Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Mengintrogasi Wati


__ADS_3

Wati tadi yang di pesan Kevin untuk menemuinya segera ke meja kasir setelah pengunjung sepi. Wati celingukan, di meja kasir tidak ada seorangpun.


"Watt!"


"Eh, Bayu ngagetin aja kamu."


"Di tungguin Kevin di parkiran."


"Loh, bukanya tadi bilang di meja kasir?"


"Nanti Atikah nguping." Bayu berbisik ke telinga Wati.


"Emang mau nanyain apa sih?"


"Biasa, pujaan hatinya." Bayu kembali berbisik dan Wati manggut-manggut.


"Udah buruan sana." Bayu sedikit mendorong tubuh Wati.


"Apaan sih. Sembarangan pegang-pegang." Wati melengos.


"Jangan galak-galak nanti aku cinta lo." Canda Bayu.


"Apa kamu bilang?" Ketus Wati melotot.


"Kaburrr!!!" Bayu lari terbirit-birit. Wati geleng kepala.


Wati berjalan cepat ke parkiran. Karena waktu luangnya hanya sebentar, takutnya Kevin mau bicara banyak.


"Maaf Mas, tadi aku ke meja kasir kamu nggak ada." Begitu di dekat Kevin Nina mengungkap keterlambatannya.


"Iya tapi tadi aku juga udah pesen ke Bayu kalau tau kamu di meja kasir aku suruh kesini."

__ADS_1


"Iya tadi juga yang ngasih tau Bayu. Ada apa Mas?" Wati bertanya.


"Nina kenapa tiba-tiba pulang?" Kevin to the point.


"Sudah Kuduga." Batin Wati.


"Nina udah jauh-jauh hari izin ke Pak Hari Mas. Rencananya setelah gajian. Tapi Pak Hari menyuruhnya pulang hari ini." Wati menjelaskan apa yang di ketahuinya.


"Oh, begitu. Kamu tau alamat rumahnya Wat?"


"Mau nyusul Mas?" Wati menyelidik.


"Iya kalau nggak balik-balik."


"Kalau cerita ke aku, nanti sore baliknya Mas. Lagian juga bawa motornya Clara. Jadi nggak mungkin cuti lama."


"Oke-oke. Ya sudah kalau begitu."


"Darimana Wat?" Tanya Anggi.


"Di introgasi sama kulkas?" Anggi melongo.


"Mas Kevin maksud loe?"


"He'em."


"Nanyain apa?" Anggi mulai kepo.


"Nanyain kepulangan Nina." Wati menjawab jujur.


"Pantes."

__ADS_1


"Pantes kenapa?" Kening Wati berkerut.


"Pantes introgasinya sembunyi-sembunyi. Pasti takut ketahuan itu." Anggi melirik ke Atikah yang tengah selfie.


"Bukan takut Mbk. Tapi menghindari orang julid." Wati terkikik.


"Yap betull." Anggi membenarkan.


****


Setelah kepergian Andre, Nina dan Bu Ida masih tetap duduk di teras. Dua gelas teh masih utuh di meja depan mereka, tidak ada yang menyentuh. Nina kelihatan melamun. Bu Ida juga tidak berani bertanya.


"Menurut Ibu aku harus gimana bu?" Setelah sekian lama akhirnya Nina buka suara.


"Ikuti kata hatimu, Nduk! Kalau memang tidak nyaman ya jangan diteruskan. Pernikahan itu kalau bisa sekali untuk selamanya, Nduk. Jadi jangan terlalu gegabah." Bu Ida menasehati seperlunya.


Ninapun menatap kosong ke depan. Pikirannya kalut kali ini, takut Andre berbuat nekat. Dia sendiri memikirkan hal terburuk yang akan dia dapat setelah putus dari Andre. Andre orangnya super nekat. Bisa saja dia menyakiti orang terdekat Nina jika dia belum bisa menerima keputusannya ini.


Tring... Begitu Nina membuka HP, banyak notifikasi pesan masuk, dari Wati, Clara, dan terutama paling banyak dari Kevin. Ada rasa sejuk di hatinya mengetahui begitu banyak pesan dari Kevin.


"Nin, semangat buat hari ini!" Dari Kevin.


"Nin, cuti kok nggak bilang dulu." Masih dari Kevin.


"Aku baru saja mengintrogasi Wati. emoticon sedih." Dari Kevin lagi. Nina mensecrol lagi hpnya. Kali ini dari Wati.


"Nin, sang pangeran galau tuh. Nggak ketemu kamu sehari aja mukanya udah di tekuk. Berasa dunia mau runtuh."


"Nin, aku baru di introgasi. Kejem banget kulkas nanyanya. Emoticon nangis."


Nina terkekeh membaca pesan Wati. Dia membayangkan wajah Kevin ketika mengintrogasi Wati. Dalam keadaan biasa aja mukanya lempeng. Apalagi ada sedikit masalah pasti lebih dingin lagi..

__ADS_1


__ADS_2