
Motor matic warna abu-abu yang di kendarai Clara melaju dengan kecepatan sedang menuju restorannya. Nina pun menikmati suasana kota. Hari masih pagi tapi lalu lintas sudah mulai macet. Kebanyakan pekerja kantoran berseragam coklat mengular dari lampu merah sejauh 500m kebelakang.
"Tiap pagi kaya gini Ra?" Tanya Nina.
"Senin pagi pasti seperti ini Nin. Kalau hari biasa ya sewajarnya." Jawab Clara terus fokus pada jalan yang dilewatinya.
"Emang kenapa kalau hari senin?" Nina penasaran.
"Hari pertama masuk kerja trus paling upacara kaya anak sekolah, jadi harus disiplin." Argumen Clara.
Nina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di depan restoran. Nina pun turun, suasana restoran masih sepi. Karyawan juga banyak yang bersih-bersih. Begitupun dengan Wati.
"Aku langsung ya Nin?"Clara masih duduk di jok motornya bersiap memutar tuas gas.
"Lha nggak mampir dulu Ra?" Tawar Nina.
"Ngapain?" Clara mengerutkan keningnya.
"Ngecek karyawan lah Ra." Nina menepuk bahu Clara.
"Karyawan papa Nin. Aku bukan bosnya." Clara tetap rendah hati.
"Ya udah aku jalan dulu Nin. Bye?" Clara melaju menuju kampusnya.
__ADS_1
"Bye Raa." Nina melambaikan tangannya. Kemudian memasuki restoran.
****
"Indira Karenina Kelana." Nina kaget nama lengkapnya disebut. Sontak ia menoleh.
"Mas Kevin." Berdebar hati Nina menyebut nama itu.
"Kok tiba-tiba cuti kenapa?" Kevin to the point.
"Nggak tiba-tiba Mas. Memang jauh-jauh hari aku udah rencanain." Nina menjelaskan
"Kok nggak bilang aku?" Nina tersentak dengan pertanyaan Kevin.
"Sorry sorry, .!" Kevin memaklumi kekagetan Nina. Diapun meralat ucapannya.
"Kevin yang yang galau Nin. Nggak ada penyemangat katanya." Agus muncul dari belakang Kevin berseloroh.
"Nggak ya." Kevin mengelak.
"Ehm, Mas Kevin, Mas Agus. Nina kebelakang dulu ya, mau ganti seragam." Nina memilih menghindar dari perdebatan mereka berdua.
"Iya Nin." jawab mereka berdua kompak.
__ADS_1
Nina masuk kamar, tidak ada siapa-siapa. Dengan segera dia mengganti bajunya. Kali ini seragam kaos kerah merah melekat di badan Nina. Dipadu padankan dengan celana jeans warna navy. Tampak begitu serasi. Tak lupa Nina menguncir ekor kuda rambutnya, menyapukan bedak di wajah dan mengoles lipstik warna pink di bibirnya. Sungguh penampilan paripurna untuk seorang Nina.
"Nina.!" Pintu di ketuk Wati.
"Ya Mbak." Krek, Nina menjawab seraya membuka pintu.
"Ya Allah Nina. Kamu cantik banget." Puji Wati
"Biasa aja Mbak."Nina tersenyum simpul.
"Cantik banget Nin, pake bedak, pake lipstik, paripurna deh." Wati terus saja mengamati Nina.
Sebelum Nina kembali ke restoran pagi tadi. Clara memberikan satu set alat make up remaja buat Nina. Nina sebenarnya menolak, tapi di paksa Clara.
"Beli baru Nin?" Wati mengamati satu set alat make up mewah di depannya.
"Enggak Mbak. Tadi di kasih Clara. Katanya beli trus nggak cocok sama kulitnya." Jujur Nina.
"Ehmz, anak sultan bebas ya Nin. Beli nggak cocok. Buang deh,!" Kelakar Wati.
"Hehe, iya Mbak. Kalau aku sendiri juga mikir-mikir buat beli ini Mbak."
"Aku juga mikir-mikir Nin."
__ADS_1
"Mbak Wati kalau mau boleh makek lo. Beneran." Tawar Nina.
"Iya deh. Aku mau parfumnya aja. Bedaknya ntar kalau aku pakek malah kaya badut. Hehe.!" Wati pun menyemprotkan parfum dengan aroma ringan ke bajunya. Begitupun dengan Nina.