Menikah Dengan Anak Bos

Menikah Dengan Anak Bos
Bertemu Kembali


__ADS_3

Ezra kembali ke kantornya saat ia sudah menyelesaikan acara meeting nya diluar..


"Dimana istriku?"


tanya Ezra ke sekertaris barunya yaitu Nisa..


"dia di dalam tuan"


"baiklah..selesai kan tugas mu"


"baik tuan"


Ezra membuka pintu ruangan nya dan langsung disuguhi pemandangan yg menyejukan hatinya, ia melihat Dita sedang tertidur di sofa..


Ezra berjongkok agar bisa melihat wajah lelap Dita, dan pandangan nya berhenti di leher Dita lagi..luka nya sudah sedikit tertutup tapi masih membuat Ezra khawatir..


"sayang, bangun"


ucap Ezra membangunkan Dita, dan ajaib nya Dita langsung bangun padahal biasanya ia tidak bisa di bangunkan jika dengan satu panggilan saja..


"Mas udah kembali"


tanya Dita yg sambil mengucek matanya..


"iya, kamu bosan yah?"


"engk kok tadi aku ngobrol terus sama Mbak Nisa..."


"wah rupanya istri Mas mendapatkan teman, tapi lebih baik sama Nisa saja jangan lelaki lain"


"iya iya, cukup Aa Ian, Kak Romi, Kak Bayu dan juga Davit"


"Davit?"


"iya Davit, dia cuma jadi teman sehari pas aku makan somay loh Mas, inget kan waktu dirumah sakit?"


"ouh saat kita makan siang?"


"iya..tapi Mas gak tau memang nya?"


"mungkin Mas fokus sama ponsel jadi gk lihat kamu"


"ouh.."


"yaudah mau pulang sekarang apa nanti?"


"sekarang aja deh Mas.."


"yaudah ayok"


Ezra dan Dita melangkah kaki nya keluar dan bertemu dengan Nisa yg tengah berdiri..


"Nis..kamu boleh pulang kalau kerjaan nya selesai, tapi kalau belum juga lebih baik bawa pulang.."


"iya tuan.."


"Mbak, Dita pamit pulang yah.."


"yah Ta"


"kamu manggil istri saya dengan namanya?"


"anu tuan----"


"saya mengerti pasti ini karena istri saya yg meminta nya kan?"


tebak Ezra menatap Dita yg juga menatapnya..


"iya tuan.."


"panggil dia nyonya jika masih jam kerja, tapi jika diluar jam kerja atau kalian sedang berdua kau boleh memanggil namanya"


"iya tuan.."


"Mas.."


"diem"


Ezra dan Dita pergi menuju lift khusus..begitu sampai di lantai dasar, semua karyawan menunduk hormat kepadanya membuat Dita risih..

__ADS_1


...🍁...


Ezra membawa Dita kerumah sakit, bukan kerumahnya..


"kita kenapa disini Mas?"


"Mas mau periksa luka di leher kamu.."


"tapi aku gpp kok Mas"


"iya gpp tapi Mas nya yg gak baik² aja"


"kok gitu?"


"yah kalau dengan cara pengobatan kamu mah lama sembuhnya, kalau ke dokter pasti di kasih obat supaya leher kamu cepet sembuh dan Mas bisa---"


"bisa apa?"


"buat Dira lah..udah yuk masuk.."


Ezra mulai bertanya kepada resepsionist di RS itu..


"permisi Mbak, saya udah buat janji sama Dr. Yoga"


"ah iya, apa anda tuan Ezra Adi Saputra?"


"iya mbak saya"


"kalau begitu mari saya antar ke ruangan Dr. Yoga"


Suster itu mengantar Ezra sampai keruangan Dr. Yoga..


"Dokter..ini tuan Ezra sudah sampai"


Dokter itu pun mengadahkan kepalanya ke arah pintu dan menangkap sosok orang yg pernah bertemu dengan nya tempo hari yg lalu..


"Dita? benarkan Dita?"


"Davit?!"


"kalian kenal?"


"sus..silahkan pergi"


"baik.."


"silahkan duduk Tuan"


mereka segera duduk, saat Ezra akan bertanya dengan Yoga yang di yakini Davit oleh Dita, tiba² saja Davit bertanya kepada Dita..


"leher kamu kenapa Ta?"


"ini cuma luka biasa kok.."


"sini aku periksa"


Yoga berdiri dari kursinya dan menghampiri Dita..


"astaga ini luka sayatan pisau..kamu mau bunuh diri tah Ta?"


"ehem!"


"anu Vit..kenalkan ini Ezra suami ku"


"suami? kamu udah menikah?"


"jadi ini yang kamu sebut Davit sayang?"


tanya mereka bersamaan, yg membuat Dita bingung harus menjawab siapa lebih dulu..


"Mas, iya ini Davit..Davit Prayoga, dan Vit iya aku udah punya suami"


"ouh begitu, i see"


"kalau begitu kita pergi sekarang"


Ezra menarik tangan Dita hingga ia berdiri..


"Tuan, apakah anda tidak jadi meriksa keadaan Dita?"

__ADS_1


ucap Davit membuat Ezra terhenti..


"tidak jadi!"


"Mas katanya mau periksa aku?"


"gk! kita pulang aja!"


"yakin? jadi bikin Dira nya lama dong"


bisik Dita yg mampu membuat Ezra menghela nafasnya, ia langsung berbalik lagi ke hadapan Davit..


"periksa istri ku.."


"Dita..suami mu ini tidak sabaran"


"cepat lah!"


"iya tuan"


Davit mulai meriksa luka Dita dengan teliti, semua kegiatan itu tidak luput dari penglihatan Ezra..


"Luka nya sudah hampir tertutup, tapi jika kamu banyak bergerak maka luka kamu akan terbuka lagi Ta"


"hey kenapa tidak menjelaskan nya kepada ku!"


jawab Ezra tak terima..


"maaf tuan, seperti yg saya bilang tadi, jika Dita banyak bergerak maka luka nya akan kembali terbuka.."


"hmm saya sudah tau tadi, berikan obat untuk luka nya agar ia cepat pulih"


Davit menulis resep obat untuk luka Dita kepada Ezra..


"terimakasih.."


ucap Ezra lalu kembali bangkit menggengam tangan Dita, meninggalkan Davit yg terus memandang nya sampai sosok Dita menghilang di balik pintu itu..


.


.


.


.


.


.


.


dikamar Ezra disibukan dengan laptop nya sedangkan Dita ia baru saja selesai mengganti pakaian nya dan duduk di sofa yg berada di kamar Ezra..


ia membuka obat gell untuk lehernya dan mulai mengobati luka di lehernya setelah itu ia memandangi Ezra yg tengah fokus dengan laptopnya..


"kenapa?"


tanya Ezra yg masih fokus dengan laptopnya, padahal tanpa melihat Dita, Ezra sudah tau kalau Dita dari tadi memandangnya..


"mm...Tuan"


mendengar panggilan Dita membuat Ezra menutup laptopnya secara kasar lalu menatap tajam Dita..


"tuan?"


"Maaf Mas aku keceplosan, hanya saja aku masih berfikir sikap manis Mas hanya berlaku saat ada bibi..maaf Mas"


Ezra menghampiri Dita lalu membawanya duduk di ranjang nya..


"Maafin sikap Mas yg dulu..tapi sekarang Mas gak main² sama kamu, Mau ada bibi kamu atau mamah juga Mas gak perduli..Mas bakal bersikap seperti ini terus ke kamu..Mas gk bakal berubah kaya dulu sayang, jadi buang pemikiran yg gk berguna dari otak kamu..yg harus kamu tau..Mas sekarang cinta sama kamu..sangat² cinta sama kamu"


"Maaf Mas.."


"huh..sudah lah lebih baik kita istirahat..Mas besok ada meeting lagi..kita tidur yah.."


"iya.."


mereka kembali tidur dengan berpelukan..

__ADS_1


__ADS_2