
Setelah Ani pulang dari Rumah Sanky dirinya
langsung menuju pulang ke rumahnya karena dari tadi suaminya sudah menghubungi
dirinya berkali- kali tapi tak satupun
telpon dari suaminya dia angkat, jika tahu dirinya pulang naik kendaraan umum,
walau tadi orang tua Sanky menyuruh dirinya untuk diantarkan oleh sanky pulang, tentu dirinya menolak dia tidak
menyukai Sanky yang menurutnya itu Arogant.
Ani
akhirnya tiba di kediamannya , lalu
dengan perlahan dirinya masuk ke dalam rumah milik suaminya tersebut , para bodyguard menjaga ketat kediaman
itu di setiap sudut mengingat Dirga adalah orang yang sangat di segini oleh
banyak oleh kalangan pebisnis. Ani
melirik kanan , kiri, supaya dirinya tak ketahuan oleh suaminya itu. Ani merasa aman dan mulai perjalan perlahan
menaiki tangga padahal ada lift yang menghubungkan dengan kamarnya, akan tetapi
di memilih menaiki tangga.
Satu..
dua.. dia berhitung setiap langkah kakinya, lalu kemudian Ani terhenti saat
pundak dirinya di tepuk oleh seseorang,dan saat itu dia menoleh kebelakang. Ani
merasa gemetaran melihat mata tajam yang sedang menatapnya saat ini, siapa lagi
kalau bukan Dirga suaminya itu.
Ani
menghilangkan rasa gugup pada dirinya lalu dengan tenang dia menghadap suaminya
itu.
“Mas,”
sapa dirinya.
“Dari
mana kamu?” tanya suami.
“He..hi...
__ADS_1
itu mas, Aku dari rumah teman.”
“Kamu
yakin dari rumah teman?” tanya Dirga mengintrogasi istrinya.
“Iya
mas,” balas Ani dengan gugup.
“Kalau
memang kamu dari rumah teman kenapa pulang pakai ngedap- ngendap begitu?”
“Gak
kok mas,”
“Apa
yang tidak Ani, kamu pikir saya gak
tahu? Kamu habis pulang dari rumah lelaki itu kan?”ujar Dirga menatap istrinya itu dengan tajam.
“Iya
mas, aku memang pulang dari rumah dia tapi aku hanya niat menolong ibunya yang
dia gangguin oleh penjahat.
“Terus
“Mas
orang itu sedang di ganggu penjahat, aku gak bisa diam saja.”
“Terus
kamu ngapain mereka ha! Atau kamu yang di
gangguin mereka.”
“Iya
aku lawan lah mas, gak mungkin aku biarkan mereka seenaknya saja.”
“Terus
kamu ada yang terluka, di pukul mereka?”
“Tidak
ada mas, aku tidak apa- apa kok, aku bisa melindungi diriku sendiri mas.”
__ADS_1
“Ya
sudah, lain kali kamu kalau mas gak jemput atau orang suruhan mas, jangan
pulang sendiri!”
“Mas,
aku itu bukan anak kecil lagi, aku sudah
bisa pulang sendiri mas. Gak perlu juga di jemput mas setiap hari mas juga
sibuk kerja mas.”
“Iya
mas, tahu itu, tapi mas sangat peduli dengan istri mas sayang.”
“Iya
mas,”
“Iya
mas gak mau istri mas terluka sedikitpun, pokoknya kamu harus mas jemput tidak
ada bantahan sayang.”
“Iya
mas,” jawab Ani.
Dalam hati Ani sangat kesal sekali dengan
suaminya itu, masa dirinya di jemput tiap hari begitu oleh suaminya sudah
kebayang bagaimana nanti dia sama teman- teman dia. Sikap posessive suaminya
itu sangat luar biasa sekali.
“Dongkol ke suami itu tidak boleh,”
“Siapa
yang dongkol,” tanya Ani.
“Siapa
lagi kalau kamu sayang,” balas Dirga.
Mas Dirga bisa baca isi hati aku, kok dia tahu
aku dongkol sama dia. Wah ini aku harus hati- hati ke depannya bisa- bisa semua
__ADS_1
yang aku pikirkan di ketahui oleh mas Dirga.