MENDADAK NIKAH SAMA CEO

MENDADAK NIKAH SAMA CEO
Kesal


__ADS_3

“Bibir


mas, kenapa kok berdarah begitu?” tanya Ani pada suaminya itu.


“Ini


cuman ke bentur tadi sama dinding kok sayang,” kata Dirga sedikit bohong.


“Serius


mas. Sini mari aku obati dulu.”


Dirga


hanya menuruti saja apa yang di lakukan istrinya, sebab lelah saat ini.


walau emosi dan amarahnya sudah mulai redah namun dia masih belum bisa setenang


itu. Ani sudah selesai mengobati bibir Dirga dengan cepat.


Selesai


mengobati luka di bibir suaminya Ani mengganti seragamnya lalu dia pergi ke


dapur untuk masak makan siang, sebab dia sudah lapar sekali. Jika good food


dirinya tidak terlalu menyukai makannya cepat saji. Semua bahan yang sudah di


potong dan di iris olehnya segera di masukan ke dalam wajan yang sudah di isi


dengan minyak goreng yang sudah panas.


Setelah


beberapa menit masakan itu sudah mulai layu, Ani menambahkan dengan satu liter


satan kental ke dalam wajah itu, kemudian mengadunya sampai rata. Lalu dirinya


memberskan Dapur sambil menunggu masakan itu matang.


  20 menit kemudian masakannya sudah matang dan


segera di sajikan oleh Ani dan membawanya ke meja makan. Semua telah tersaji


Ani memanggil suaminya ke dalam kamar, saat dia membuka pintu kamar dia tak


menemukan suaminya di sana, terdengar germercik air dari sana. Ternyata suaminya


lagi mandi. Dia menuju lemari pakaian suaminya dan mempersiapkan pakaian yang


akan di pakai suaminya itu.


 Setelah siap dia menunggu suaminya di tepi


ranjang.


Klek...


bunyi pintu kamar mandi terbuka dan muncul suaminya di sana dengan pinggang di


balut handuk kecil.


Dirga


yang melihat istrinya duduk di tepi ranjang langsung menghampirinya.


“Sayang


kamu kenapa?” tanya Dirga.


“Mas


cepat dong pakai bajunya udah lapar ini, aku nungguin mas untuk makan,” ucap Ani


dengan menahan lapar.


“Iya


sayang bentar mas pakai baju dulu ya.”


Dirga


mengenakan pakaian yang di sedia istrinya tersebut. Dia tidak mau istrinya


menunggu lama lagi.


Sekarang


mereka sudah di meja makan menikmati makan siang yang sudah terlambat dengan


beberapa hal yang menumbuhkan kesalahan pahaman.


Saat


mereka makan tiba- tiba  ada yang masuk


bagaikan tak di undang siapa lagi yang berani seperti itu kalau bukan Distan


serta dengan teman- temannya. Mereka langsung menyelonong ke meja makan karena


sudah kelaparan.


“Ani


kami ikut makan, kami sangat lapar sekali,” ujar Distan yang sudah duduk di


samping Ani dan di ikuti juga dengan Aldo, Rendy.


“Iya


kak, silahkan dimakan .”


Dirga


yang melihat hanya bisa memancarkan tatapan tajam saja namun tak di hiraukan

__ADS_1


oleh tiga pria itu.


Ani


sudah selesai makan dan yang lain masih menikmati makannya lalu Rendy melihat


ke Ani sebentar lalu “ Ani sayang apa benar  Doni nembak  kamu tadi di sekolah?” tanya distan antusias.


Deg...


“Hmmm...


iya kak Rendy,” jawab Ani  ragu takut


suaminya marah.


“Terus  kamu terima dia tau gak?” tanya Rendy lagi.


“Gak


kak.”


“Wah...


ternyata si Doni berani juga ya selam tiga tahun menyimpan rasa sama kesayangan


aku ini, baru di ungkapinnya. Tapi sayang yang di kejar malah sudah ada yang


punya.”


“maksud


kamu apa  bro?” saut Aldo.


“No!


Lo gak lihat ada mata singa lagi berapi- api dari tadi  lihatin gue, habis ini mungkin gue di usir


secara tak hormat,” bisik Rendy di telingah Aldo.


Aldo


sontak melihat kemana arah bicara Rendy dan benar mata itu menatap tajam


bagaikan pedang ke arah mereka.


“Ani


kak Aldo, izin pamit ya karena ada urusan mendadak ini,” ujar pelan pada Ani.


“Kak


Rendy juga ada urusan sayang, kamu gak takut nanti kami di amuk om galak,”


bisik mereka.


Ani


juga memperhatikan suaminya  yang lagi


pergi. Sedangkan Distan yang asik makan tidak tahu apa yang sedang terjadi,


karena dirinya sangat lapar sekali.


Dia


ingin memanggil Aldo, tapi yang di panggil sudah tidak ada.


“Ani


yang lain kemana?” tanya dia sama adiknya itu.


“Udah


pulang kak,” jawab Ani.


“Kok


kakak di tinggal mereka,” protes Distan.


“Kakak


lihat kesamping,” bisik Ani pada kakaknya.


“Kenapa


dengan suami kamu dek?”


“karena


mereka berdua bahas si Doni nembak aku kak.”


“Jadi


suami kamu tahu itu? kata Distan.


“Iya


kak. Tadi juga Mas Dirga salah paham sama aku,tapi sekarang gak lagi.”


“Kakak


yakin habis ini suami kamu akan mengamuk lagi, lihat wajah dia aja nahan


marah.”


“Iya


kak, makanya aku dari tadi udah wanti- wanti, untung kak Aldo sama Rendy udah


pergi. Kalau gak habis sudah mereka sama suami aku.”


“Kak


jadi takut lihat suamimu dek.”

__ADS_1


“Ngapain


juga takut sama dia kakak.”


“Takut


lihat mata dia udah kayak pedang simurai dek.” Begitulah bisik – bisik mereka


berdua beradik, tentu saja gak lepas dari penglihatan Dirga.


Ani


yang mendengar ucapan kakaknya sontak tertawa terbahak- bahak dan itu makin  jadi sorotan oleh Dirga.


“Distan


apa yang kalian bicarakan?” tanya Dirga dengan tegas.


“Gak


ada kok, hanya cerita lucu aja, teman aku di hukum sama gurunya, makanya adikku


tertawa,” tutur Dirga berbohong.


“kalian


mau bohongin saya ha!”


“Gak


ko, serius kita gak bohong kok,” balas Distan.


“Kalian


pasti bahas bocah ingusan yang beraninya menyatakan cinta pada istriku kan?”


selidik Dirga.


“Gak


kok, tanya aja sama istrimu ini.”


“Benarkan


sayang, kamu gak bohong kan sama suami kamu sendiri.”


“Iya


mas,” jawab Ani cepat.


“Distan


lain kali jangan kau bawah bocah tengil yang tadi kesini lagi!” titah Dirga.


“Kenapa


dengan dia?” tanya DISTAN.


“Dia


selalu bikin aku naik darah.”


“Mas


hipertensi terus nanti cepat tua lo.”


“Gimana


gak hipertensi jika istrinya di godain terus sama bocah ingusan,” balas Dirga.


“Mas


ini jangan kayak gitu kali sama Kak Rendy, dia itu hanya jahilin mas aja.”


“Jahilin


di mana tiap ke temu dia selalu saja merusak mood mas sayang.”


“Waduh...


kalau begitu mas aja yang ngomong ama dia nanti, kalau dia datang lagi.”


“mas


gak mau bicara sama dia, yang ada malah mood mas hancur.”


Ani


yang gak tahu harus ngapain lagi sama suaminya itu. distan melihat situasi yang


mulai buruk segera beranjak pergi.


“Dek


kak pergi dulu ya.”


“Iya


kak, nanti telponan ya.”


“Oke


nanti kakak telpon sama si curut- curut itu.”


Distan


sudah pergi dari rumah Ani tinggal hanya Ani dan suaminya. Ani melirik ke arah


suaminya yang tak bersahabat kayaknya saat ini.


“Mas


kenapa wajahnya gitu amat si?”


“gak

__ADS_1


papa.”


__ADS_2