
kevin menunggu Nina cukup lama di luar. Kemungkinan Nina masih mandi dan sedikit bersolek. Teh hangat yang disuguhkan Tiara kini tinggal separo saja. Rasa teh yang tidak begitu manis tidak menghilangkan kesepatan teh itu. Sesuai dengan lidah Kevin.
"Sorry mas, lama. Kebelet ke belakang. " Kata Nina menghampiri Kevin.
"Iya nggak papa. Berangkat sekarang? " Tanya Kevin.
"Iya sekarang nggak papa, keburu sore." Nina melihat jam tangannya sudah hampir jam lima.
"Ibuk mana Nin? "
"Oh, Ibuk ikut pengajian di masjid Mas, biasanya pulang setelah shalat Isya sekalian. " Kata Nina.
"Berarti nggak bisa pamit? "
"Ibuk udah tahu kok kalau aku balik kerja. Tadi udah pamit."
"Ok deh, Ya udah ayo. "
"Ra, Mbak berangkat ya. Kamu hati-hati di rumah. Tadi ibu bilang pulang selepas Isya'. " Nina berpamitan ke Tiara.
"Iya Mbak. Mbak juga hati-hati ya. Nanti kalau udah sampai WA ya Mbak? " Kata Tiara.
"Ok. Siap! "
"Mari dek. " Ajak Kevin ke Tiara.
"Iya Mas. "
__ADS_1
Nina duduk di jok belakang Kevin. Kevin melajukan motornya pelan-pelan. Tiara pun menutup pintunya, hari sudah hampir magrib. Kata orang desa, magrib-magrib pintu harus ditutup. Karena setan keluar menjelang pergantian siang ke malam.
"Mau mampir di mana Nin?" Tanya Kevin.
"Masjid deket alun-alun aja Mas. " Kata Nina sedikit berteriak.
Kevin mengangguk dan melajukan motornya dengan cukup kencang. Sampai di masjid alon-alon tepat saat adzan magrib berkumandang. Nina dan Kevin ikur sholat berjamaah. Kemudian menikmati suasana alon-alon yang cukup ramai.
Mereka memilih duduk di kedai pinggir alon-alon. Kevin seperti biasa memesan kopi cangkir kegemarannya.
"Kamu mau apa Nin?" Tanya Kevin.
"Coklat panas aja Mas. Sama jagung bakar pakek bumbu pedas. " Kata Nina.
"Ok deh. "
"Mas, nggak cepet pulang? Rumah kamu kan masih repot? " Tanya Nina.
"Udah di beresin pihak WO Nin. Ngapain repot? " Tanya Kevin.
"Oh iya lupa aku. Kalau di desa tuh habis resepsi masih repot mas. "
"Loh, kenapa? "
"Di desa itu nggak ada WO, kebanyakan mengandalkan tetangga buat bantu-bantu. " Jelas Nina.
"Wah, berarti jiwa sosialnya tinggi ya? "
__ADS_1
"Iya Mas. Makanya di desa itu hampir semua warga saling mengenal, beda jauh sama yang di kota pokoknya. "
"Jadi pengen cepet-cepet nikah, trus tinggal di desa deh! " Canda Kevin.
"Ish, masih lama kali." Kata Nina.
"Jangan lama-lama lah Nin. Ntar keburu aku tua lo. " Kata Kevin dengan mimik sedih.
"Nggak kok. Beneran deh, kalau lagi jalan gini yah, orang nyangkanya kita seumuran loh. " Nina menghibur Kevin.
"Iya, yang bilang seumuran cuma kamu. " Kata Kevin ketus.
"Kok jadi marah sih? Ntar tambah tua beneran looo."
"Habis kamunya gitu lo." Kevin benar-benar merajuk.
"Tahun depan kita nikah deh. " Lanjut Nina.
"Pasti bohong.Ayo kita ke restoran aja Nin. " Ajak Kevin.
"Ok deh. Aku habisin dulu coklatnya. " Nina pun meneguk coklat panas yang telah menjadi dingin.
Kevin membayar makanan mereka. Karena motor di parkir masjid mereka pun berjalan menuju masjid. Kevin menggandeng tangan Nina. Nina pun dengan senang hati di gandeng Kevin.
"Pakek jaketnya Nin,."
"Iya mas. "
__ADS_1
Motor melaju menuju restoran Pak Hari. Meskipun belum tutup, nanti mereka akan melanjutkan obrolan di parkiran. Disana ada gazebo yang nyaman buat ngobrol.