Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Keharmonisan di Keluarga Clara


__ADS_3

Setelah membaca berulang-ulang pesan dari Wati Nina pun mengetikkan pesannya.


"Hemzzz, iya ini tadi Mas Kevin juga kirim pesan Mbk, hehe."


Tring... Notifikasi di Hp Wati. Karena jam kerja Wati tidak membuka Hpnya. Dia fokus di base nya. Ninapun juga membalas pesan dari Kevin. Centang 2 tapi tidak biru, tandanya belum dibaca. Nina melihat jam, pukul 2 siang. Diapun berniat istirahat sebentar sebelum kembali ke kota lagi.


****


"Bu, Nina kembali kerja lagi ya?" Ba'da Ashar Nina berpamitan ke Bu Ida.


"Nggak balik besok aja mbak?" Tiara menimpali.


"Besok takutnya nggak keburu dik, trus kalau jalanan macet juga lama di jalannya."


"Ya sudah, kamu kalau balik sekarang hati-hati Nin." Nina pun menyalami tangan ibunya. Juga ke Tiara.


"Ini sambel pecelnya. Nanti kalau mau di pakek lauk tinggal seduh." Bu Ida membekali Nina satu kotak sambal pecel.


"Iya bu. Nina berangkat ya!"


Bu Ida mengantar keberangkatan Nina sampai teras rumah. Sampai motor itu menghilang di belokan jalan beliau dan Tiara baru memasuki rumahnya. Nina mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Perkiraannya kalau tidak macet, sebelum magrib dia sudah tiba di kediaman Clara.

__ADS_1


Sesuai perkiraan, bedug berkumandang Nina memasuki gerbang rumah Pak Hari. Tampak Clara menyambut kedatangan Nina. Dia ikut lega, Nina datang sebelum hari gelap.


"Ngapain pakek di sambut segala Ra?" Tanya Nina begitu memarkirkan motor dan melepas helmnya.


"Idih, PD. Aku mikirin tuh motor yang kamu bawa. Takutnya nggak balik." Canda Clara merangkul pundak Nina mengajaknya masuk rumah.


"Ya kamu datang aja kerumahku. Minta ganti rugi."


"Canda kali Nin. Hehe."


Dua gadis itu pun berjalan ke dalam rumah. Nina memasuki kamar Clara. Mereka berdua sholat magrib berjamaah.


"Nginep sini aja Nin. Besok baru balik restauran." Tawar Clara.


"Aduh, nggak usah gitu Nin. Kita kan sahabat. Eh, lebih dari itu ya. Hehe." Clara terkekeh.


Tak Lama kemudian....


"Ra, Nin, Ayo makan malam dulu, udah di tunggu Mbah Kakung." Terdengar suara mamanya Clara memanggil mereka berdua.


"Iya ma." Clara menjawab terlebih dahulu.

__ADS_1


Meja makan itu terletak di belakang ruang tamu. Di sekat dengan ornamen kerang yang di gantung. Ornamen orang kaya pada zamanya. Terdapat delapan kursi memutar. Disana sudah ada Mbah Kakung, Mbh Putri, Pak Hari, dan Bu Ningsih(Bu Hari). Nina pun menyalami Mbah Kakung dan Mbah Putri, serta kedua orang tua Clara. Dan memilih duduk di samping Clara.


"Loh, kok sudah balik kesini Nin?" Mbah Kakung memulai pembicaraan.


"Iya Kung. Besok sudah mulai kerja."


"Iya, ya. Ya sudah mari makan."


Mbah Kakung mengakhiri pembicaraan. Semua makan dalam diam. Nina terpana dengan hidangan di rumah Clara. Semua termasuk lauk mewah untuknya. Sampai-sampai dia terbengong.


"Ayok Nin, ambil lauknya Nak, kok malah bengong?" Bu Ningsih yang mengetahui Nina hanya terbengong akhirnya membuyarkan lamunan Nina.


"Eh, iya bu." Nina masih tidak bergeming.


"Kenapa Nin?" Clara ikut bersuara.


"Semua makanan ini asing dan terlalu mewah bagiku Ra." Jawab Nina jujur.


"Hahaha,.." Semua orang tertawa melihat kepolosan Nina. Termasuk Mbah Kakung dan Mbah Putri. Yang mulai menyuap nasi sampai terbatuk-batuk. Sedangkan Nina cengengesan.


"Ya ampun Nin! Ya udah Nin kamu yang bisa makan yang mana?" Ujar Bu Ningsih.

__ADS_1


"Apa aja bu."


Akhirnya Bu Ningsing mengambilkan Nasi dan lauk pauk yang sekiranya Nina bisa makan. Pak Hari hanya senyum-senyum dengan kepolosan Nina. Gadis seumuran anaknya sudah bisa kerja dan memikirkan keluarga. Ada rasa kasihan di hatinya. Begitupun dengan Bu Ningsih, menatap Nina makan dengan lahapbdi samping anaknya. Setitik cairan bening menetes di pipinya.


__ADS_2