
Pagi hari Nina terbangun dengan mata sembab. Selain karena kurang tidur, Nina juga menangisi kepergian ibunya Kevin. Karena kebanyakan menangis akhirnya Nina tertidur. Niatan untuk mengabari ibunya tertunda.
Selesai melaksanakan shalat subuh Nina mengambil ponselnya yang dari semalam ia abaikan. Jarum jam menunjukkan angka lima pagi. Nina pun segera menghubungi ibunya, untuk mengabarkan kepergian Bu Burhan.
Tut... Tut...
Panggilan pertama tidak ada jawaban. Mungkin ibunya masih repot di dapur. Akhirnya Nina keluar dari kamarnya untuk membersihkan diri dulu.
"Kamu yang sabar ya Nin. Semoga ibunya Mas Kevin Husnul khatimah. " Kata Wati menenangkan Nina yang saat ini tengah duduk berdua dengannya.
"Iya Mbak, makasih banyak sudah menguatkan. " Kata Nina dengan wajah sendu.
"Ibumu sudah kamu hubungi Nin? " Tanya Wati.
"Belum Mbak. Tadi nggak di angkat juga nggak nelfon balik. Coba aku hubungi lagi kalau gitu. " Nina beranjak dari tempat duduknya.
Nina mengambil ponselnya yang di letakkan di nakas, ia lantas menekan tombol panggil pada nomor sang adik. Nada sambung sudah terdengar.
{Halo! }Jawaban dari sebrang.
{Halo, Ra. Ibu ada? } Tanya Nina.
{Ada Mbak. Ibu di dapur, sebentar aku panggilin.}
__ADS_1
{Halo Nin, ini ibu. Ada apa? } Tanya Bu Ida.
{Ibunya Mas Kevin meninggal Bu} Kata Nina dengan sedikit terisak.
{Innalillahi Wa Inna ilaihi roji'un. Kenapa Nin? Sakit? } Tanya Bu Ida.
{Enggak bu. Kecelakaan. }
{Ya udah, nanti ibu tak sewa mobil buat ta'ziah kesana Nin. }
{Sama siapa Bu? } Tanya Nina.
{Nanti ajak Pakdhe Bandi sama yang lain Nin}
Setelah menelpon ibunya Nina pun mempersiapkan diri untuk bekerja. Sebenarnya dia pun juga ingin segera ke rumah Kevin untuk ikut menyambut orang-orang yang ta'ziah. Tetapi hari ini banyak yang tidak masuk, termasuk Kevin. Akhirnya dia memutuskan masuk setengah hari.
Nanti setelah Ashar dia akan izin untuk ke rumah Kevin. Guna menyiapkan acara tahlilan. Walaupun rumah Kevin masuk ke lingkungan kota. Akan tetapi tradisi tahlilan masih dilaksanakan.
"Mending kamu izin sekarang nggak papa lo, Nin. Kuatin keluarga Kevin disana. " Saran Wati.
"Nggak lah Mbak, semalem udah izin. Nggak enak izin terus. Disana juga udah banyak orang Mbak. " Kata Nina.
"Ya udah. Ibu kamu udah bisa di hubungi Nin? " Tanya Wati.
__ADS_1
"Sudah Mbak. Rencananya nanti sore juga mau ta'ziah. "
"Ya sudah, kamu kesananya bareng keluarga kamu aja Nin. " Saran Wati.
"Iya Mbak. " Jawab Nina.
Seusai mengobrol dengan Wati. Nina mengganti pakaian dengan seragam kerjanya. Begitu pun dengan Wati, dia juga bersemangat kerja hari ini.
Di rumah Kevin terlihat ramai walaupun suasana masih duka. Teman sesama pedagang almarhumah Bu Burhan berdatangan untuk berta'ziah dan mendoakan almarhumah. Pak Burhan dan anak-anaknya sedikit terhibur dengan kedatangan para kerabat dan teman-temannya.
"Nina nggak kesini Vin? " Tanya Mbak Umi, ketika tamu mulai sepi.
"Paling nanti sore datangnya Mbak. Masuk kerja dulu. Restoran kekurangan orang. " Jawab Kevin.
"Ya udah. Nanti biar bantuin Mbak nyiapin acara tahlilan tiga harian Vin. "
"Nanti Nina juga datang dengan ibunya Mbak. "
"Ya sudah, nanti Mbak beli jajanan pasar buat jamuan tamu jauh. Nggak enak kalau cuma di kasih air putih Vin. "
"Iya Mbak, lagian juga sekalian buat yang tahlil nanti malam. "
Mbak Umi mengangguk dan mempersiapkan sajian buat nanti malam. Ia kakak perempuan tertua dalam keluarga itu. Jadi semua yang mengatur Mbak Umi. Indah dan Hanny belum paham tentang itu.
__ADS_1