
Pov Author
Sarapan pagi di kediaman Clara kali ini berasa tegang. Si Mbok telah menyiapkan sarapan majikannya di meja. Bu Ningsih lantas memanggil semua anggota keluarganya.
"Bapak ayo sarapan dulu." Ajak Bu Ningsih.
"Iya, ini bapak juga mau kesana. " Kata Mbah kakung.
Semenjak kejadian di restoran itu, Mbah Kakung menjadi lebih dingin kepada anak dan cucunya. Terutama kepada Pak Hari sang menantu yang dianggap meremehkan dan tidak menghargai dirinya sebagai orang sepuh.
"Bapak mau sarapan bareng kita nggak mah?" Kata Pak Hari ketika melihat istrinya melangkah ke meja makan. Beliau tahu kalau sang istri baru saja memanggil mertua untuk sarapan.
"Mau kayaknya Pa. Lagian bapak tu juga nggak bakalan betah kalau marahnya lama-lama. " Kata Bu Ningsih yang duduk di samping Pak Hari.
"Clara mana? " Tanya Pak Hari lagi.
"Masih pakai seragam. Sebentar lagi juga kesini. "
Suara langkah kaki dan tongkat yang terketuk di lantai berjalan ke arah meja makan. Dengan di tuntun sang istri, Mbah Kakung melangkah menuju meja makan.
"Pagi Pak. " Sapa Pak Hari ketika mertuanya sampai di meja makan.
"Pagi. " Jawab Mbah Kakung dengan ketus.
Pak Hari tersenyum menyadari mertuanya masih merajuk. Beliau pun tak mempermasalahkan itu. Clara pun datang, menjadikan formasi meja makan lengkap.
"Ayo Ra pimpin doa sebelum makan. " Kata Pak Hari.
__ADS_1
"Iya Pah. "
Clara mulai membacakan doa sebelum makan. Semua ikut menengadahkan tangan, dan mengamini doa itu ketika selesai.
"Acara kamu hari ini apa Ra? " Tanya Bu Ningsih.
"Ke kampus Mah, tapi paling agak siangan mungkin. " Kata Clara.
"Kalau gitu bantuin mamah belanja ya?" Pinta Bu Ningsih.
"Nggak sama papah aja? "
"Papah mau ada acara juga. " Sela Pak Hari.
"Ya sudah. Emang kita belanja apa mah? Perasaan baru kemarin belanja. " Tanya Clara.
"Bawa mobil? " Tanya Mbah Kakung yang sedari tadi menyimak percakapan cucu dan anaknya.
"Iya kung. Mbah kakung mau ikut?" Tanya Clara.
"Antar aku ke rumah Tangguh. " Kata Mbah Kakung pasti.
"Mau ngapain Pak? " Tanya Bu Ningsih.
"Mau meminta maaf ke orang tuanya. Gara-gara kalian Bapak gagal menjodohkan Nina dengan Tangguh. " Kata Mbah Kakung melirik sinis ke arah Pak Hari dan Bu Ningsih.
Setelah dua hari yang lalu, memang Mbah Kakung sangat kecewa dengan menantu dan anaknya. Niatnya untuk menjodohkan Tangguh, keponakannya itu dengan Nina memang seperti sengaja di gagalkan.
__ADS_1
Dan kemarin Mbah Kakung juga mendengar kalau Nina sudah di kenalkan ke keluarga besar Kevin. Otomatis kesempatannya untuk menjodohkan Nina dan Tangguh semakin menipis.
****
Nina menikmati sarapan paginya dengan Wati di dapur. Makanan yang di bawakan Ibunya Kevin cukup banyak, mereka berdua juga nggak bakalan bisa habisin semua.
"Tik, sini ikut sarapan. " Ajak Wati ramah. Meskipun sering cek cok, akan tetapi Wati masih bersikap baik.
"Makasih, lagi nggak selera makan. "
"Tumben, biasanya loe demen ama yang gratisan. " Kata Wati.
"Nggak. Kalau sama loe aja gue oke Wat. "
"Maksud loe? " Tanya Wati sambil melirik Nina, takutnya Nina tersinggung.
"Pikir aja sendiri. " Kata Atikah dan berlalu meninggalkan dapur.
Wati menatap Atikah dengan rasa tidak enak.
"Maaf ya Nin. " Kata Wati.
"Nggak apa-apa Mbak santai aja kali. " Dengan santai Nina berkata seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Kamu memang baik Nin. " Wati merangkul Nina.
Akhirnya mereka melanjutkan sarapan. Karyawan yang lain mulai berdatangan. Anggi dan Bayu bergabung dengan Nina dan Wati, mereka ikut menikmati sarapan dengan lahap.
__ADS_1