
“Bibir
mas, kenapa kok berdarah begitu?” tanya Ani pada suaminya itu.
“Ini
cuman ke bentur tadi sama dinding kok sayang,” kata Dirga sedikit bohong.
“Serius
mas. Sini mari aku obati dulu.”
Dirga
hanya menuruti saja apa yang di lakukan istrinya, sebab lelah saat ini.
walau emosi dan amarahnya sudah mulai redah namun dia masih belum bisa setenang
itu. Ani sudah selesai mengobati bibir Dirga dengan cepat.
Selesai
mengobati luka di bibir suaminya Ani mengganti seragamnya lalu dia pergi ke
dapur untuk masak makan siang, sebab dia sudah lapar sekali. Jika good food
dirinya tidak terlalu menyukai makannya cepat saji. Semua bahan yang sudah di
potong dan di iris olehnya segera di masukan ke dalam wajan yang sudah di isi
dengan minyak goreng yang sudah panas.
Setelah
beberapa menit masakan itu sudah mulai layu, Ani menambahkan dengan satu liter
satan kental ke dalam wajah itu, kemudian mengadunya sampai rata. Lalu dirinya
memberskan Dapur sambil menunggu masakan itu matang.
20 menit kemudian masakannya sudah matang dan
segera di sajikan oleh Ani dan membawanya ke meja makan. Semua telah tersaji
Ani memanggil suaminya ke dalam kamar, saat dia membuka pintu kamar dia tak
menemukan suaminya di sana, terdengar germercik air dari sana. Ternyata suaminya
lagi mandi. Dia menuju lemari pakaian suaminya dan mempersiapkan pakaian yang
akan di pakai suaminya itu.
Setelah siap dia menunggu suaminya di tepi
ranjang.
Klek...
bunyi pintu kamar mandi terbuka dan muncul suaminya di sana dengan pinggang di
balut handuk kecil.
Dirga
yang melihat istrinya duduk di tepi ranjang langsung menghampirinya.
“Sayang
kamu kenapa?” tanya Dirga.
“Mas
cepat dong pakai bajunya udah lapar ini, aku nungguin mas untuk makan,” ucap Ani
dengan menahan lapar.
“Iya
sayang bentar mas pakai baju dulu ya.”
Dirga
mengenakan pakaian yang di sedia istrinya tersebut. Dia tidak mau istrinya
menunggu lama lagi.
Sekarang
mereka sudah di meja makan menikmati makan siang yang sudah terlambat dengan
beberapa hal yang menumbuhkan kesalahan pahaman.
Saat
mereka makan tiba- tiba ada yang masuk
bagaikan tak di undang siapa lagi yang berani seperti itu kalau bukan Distan
serta dengan teman- temannya. Mereka langsung menyelonong ke meja makan karena
sudah kelaparan.
“Ani
kami ikut makan, kami sangat lapar sekali,” ujar Distan yang sudah duduk di
samping Ani dan di ikuti juga dengan Aldo, Rendy.
“Iya
kak, silahkan dimakan .”
Dirga
yang melihat hanya bisa memancarkan tatapan tajam saja namun tak di hiraukan
__ADS_1
oleh tiga pria itu.
Ani
sudah selesai makan dan yang lain masih menikmati makannya lalu Rendy melihat
ke Ani sebentar lalu “ Ani sayang apa benar Doni nembak kamu tadi di sekolah?” tanya distan antusias.
Deg...
“Hmmm...
iya kak Rendy,” jawab Ani ragu takut
suaminya marah.
“Terus kamu terima dia tau gak?” tanya Rendy lagi.
“Gak
kak.”
“Wah...
ternyata si Doni berani juga ya selam tiga tahun menyimpan rasa sama kesayangan
aku ini, baru di ungkapinnya. Tapi sayang yang di kejar malah sudah ada yang
punya.”
“maksud
kamu apa bro?” saut Aldo.
“No!
Lo gak lihat ada mata singa lagi berapi- api dari tadi lihatin gue, habis ini mungkin gue di usir
secara tak hormat,” bisik Rendy di telingah Aldo.
Aldo
sontak melihat kemana arah bicara Rendy dan benar mata itu menatap tajam
bagaikan pedang ke arah mereka.
“Ani
kak Aldo, izin pamit ya karena ada urusan mendadak ini,” ujar pelan pada Ani.
“Kak
Rendy juga ada urusan sayang, kamu gak takut nanti kami di amuk om galak,”
bisik mereka.
Ani
juga memperhatikan suaminya yang lagi
pergi. Sedangkan Distan yang asik makan tidak tahu apa yang sedang terjadi,
karena dirinya sangat lapar sekali.
Dia
ingin memanggil Aldo, tapi yang di panggil sudah tidak ada.
“Ani
yang lain kemana?” tanya dia sama adiknya itu.
“Udah
pulang kak,” jawab Ani.
“Kok
kakak di tinggal mereka,” protes Distan.
“Kakak
lihat kesamping,” bisik Ani pada kakaknya.
“Kenapa
dengan suami kamu dek?”
“karena
mereka berdua bahas si Doni nembak aku kak.”
“Jadi
suami kamu tahu itu? kata Distan.
“Iya
kak. Tadi juga Mas Dirga salah paham sama aku,tapi sekarang gak lagi.”
“Kakak
yakin habis ini suami kamu akan mengamuk lagi, lihat wajah dia aja nahan
marah.”
“Iya
kak, makanya aku dari tadi udah wanti- wanti, untung kak Aldo sama Rendy udah
pergi. Kalau gak habis sudah mereka sama suami aku.”
“Kak
jadi takut lihat suamimu dek.”
__ADS_1
“Ngapain
juga takut sama dia kakak.”
“Takut
lihat mata dia udah kayak pedang simurai dek.” Begitulah bisik – bisik mereka
berdua beradik, tentu saja gak lepas dari penglihatan Dirga.
Ani
yang mendengar ucapan kakaknya sontak tertawa terbahak- bahak dan itu makin jadi sorotan oleh Dirga.
“Distan
apa yang kalian bicarakan?” tanya Dirga dengan tegas.
“Gak
ada kok, hanya cerita lucu aja, teman aku di hukum sama gurunya, makanya adikku
tertawa,” tutur Dirga berbohong.
“kalian
mau bohongin saya ha!”
“Gak
ko, serius kita gak bohong kok,” balas Distan.
“Kalian
pasti bahas bocah ingusan yang beraninya menyatakan cinta pada istriku kan?”
selidik Dirga.
“Gak
kok, tanya aja sama istrimu ini.”
“Benarkan
sayang, kamu gak bohong kan sama suami kamu sendiri.”
“Iya
mas,” jawab Ani cepat.
“Distan
lain kali jangan kau bawah bocah tengil yang tadi kesini lagi!” titah Dirga.
“Kenapa
dengan dia?” tanya DISTAN.
“Dia
selalu bikin aku naik darah.”
“Mas
hipertensi terus nanti cepat tua lo.”
“Gimana
gak hipertensi jika istrinya di godain terus sama bocah ingusan,” balas Dirga.
“Mas
ini jangan kayak gitu kali sama Kak Rendy, dia itu hanya jahilin mas aja.”
“Jahilin
di mana tiap ke temu dia selalu saja merusak mood mas sayang.”
“Waduh...
kalau begitu mas aja yang ngomong ama dia nanti, kalau dia datang lagi.”
“mas
gak mau bicara sama dia, yang ada malah mood mas hancur.”
Ani
yang gak tahu harus ngapain lagi sama suaminya itu. distan melihat situasi yang
mulai buruk segera beranjak pergi.
“Dek
kak pergi dulu ya.”
“Iya
kak, nanti telponan ya.”
“Oke
nanti kakak telpon sama si curut- curut itu.”
Distan
sudah pergi dari rumah Ani tinggal hanya Ani dan suaminya. Ani melirik ke arah
suaminya yang tak bersahabat kayaknya saat ini.
“Mas
kenapa wajahnya gitu amat si?”
“gak
__ADS_1
papa.”