
Kevin baru saja menyelesaikan laporan keuangan pendapatan restoran hari ini. Dia bersiap untuk pulang karena di rumah hanya bapak dan ibunya saja.
"Langsung pulang Mas? " Tanya Nina yang habis pulang dari supermarket.
"Iya. Beli apa itu? " Tanya Kevin seperti menanyai anak kecil.
"Cemilan. Ini buat kamu Mas. " Nina menyodorkan sekantung kresek berisi minuman kaleng dan beberapa snack.
"Buat kamu aja lah. " Tolak Kevin.
"Aku belinya banyak. Sengaja buat Mas juga. " Kata Nina sembari kekeh menyodorkan kantung kresek.
"Ok. Mskasih ya. Ya sudah aku pulang dulu. Kamu buruan istirahat. " Kata Kevin, lalu dia mematikan laptoonya.
"Ok Mas. "
Nina pun masuk ke kamarnya. Disana ternyata Wati sudah menunggunya.
"Lama banget Nin? Mana titipanku? " Tanya Wati.
"Iya maaf Mbak. Tadi di depan ketemu Mas Kevin mau pulang katanya. Jadilah kita ngobrol sebentar. " Jawab Nina.
__ADS_1
"Tumben buru-buru amat pulangnya Nin? "
"Di rumah nggak ada orang. Yang jadi pengantin baru udah di bawa suaminya. Sedangkan Hanny ada tugas PKL dari kampusnya Mbak." Kata Nina sambil meneguk minuman kalengnya.
"Oh, gitu. Nin kamu suka banget sama minuman kaleng? Bukannya kamu punya penyakit maag? " Wati mengernyitkan keningnya, heran dengan Nina yang hampir tiap hari mengkonsumsi minuman kaleng.
"Hehe, emang ada hubungannya Mbak? " Tanya Nina.
"Ya iyalah, itu kan nggak baik juga buat kesehatan kali Nin. " Nasehat Wati.
"Iya deh Mbak. Mulai besok aku kurangin minumnya. " Lanjut Nina.
Sesampainya di rumah, Kevin di sambut kedua orang tuanya. Beliu berdua tengah menikmati siaran tv disalah satu chanel swasta.
"Assalamu alaikum. " Kevin mengucapkan salam dan mendorong handle pintu.
"Waalaikum salam. Pulang cepet Vin? " Tanya Pak Burhan sembari melirik jam dinding rumahnya.
"Iya Pak. Restoran juga nggak terlalu rame. " Kata Kevin.
"Vin,,, " Kata Bu Burhan menggantung.
__ADS_1
"Iya bu. " Kevin menoleh ke ibunya.
"Kapan kamu melamar Nina? " Tanya Bu Burhan.
"Kenapa memangnya Bu? " Tanya Kevin lagi.
"Ya alangkah lebih baiknya kamu segera menikah Vin. Tuh teman SD kamu udah pada punya anak balita. " Kata Ibunya.
"Ya kan jodoh tiap orang beda-beda bu. Nggak harus cepet-cepatan. " Kevin mengelak.
"Ya itu aja saran ibu. Kalau mau di laksanakan ya silahkan. Kalau enggak ya terserah kamu Vin. " Pada akhirnya Bu Burhan menyerah menasehati Kevin.
Pak Burhan hanya diam menyimak obrolan istri dan putranya. Kevin diam saja, tidak menjawab ibunya lagi. Bu Burhan pun tampak melongos, karena jawaban Kevin selalu begitu.
"Kevin ke kamar dulu Pak Bu. " Pamit Kevin dan dia pun beranjak dari tempat duduknya.
Sedangkan Bu Burhan mengalihkan pandangannys supaya tidak bertatapan dengan Kevin. Mata yang mulai menua itu pun berkaca-kaca. Sebutir air mata menggelincir membasah i pipinya. Pak Burhan menepuk pelan bahu istrinya.
"Ayo istirahat bu. Jangan banyak fikiran. Usia kita sudah tua. Jangan di forsir untuk memikirkan anak-anak yang sudah dewasa. Biar mereka menentukan pilihannya sendiri. Kita memantau saja. Kalau memang sudah tidak bisa di toleransi baru kita tegur. " Nasihat Pak Burhan sangat bijak.
Pak Burhan pun meninggalkan istrinya yang masih termenung di ruang tamu. Beliau memasuki kamar dan merebahkan badannya. Menghela nafas sejenak dan mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian Bu Burhan pun memasuki kamarnya, menyusul sang suami untuk istirahat.
__ADS_1