
Pov Nina
Setelah mengganti bajuku dan mengoles make up tipis pemberian Clara, Mbak Wati datang. Dia selalu memuji penampilanku. Aku sendiri mencoba bercermin. Ternyata benar, efek dari make up ini membuat wajahku lain dari biasanya.
"Mbak kemarin aku nggak masuk yang bagian menggarnish siapa?" Tanyaku ketika kita mulai memasuki dapur.
"Ya Watilah, siapa lagi? Baru aja di kasih tanggung jawab main lepas aja." Tiba-tiba Mbak Atikah nimbrung dengan nada ngedumel dan pasti tatapan sinis.
"Aduh, maaf ya Mbak. Aku pikir bakal di gantikan temen-temen yang bagian melayani tamu." Ada rasa tak enak dalam hatiku kepada Mbak Wati.
"Nggak papa Nin, kemarin itu rame banget. Jadi yang melayani pengunjung aja masih kurang, nggak mungkin di suruh di dapur." Mbak Wati tampak tidak keberatan sama sekali.
"Dan kamu Atikah, nggak usah memojokkan Nina. Lagian yang nggatiin Nina di base nya kan aku bukan kamu!" Mbak Wati melanjutkan bicaranya.
Mbak Atikah terdiam dan melanjutkan pekerjaannya. Seperti biasa, kalau masalah debat Mbak Wati emang jagonya. Siapapun yang mengusik aku pasti dia yang tidak terima. Disinilah aku merasa punya kakak perempuan yang membela adik perempuannya.
"Teman-teman, ini nanti jam makan siang ada rombongan pariwisata yang mampir ke restoran. Sebanyak 100 orang. Mohon maaf sebelumnya karena Pak Bos sendiri baru saja mengkonfirmasi kepada saya. Kita bikin menu yang simpel yang bisa siap sebelum dzuhur. Mohon memberikan ide!" Mas Kevin memberikan pengumuman dan semua berkumpul di dapur.
__ADS_1
"Kita bikin ayam goreng aja. Lebih simpel. Ngungkep ayam nggak ada 1 jam Vin. Nanti di goreng di wajan besar." Usul Mas bayu.
"Ok, itu menu utama. Makasih Bay! Selanjutnya?"
"Capcay Mas. Kurasa itu masih masuk berdampingan dengan ayam goreng." Mbak Atikah memberikan usul. Aku akui walaupun dia sering sinis dan tidak suka denganku. Tapi etos kerjanya sangat tinggi.
"Ok. Baiklah. Kita bikin prasmanan ya. Daftar menunya Ayam goreng, capcay, urap, oseng mie. Kita juga bikin sayur sop." Mas Kevin menghela nafas sebentar lalu menatap kami satu persatu.
"Untuk ayam goreng kupercayakan ke Bayu di bantu Anggi. Capcay dan oseng mie Atikah. Urap dan lalapan wati di bantu Nina. oke?"Lanjut Mas Kevin.
"Minumannya apa mas?" Mbak Wati bertanya.
"Es teh aja. Lebih mudah. Agus sama Zidan ikut aku menata ruangannya." Lalu Mas Kevin melenggang pergi.
Karena tugas sudah di bagi, semua karyawan menyelesaikan tugasnya masing-masing. Mas bayu mulai mengungkep ayam di bantu Mbak Anggi. Mereka berdua memang kompak di basenya. Mbak Atikah pun begitu, mulai meracik bumbu. Sedangkan aku memotong lalapan dan Mbak Wati membuat bumbu urap.
"Tik, butuh bantuan nggak?" Walaupun mereka sering berdebat, kalau masalah pekerjaan tetap profesional.
__ADS_1
"Nggak Wat." Mbak Atikah memang andalan. Dalam jangka 90 menit dua masakan porsi besar sudah siap di hidangkan.
Aku pun buru-buru merebus gula untuk es teh nya dua kilo gula aku masukan kedalam panci yang mana airnya sudah mendidih. Kuaduk sebentar dan ku matikan kompornya.
"Udah selesai Nin?" Mbak Wati bertanya kepadaku.
"Udah Mbak."
"Campurkan sama air tehnya Nin." Mbak Wati memberi instruksi.
"Iya Mbak."
Nina mengambil seduhan air teh, lalu mencampurnya dengan rebusan air gula. Campuran itu di masukkan ke dalam wadah yang besar. Tinggal menambahkan es, sudah jadi es tehnya.
"Biar di situ Nin. Nanti diangkat sama anak-anak cowok." Melihatku mau mengangkat wadah besar itu Mbak Anggi mencegahnya.
"Iya Mbak." Dan aku pun meletakkan kembali wadah besar es teh tersebut.
__ADS_1