
Acara makan malam di akhiri dengan desert kolak pisang buatan Mbah Putri. Rasa manis pada pisang di campur dengan gurihnya santan membuat Nina terus menyendok kolaknya. Apalagi ada aroma daun pandan yang bikin nyaman di hidung.
"Bagaimana kabar ibumu Nin?" Tanya Bu Ningsih.
"Baik bu."
"Masih kerja?"
"Iya bu, tapi nggak seperti dulu. Sekarang paling cuma nyuci di tiga rumah tetangga. Juga nggak setiap hari bu."
"Kalau adikmu?"
"Tiara baik bu."
"Alhamdulillah."
"Ayo temenin Ibu nonton sinetron Nin. Clara mana mau. Bentar lagi masuk kandang tuh!" Bu Ningsih melirik anak semata wayangnya.
"Jangan mau Nin, ntar kamu kaya emak-emak." Kompor Clara.
"Nggak semua yang nonton sinetron emak-emak kali Ra." Bu Ningsih tidak terima.
"Tapi kebanyakan iya mamaku sayang. Termasuk mama kan emak-emak." Clara ngajak debat mamanya.
__ADS_1
"Tapi mama kan mama-mama kece."
"Ehm, sama aja."
"Iya bu, nanti Nina temenin lihat sinetron." Nina memilih mengakhiri perdebatan ibu dan anak itu.
"Nah, gitu dong. Kamu emang anak baik sayang. Kamu mau ya jadi anak ibu. Tuh Clara di tuket sama kamu." Canda Bu Ningsih sambil memeluk Nina. Clara pura-pura kesak sambil mencebikkan bibirnya.
Nina hanya terkekeh mendengar obrolan Clara dan mamanya yang selalu berdebat dan tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya, Bu Ningsih mengajak Nina ke ruang tengah dan menyalakan televisinya.
"Tuh, udah mulai." Bu Ningsih fokus sama sinetron kesayangannya. Nina menemani Bu Ningsih.
"Ini ceritanya seru banget lo Nin. Ibu kamu juga suka nonton kaya gini kan?" Bu Ningsih sangat berantusias saat bertanya.
"Iya Bu, sinetron ini udah ada sebelum aku lulus. Jadi selepas Isya' Ibuku pasti nonton ini." Nina tertawa renyah ketika mengingat betapa heboh Ibunya menonton sinetron ini. Sama persis seperti Bu Ningsih.
"Mas Kevin bu? Nina baru kenal. Belum begitu tau." Jawab Nina kikuk.
"Ya pandangan kamu sejauh ini Nin?" Bu Ningsih terus mendesak.
"Mas Kevin cukup baik bu, dia sosok leader yang top, bisa memberi contoh buat temen-temen yang lain." Papar Nina.
"Iya. Dia orang kepercayaan Papa Clara dari dulu. Anaknya tekun, teliti dan neko-neko. Tapi sayang, nasib percintaannya tidak cemerlang." Bu Ningsing terlihat sedih.
__ADS_1
"Emang kenapa bu?" Nina mulai kepo.
"Cie yang mulai respect sama Mas Kevin." Ternyata Clara menyusul mereka ke ruang keluarga. Nina tersipu.
"Nggak jadi tidur Ra?" Tanya mamanya.
"Kalian berisik sampai kamar."
"Ehm, alesan." Bu Ningsih mencebikkan bibir.
Karena di kamar sendirian bosan. Clara ikut bergabung dengan Nina dan mamanya di ruang keluarga. Mereka mengobrol banyak hal. Pak Hari pun ikut bergabung. Beliau tidak tertarik dengan sinetron. Tapi dengan kebersamaan keluarganya. Jarang-jarang mereka seperti ini.
"Besok ke restorannya bareng Clara kuliah aja Nin." Nina menoleh ke arah suara, ternyata Pak Hari yang duduk di samping Bu Ningsih dengan secangkir kopi di tangannya.
"Iya Nin, aku berangkat pagi besok." Clara juga berinisiatif nebengin Nina ke Restoran.
"Iya, aku ngikut aja deh." Jawab Nina.
"Kamu udah di base apa Nin." Tanya Pak Hari.
"Baru aja kemarin di garnish Pak." Jawab Nina sopan.
"Iya?Wah bagus itu. Baru dua minggu udah naik tingkat aja Nin." Puji Clara.
__ADS_1
"Contoh tu Nina, tandanya dia tekun Nak. Belajar dikit langsung bisa, otaknya cerdas." Bu Ningsih turut memuji.
"Siap Bu Bos." Jawab Clara dengan tangan hormat di keningnya. Sontak semua orang tertawa.