Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Bertemu Camer


__ADS_3

"Assalamu alaikum warrohmatullah!!!!" Suara nyaring sang Imam menandakan bahwa berakhirnya sholat subuh. Para jamaah pun mengikutinya. Begitupun Nina dan Wati, merekapun mengikuti dzikir dan doa seusai shalat.


"Udah Nin." Tanya Wati.


"Udah mbk, yuk!"


"Sebentar, Assalamu alaikum bu Burhan!" Tiba-tiba Wati menyapa seorang ibu paruh baya.


"Waalaikum salam Nak Wati." Bu Burhan menyambut uluran tangan Wati. Dan Ninapun turut menyalami beliau.


"Siapa yang cantik ini?" Tanya Bu Burhan.


"Nina bu." Jawab Nina santun.


"Temannya Wati?"


"Iya bu, Nina ini anak baru." Wati menjawab.


"Oalah, iya. Mampir ke rumah ibu Nak?"


"Iya bu kapan-kapan, kami permisi dulu ya bu. Kasihan Nina menunggu lama." Wati pun menyudahi obrolannya dengan Bu Burhan.


"Iya Nak." Bu Burhan mengiyakan dan melirik sebentar Nina.


Kedua gadis itupun keluar dari mushola. Wati berjalan lebih dulu, kemudian di susul Nina. Sampai akhirnya di tengah perjalanan mereka terlibat percakapan.

__ADS_1


"Mbak Bu Burhan itu siapa ya?"


"Itu ibunya Mas Kevin, camer kamu." Wati mengerlingkan sebelah matanya.


"Ih, Mbak Wati, jadian aja belum udah bilang camer." Nina tersipu.


"Cie yang nggak sabar buat jadian!!!!" Wati terus meledek Nina.


"Enggak ih, Mbak Wati sih mancing mulu." Nina makin tersipu.


Mereka pun memasuki kamar, menganti baju santainya. Nina menuju dapur, tugasnya kali ini mencuci gelas piring sisa semalam yang belum tercuci. Sedangkan Wati mengelap meja dan mengisi tisu yang kosong. Atikah sendiri baru bangun tidur dan langsung membuat masalah dengan Nina.


"Eh, nggak di situ naruh gelasnya!"


"Disitu tuh, langsung di raknya." Atikah memberi arahan sambil tangannya menunjuk-nunjuk. Seolah-olah dia yang berkuasa di situ.


"Iya mbak. Tapi biar kering dulu ya."


"Jangan ngebantah ya, cepetan!! Lelet banget jadi orang!" Atikah semakin menjadi jadi. Suaranya yang menggelegar terdengar sampai di tempat Wati.


"Kenapa sih pagi-pagi bikin ribut tik?" Wati muncul dari balik pintu dapur.


"Tuh si Nina. Nyuci gelasnya nggak bener. Aku bilangin dianya malah nyemprot." Tangan Atikah nggak berhenti nunjuk-nunjuk ke Nina.


"Yang nggak bener yang mana?" Wati mulai kesal dengan Atikah.

__ADS_1


" Kan seharusnya langsung di taruh di rak, ngapain di jejer di situ."


"Hehh." Wati menghela nafas.


"Ya bener di situ Tik, supaya airnya kering dulu baru di pindah ke rak. Lagian kamu ini baru bangun tidur bikin masalah aja. Nina udah bangun dari subuh." Omel Wati panjang lebar.


" Trus aja tuh belain si udik. Ntar kamu juga ketularan udik." Sanggah Atikah.


"Aku nggak ngebela siapa-siapa Tik. Cuma kamu keterlaluan banget sama Nina."


"Oh ya, lupa aku kalau kamu gengnya si udik." Tanpa menunggu Wati menjawab Atikah langsung pergi.


"Udah Nin, terusin aja nggak usah dengerin Atikah."


"Iya mbak, maaf ya gara-gara aku mbak Wati jadi debat sama mbak Atikah."


"Nggak papa Nin, santai aja." Wati berlalu meninggalkan Nina yang sibuk menyelesaikan cuciaanya.


Wati pun kembali ke meja-meja tamu. Mengisi tisu dan tusuk gigi yang kosong. Dia juga mengganti kantong kresek sampah dengan yang baru. Setelah tampak rapi, Wati bersiap untuk mandi. Tapi sebelumnya ia menghampiri Nina dulu.


"Nin, aku mandi duluan ya!"


"Iya Mbak, ini aku juga udah mau selesai kok." Jawab Nina


Nina pun dengan cepat membereskan pekerjaannya. Dia menyimpan gelas yang kering ke dalam rak. Setelah itu dia bersiap untuk mandi, dan mengganti bajunya dengan seragam kerja.

__ADS_1


__ADS_2