Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 40


__ADS_3

Sore itu Pak Hari beserta anak istrinya berjalan-jalan di Mall terbesar di kotanya. Clara sangat antusias, jarang-jarang papahnya bisa mengantar ke Mall. Paling kalau jalan-jalan dia biasa dengan teman-teman kampus atau bersama mamahnya.


"Papah tunggu di mobil aja ya?" Kata Pak Hari setelah mobilnya terparkir.


"Nggak bisa. Papah harus ikut, lagian juga bukan sopir, ngapain nunggu di mobil. " Sanggah Clara.


"Iya nih, lagian ntar kalau mamah sama Clara belanja siapa yang bayarin? " Bu Ningsih ikut nimbrung.


"Kan udah bawa kartu ATM, ngapain bingung? "


"Ish, nggak bisa, papah harus ikut. " Clara mengamit tangan kedua orangtuanya dan melangkah menuju lobi mall.


Mereka bertiga terlebih dahulu menuju hypermarket di lantai satu. Jiwa belanja Bu Ningsih dan Clara meronta. Mereka menuju rak kosmetik berbagai macam merk tertata rapi di sana. Sementara Pak Hari berjalan di belakang mereka, mengikuti langkah anak dan istrinya.


Setelah semua lorong di telusuri, barang belanjaan mereka berkantong-kantong di bawa Pak Hari. Dengan senang hati Beliau membawanya. Melihat senyum anak dan istrinya rasa pegal di tangan seakan terobati.


"Pah, kita ke KFC dulu ya? " Kata Clara.


"Laper lagi Ra? " Bu Ningsih bertanya.

__ADS_1


"Iya Mah, tadi di restoran cuma makan dikit. Jadi nggak nafsu lihat mbah kakung cemberut. " Jawab Nina.


"Ya udah. Gimana Pah? " Bu Ningsih menengok kesuaminya.


"Ya udah kalian kesana dulu. Papah naruh belanjaan ini ke mobil, nanti nyusul.


"Ok deh Pah. " Clara mengacungkan dua jempolnya.


Mereka pun terpisah setelah keluar dari hypermart. Bu Ningsing dan Clara menuju stand KFC yang ada di mall itu. Sedangkan Pak Hari menuju mobil untuk menaruh barang belanjaan anak dan istrinya. Lalu menyusul kembali ke stand KFC.


****


Wati dan Yuli beriringan memasuki kamar. Hari itu restoran tutup lebih awal dari biasanya. Pukul 21.00 WIB semua karyawan selesai beres-beres. Tinggal Kevin yang masih setia di kursinya untuk menghitung penghasilan hari ini dan menyetor ke bosnya.


"Diajak Mbak. " Jawab Nina.


"Terus? "


"Sepertinya Pak Hari nggak berkenan aku ikut makan siang. Ya memang aku harus sadar diri Mbak. Aku kan cuma pekerjanya. Nggak pantes aja kalau satu meja sama bos." Kata Nina lagi.

__ADS_1


"Ehmz, menurutku Pak Hari orangnya nggak seperti itu Nin. Dulu sewaktu aku baru masuk sini setiap weekend kita diajak makan bakso, dan beliau sekeluarga se meja dengan karyawan juga oke-oke aja. " Jelas Wati


"Mungkin tahu restoran tadi lumayan rame, jadi kalau ngajakin kamu makan nanti bagian dapur keteteran gitu paling mikirnya Nin. " Lanjut Mbak Wati.


"Iya juga ya Mbak. Kok aku nggak kepikiran ke arah situ ya. " Nina ceria lagi.


"Ehmz, kebanyakan fikiran kamu Nin."


"Mikirin apa coba Mbak? Aku santai ini. " Nina mengelak.


"Yang sabar ya Nin. Mungkin Kevin kecewa, tapi aku yakin dia cueknya nggak lama. " Wati mengelus bahu Nina.


"Mbak Wati kaya peramal aja. " Nina terkekeh.


"Memang beneran kamu mikirin Kevin? Ciee, baru di cuekin sehari aja galau. " Ledek Wati.


"Hehe, iya deh, Mbak Wati emang paling mengerti aku. " Nina merangkul Wati, dan Wati pun membalasnya.


"Saranku, ikuti kata hati Nin. Kalau belum siap berhijab ya pelan-pelan dulu kamu coba, kalau nggak pas kerja ya pas keluar gitu. "

__ADS_1


"Iya Mbak, mksh ya. Aku akan coba. " Nina terlihat lebih sumringah. Wati pun mengangguk dan mengeratkan pelukannya.


Malam itu Nina tidur dengan masih berpelukan dengan Wati. Nina senang berteman dengan Wati, saat jauh dari keluarga dia merasa punya keluarga disini. Wati bisa menjadi seorang teman, sekaligus kakak yang bisa di mintai pertimbangan, saran, maupun nasehat.


__ADS_2