mas, mas bangun sendiri kok.”
“Bukan itu sayang, tapi
yang di bawah sana lo sayang.”
Peletak... mas ini.....
__ADS_1