
Keluarga Kevin sampai rumah sekitar jam delapan malam. Mbak Umi pun berserta yang lain langsung pulang. Tinggal Kevin dan kedua orangtuanya yang kini duduk di kursi tamu.
"Vin, kamu nggak mengabari bosmu kalau kakungnya nina meninggal. " Ujar Ibunya.
"Iya bu. Ini juga mau menelfon. " Kata Kevin.
Kevin pun beranjak dari tempat duduknya dan melakukan panggilan kepada bosnya. Tadi sepulang dari rumah Nina pas masih siang, belum sempat menghubungi bosnya.
Tut Tut Tut.
Terdengar nada sambung tapi tak kunjung di angkat. Kevin pun meletakkan ponselnya di nakas dan pergi ke toko sebentar.
"Mau kemana Vin? Udah nelfon Pak Hari? " Tanya Ibunya.
"Belum bu. Belum di angkat, ini mau ke toko. " Jawab Kevin.
"Ini Vin, nitip beliin minyak angin. " Bu Burhan menyodorkan selembar uang berwarna biru.
"Sudah pakai ini saja Bu. Simpan saja uangnya. " Kata Kevin menolak pemberian uang ibunya.
Dengan motor bututnya Kevin menyusuri jalan untuk sampai ke toko langganannya. Dia membeli sebungkus obat nyamuk bakar, satu contong rokok, dan minyak angin pesanannya.
"Tumben nggak kerja Mas Kevin?" Tanya pemilik toko.
__ADS_1
"Hari ini libur Pak Nar. " Jawab Kevin.
"Sampeyan karyawan terlama di restoran itu ya Mas? "
"Bisa dibilang begitu Pak. Sudah terlanjur nyaman belum tentu nanti kalau pindah di tempat baru bakalan senyaman ini juga Pak. "
"Bagus itu Mas. Pertahankan, jaman sekarang cari kerja itu susah. Anak saya yang baru wisuda juga cuma luntang lantung. " Pemilik toko jadi curhat.
"Iya Pak. Ini berapa total semuanya? "
"35 ribu Mas. "
Kevin membayar dengan uang pas. Lalu dia kembali ke rumah untuk mengecek ponselnya, barangkali Pak Hari menghubunginya kembali. Tapi ternyata satu pun tak ada pesan. Kevin pun memutuskan untuk menelfonnya lagi.
"Halo, Assalamu alaikum. " Baru terdengar nada sambung sudah di jawab oleh Pak Hari.
"Ada apa Mas Kevin? " Tanya Pak Hari, karna tak biasanya Kevin menelfon.
"Mau mengabarkan berita duka Mas. Mbah kakungnya Nina yang di desa tadi pagi meninggal dunia. " Kata Kevin.
"Innalillahi Wa Inna ilaihi roji'un. Sudah ta'ziah kesana Mas? "
"Sudah Mas. "
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih informasinya Mas. "
Kevin pun menutup telfonnya. Kemudian dia menyalakan sebatang rokok. Matanya sulit untuk diajak tidur. Mau menghubungi Nina juga sungkan. Takutnya nanti di rumah masih repot.
Tring,
[Mas, terimakasih atas kedatangannya. ] Pesan dari Nina.
[Iya, sama-sama Nin. Tadi aku menghubungi Pak Hari, mengabarkan kalau Mbah Kakungmu meninggal. ]
[Iya Mas. Nggak sekalian bilang kalau aku izin selama seminggu? ]
[Beliau paling juga paham Nin. Katanya besok pagi mau ta'ziah ke tempatmu. Kamu izin cuti sekalian aja. ]
[Ouh ya. Oke kalau gitu Mas. Besok malem acara tiga harian Mbah Kakung. Kalau Mas nggak keberatan datang ya? ]
[Iya aku usahain buat datang. Mengundang banyak orang Nin? ]
[Cuma bapak-bapak jamaah yasin sekitar sini Mas. ]
[Ok. Kamu cepet istirahat. ]
[Siyap Mas. Hehe. ]
__ADS_1
Kevin pun menyimpan ponselnya dan mematikan lampu kamar. Kevin yang cenderung insomnia tidak bisa kalau tidur dengan lampu menyala walau tidak begitu terang.
Nina pun juga bersiap untuk tidur, malam ini dia tidur di rumah kakeknya bersama saudara yang lain. Sedangkan Bu Ida dan Tiara pulang ke rumah karena besok Tiara akan sekolah. Bu Ida akan kembali lagi esok hari selepas Tiara berangkat, guna mempersiapkan untuk acara tiga harian Mbah Kakung suroyo.