
"Udah kebelakang semua Mas?" Tanya Mbak Anggi ke Mas Kevin.
"Iya. Aku juga jadwal istirahat, nanti biar bayu yang jaga kasir sebentar." Mas Kevin pun berlalu.
"Nin, nanti malam sehabis kerja bisa nggak ngobrol sebentar?" Sebelum benar-benar berlalu dari mejanya Mas Kevin bertanya kepadaku.
"Gimana Nin?" Dia bertanya lagi karena aku malah bengong. Aku sendiri bingung, soalnya udah janjian sama Andre.
"Aku nanti ada janji sama temen Mas." Ku jawab juga akhirnya.
"Oh, cowok?" Tanyanya malas.
"Iya. Temen sekolah." Bohongku.
"Ya sudah." Mas Kevin pergi begitu saja. Entah kenapa aku merasa Mas Kevin kurang suka aku bertemu dengan Andre. Aku merasa dia cemburu, atau aku yang kePDan. Entahlah, yang jelas perasaanku begitu nyaman ketika bersama Mas Kevin. Berbeda ketika sedang bersama Andre.
"Nin kamu di garnish sama base minuman ya, Aku menggantikan Atikah di bagian masak?" Mbak Anggi membagi tugas.
"Iya Mbak." Jawabku.
****
Sehabis magrib restoran begitu ramai. Ada yang makan di tempat, ada yang di bungkus, dan lebih banyak lagi yang delivery order. Sebelum Magrib tadi porsonil sudah lengkap. Jadi seramai apapun restoran tidak begitu kalang kabut.
"Gurami bakar dua, nasi tiga, ayam goreng satu, minumnya es teh tiga." Mas Kevin membacakan pesanan pengunjung.
__ADS_1
"Siap Mas." Semua menjawab kompak.
Mbak Wati mulai meracik Es teh. Mas Agus membakar dua ekor gurami ukuran sedang. Sedangkan Mbak Anggi menggoreng sepotong ayam. Dan aku mencetak nasi lalu aku hiasi dengan bawang goreng diatasnya. Tak lupa sambal ku sendokkan di sampingnya. Kemudian Mas Agus memberikan dua ekor gurami yang sudah dibakar matang, dan aku mulai menggarnishnya. Dua menit kemudian ku letakkan di nampan bersih dan di bawa anak yang lain untuk di sajikan ke pengunjung.
Tak terasa malam itu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba jam menunjukkan pukul 21.30, semua karyawan mulai merapikan base nya. Termasuk aku, aku mulai membersihkan kulit mentimun yang berserakan dan membuangnya ke sampah, lalu ku lap mejanya sampai bersih. Nggak ada sepuluh menit semua udah selesai. Ku lihat Mbak Wati, dia masih sibuk menyabun gelas-gelas kotor.
"Sini Mbak aku bilasin." Aku mendekati Mbak Wati dan mulai membilas gelas yang telah di sabun.
"Oh iya Nin. Base mu udah bersih?" Tanya Mbak Wati.
"Udah Mbak."
Karena aku bantu, pekerjaan Mbak Wati pun cepet selesai. Gelas yang tadi nya kotor kini telah bersih dan berjejer rapi pada tempatnya.
"Ngapain malem-malem ke taman kota Nin? Disana udah sepi kali?" Mbak Wati mengernyitkan kening.
"Mau menemui seseorang Mbak." Aku berbicara setengah berbisik.
"Pacar kamu?" Mbak Wati pun ikut berbisik.
"Lebih tepatnya calon mantan." Aku tertawa.
Mbak Wati pun ikut tertawa dengan candaanku. Sampai akhirnya Mas Kevin masuk dapur dan di ikuti yang lain. Semua berjejer membentuk lingkaran, aku diapit Mbak Wati dan Mbak Anggi.
"Oke teman-temanku semua. Hari ini kita kedatangan tamu pariwisata. Dan restoran juga rame. Omset melebihi target harian, jadi kita mendapat bonus tamu pariwisata plus pendapatan yang melebihi target." Mas Kevin menjelaskan.
__ADS_1
"Jadi kita dapet berapa Mas?" Tanya salah satu karyawan.
"Per orang mendapat seratus ribu." Kata Mas Kevin sambil membagikan amplop.
"Alhamdulillah. Bisa buat ongkos pijet." Kelakar Mas Agus dan disambut tawa oleh yang lain.
"Sisa banyak Gus." Teriak Mas Bayu yang di sebrang Mas Agus.
"Ya nanti buat malem mingguan sama Hanny lah." Kelakarnya lagi.
"Macam-macam sama adik gue. Gue sikat loe." Mas Kevin tiba-tiba berkata dan menatap tajam ke arah Mas Agus.
"Ya elah Vin, kayak loe nggak pernah muda aja." Mas Agus menimpali.
"Kevin payah, nggak berani ngajak cewek kencan." Mas bayu ikut bicara.
"Makanya sampek tua nggak laku, ntar gue langkahin baru tau rasa loe." Canda Mas agus.
"Bisa nggak diem." Teriak Mbak Anggi. Sontak semua diam.
"Ini buat kamu." Mas Kevin menyodorkan amplop putih.
"Makasih mas." Kataku dengan tersenyum.
Semua telah menerima amplop. Akhirnya hari yang melelahkan berakhir. Dan bonusnya juga lumayan banyak.
__ADS_1