Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 78


__ADS_3

Kevin sampai di rumahnya sekira pukul 14.00, sebelumnya dia mengembalikan motor Agus ke restoran dulu dan pulang dengan motornya. Dengan rasa lelah dan lapar yang mendera ia memasuki rumah dengan sedikit gontai.


"Loh, nggak kerja Vin? " Tanya Bu Burhan yang sepertinya baru pulang dari pasar.


"Nggak Bu. Tadi mengantar Nina ke desa buat jenguk Mbah Kakungnya. Dan ternyata Mbah Suroyo meninggal dunia setengah jam sebelum kedatangan Nina. " Kevin menjelaskan panjang lebar.


"Innalillahi Wa Innailaihi Roji'un. La kamu kok malah pulang? " Tanya Bu Burhan.


"Sudah di makamkan bu. Jadi aku pulang dulu, mungkin nanti ikut tahlilan. " Kata Kevin.


"Kalau begitu kita ta'ziah sekeluarga gitu gimana Vin? " Tanya Bu Burhan.


"Ya silahkan bu, tapi Kevin cuma bisa bonceng salah satu. Bapak atau ibu saja. " Jawab Kevin.

__ADS_1


"Ya nggak gitu Vin, nanti kita kesananya bareng-bareng. Coba kamu telfon Mbak Umi, bilang di suruh Ibu buat carter mobil yang isi banyak. Buat ta'ziah ke tempatnya. Indah juga harus kamu telfon, diajak sekalian aja. " Ujar Bu Burhan.


Tanpa banyak kata lagi. Kevin pun menelepon Mbak Umi. Kebetulan teman Mas Ipul ada yang punya rental mobil, jadi bisa di carter berikut sopirnya. Kevin juga menelepon Indah, dia mengabari kalau mau di ajak ta'ziah ke rumah Nina. Tanpa banyak bertanya Indah pun mengiyakan.


Ba'da Magrib mobil jenis Kijang melaju dari rumah Kevin ke Desa Sumber Makmur. Kedua orang tua Kevin, Mbak Umi dan suaminya, Suami Indah dan Kevin berada dalam mobil itu. Indah tidak ikut ta'ziah karena menjaga kedua anak Mbak Umi. Selain itu, saat ini Indah tengah mengandung. Katanya pamali kalau ikut melayat.


"Jauh banget Vin, kamu benar-benar mau menikahi gadis desa ini? " Tanya Mas Ipul ketika mobil yang di kendarai telah masuk jalan desa.


"Bener lah Mas." Jawab Kevin mantap.


"Beda desa Bu. Nggak satu rumah. " Jawab Kevin.


"Berarti kita nggak bisa mampir ke rumahnya dong? "Tanya Bu Burhan lagi.

__ADS_1


"Ya kan emang niat kita ta'ziah ke mbah kakungnya Bu. Bukan ke rumah Nina." Pak Burhan yang sedari tadi diam angkat bicara.


"Kan nggak bisa ngobrol lama Pak. Gimana sih bapak ini! " Bu Burhan melengos dengan sedikit cemberut. Kecewa karena suaminya tak pernah sependapat dengannya.


"Ya, kan bisa lain kali kalau mau ke rumah Nina Bu. " Pak Burhan berbicara dengan nada yang rendah.


"Ya takutnya nggak sempat Pak. Umur orang nggak ada yang tau. " Jawab Bu Burhan kemudian matanya berkaca-kaca.


"Loh, kok ibu jadi melow gini. Jadi bahas umur segala, Ya kita berdoa bu. Semoga bapak dan ibu panjang umur, bisa menyaksikan pernikahan putra putrinya. " Mbak Umi yang sedari tadi diam pun ikut bicara, nggak tahu kenapa ketika Bu Burhan membahas umur. Hatinya berasa pedih, seperti ada yang menganjal.


"Nggak tahu nih Um, ibumu beberapa hari ini jadi seperti itu, dikit-dikit nangis. Nanti bahas umur lagi. " Kata Pak Burhan.


"Sudah Bu, di tenang-tenangin pikirannya. Semoga bapak dan ibu sehat. Jangan di forsir jualannya. Kalau sudah capek ya pulang istirahat bu. " Mas Ipul memberi nasehat bijak.

__ADS_1


Bu Burhan menganggukkan kepala sambil menyeka air matanya. Kini suasana mobil hening, karena mobil sudah memasuki pelataran rumah Mbah Kakungnya Nina. Di sana juga terdapat bapak-bapak yang mau ikut tahlilan. Kevin sekeluarga turun dan di sambut oleh Pakdhe Bandi.


__ADS_2