
Sirene ambulan meraung-raung memasuki area halaman rumah Pak Burhan. Suasana duka sangat kentara. Warga berkumpul di rumah duka. Mbak Umi menyambut kedatangan jenazah ibunya dengan linangan air mata. Begitupun dengan Hanny dan Indah. Bahkan Hanny sempat pingsan karena saking shocknya.
Kevin pun turun dari motornya ikut membopong jenazah sang Ibu. Semua tetangga bahu membahu untuk membantu pemulasaraan jenazah. Hanny sudah kelihatan tegar ketika di tenangkan salah satu kerabatnya.
"Sabar ya Han. Jangan menangis lagi, kasihan ibumu. " Salah satu kerabat memeluk Hanny yang masih tersedu.
Mbak Umi menghampiri Kevin yang tengah berdiri dengan tatapan gamang menahan tangis. Indah ikut mempersiapkan pemulasaraan ibunya dengan warga yang lain. Sedangkan Pak Burhan di dudukkan di kursi oleh Mas Ipul, karena ketika turun dari motor Kevin tadi Pak Burhan sedikit limbung.
"Bagaimana ceritanya ini tadi Vin? " Tanya Mbak Umi. Beliau sangat tegar saat ini.
"Motor Bu Rahma di tabrak orang ketika berbelok Mbak. Ibu terpental di helmnya terlepas. Jadi ada pendarahan di bagian kepala. Tadi katanya sempat sadar ketika di angkat ke mobil. " Kata Kevin menyeka airmatanya.
"Ya Allah, trus Bu Rahma? " Tanya Mbak Umi.
"Bu Rahma mengalami patah tulang lengan, dan giginya juga rontok Mbak. Sebagian pipinya juga luka karena kena aspal. " Jawab Kevin.
Mbak Umi meninggalkan Kevin dan bersiap untuk ikut memandikan sang Ibu. Sementara Kevin membuka ponselnya. Ternyata sedari tadi Nina menelfon dan mengirimi beberapa pesan. Kevin membukanya.
[Mas, aku denger ibu kecelakaan. Gimana keadaanya? ]
__ADS_1
[Ibu meninggal Nin. Tolong kamu kesini ya? ] Kata Kevin membalas pesan Nina. Dan memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Sementara itu Nina yang sedari tadi menunggu balasan dari Kevin dengan cepar membuka ponselnya ketika ada notifikasi pesan masuk. Nina juga shock mendengar kabar bahwa calon mertuanya telah berpulang.
"Mbak Wati, ibunya Mas Kevin meninggal. " Kata Nina kepada Wati yang kebetulan duduk di sampingnya.
"Ya Allah. apa mobil ambulan yang lewat tadi membawa jenazah ya? " Kata Bayu yang kebetulan juga mendengar perkataan Nina.
"Bisa jadi Bay. Soalnya Kevin juga baru aja membalas pesan Nina. "Kata Agus ikut menimbrung. Dan Nina mengangguk.
"Ya sudah, kita kesana nggak bisa bareng-bareng ini. Karena restoran masih buka. Tolong Agus kamu kabar i Pak Hari. Nina dan Wati mending kesana duluan. Nanti kita yang di sini menunggu keputusan Pak Hari. Enaknya gimana. Restoran di tutup dan ketempat Kevin semua atau bergantian. " Kata Bayu dengan Bijak.
Nina dan Wati pun mengganti seragam mereka. Dan berboncengan berangkat ke tempat Kevin. Sementara itu Agus berangkat ke tempatnya Pak Hari karena ponsel Pak Hari sedari tadi di hubungi tidak bisa.
Sampailah Agus di depan rumah yang paling mewah di antara para tetangganya. Setelah memarkir kendaraannya di halaman Kevin mengetuk pintu rumah Pak Hari.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok.
Pintu di buka oleh Clara. Bu Ningsih pun turut ikut di belakang Clara.
"Ada apa Mas Agus? " Tanya Bu Ningsih pada karyawannya itu.
"Ibunya Kevin meninggal Mbak? " Kata Agus to the point.
"Innalillahi Wa Innailaihi rojiun. Kok mendadak. Sakit apa Mas? " Bu Ningsih juga kaget.
"Kecelakaan Mbak. "
"Ya Allah, trus anak-anak gimana udah pada kesana? " Tanya Bu Ningsih.
"Belum Mbak. Ini kan masih jam buka restoran. " Kata Agus.
"Restoran di tutup aja Mas. Kita bareng-bareng kesana. Saya juga mau siap-siap sama Pak Hari. "
"Baik Mbak. "
__ADS_1
Setelah mendapat instruksi dari Bosnya, Agus pun kembali ke restoran untuk mengabari teman-teman yang lainnya.