
Nina menyiapkan bahan untuk garnishnya di meja basenya. Wati juga sama, tengah memotong beberapa buah besar, biar mudah saat memblender nanti.
"Wati, Atikah kemana udah dua hari nggak masuk? " Tanya Bayu yang saat ini menggantikan kasir sekaligus petugas absensi karyawan.
"Mana gue tahu bay, lagian nggak izin to? " Tanya Wati.
"Dia nggak bakal masuk setelah ini. " Kata Agus dengan muka bantal masuk ke area dapur.
"Ilermu Gus, kondisikan dong! " Bentak Bayu.
"Iya-iya Big Boss. Gila loe! Lebih killer dari abang Kevin. " Kata Agus langsung turun ke bawah. Kamar mandi memang terletak di bawah. Bangunan restoran itu memang di buat ruang bawah tanah. Bagian bawah di pakai untuk menyimpan bahan mentah dan kamar mandi.
"Mbak, kenapa ya Mbak Atikah tiba-tiba keluar? " Tanya Nina penasaran.
"Entahlah, perasaan juga nggak pamitan sama anak-anak yg lain. " Kata Wati.
"Memang dia resign mendadak. Di suruh resign sama Pak Hari. " Kata Agus yang tiba-tiba muncul.
"Ngagetin aja loe Gus. Eh, tapi kenapa malah di suruh resign. Bakal cari karyawan lagi dong? " Anggi juga ikut nimbrung.
"La gimana mau kerja, wong dia nya lagi hamil! " Kata Agus sangat santai.
__ADS_1
"Haaaa! " Semua kaget dengan pernyataan Agus.
"Yang bener loe Gus? " Kata Wati mendekat dan tak sengaja mengacungkan pisau yang di bawanya tepat di depan muka Agus.
"Eits, jangan jadi psikopat loe Wat. Singkirin dulu tuh senjata tajam. " Kata Agus menghindari Wati.
"Ih, bisa aja loe Gus! " Seperti kerbau di cocok hidungnya, Wati pun menuruti kata-kata Agus.
"Trus gimana ceritanya si Atikah bisa hamil? " Tanya Wati antusias.
"Emang loe tiap malem nggak tau? Si Atikah kan tiap malem di datengin cowok. Gue sama Bayu itu udah beberapa kali mergokin. Tapi ya kan itu urusan masing-masing ya. Jadi gue nggak ikut campur. " Kata Agus.
"Kan kemarin lusa dia pingsan Nin. Kebetulan pas Pak Hari disini. Dibawa tuh anak ke klinik. "
"Kok aku nggak tau! " Kata Nina.
"Kamu pas di rumahnya Mas Kevin Nin, barengan sama kabar ibunya Mas Kevin meninggal. " Kata Wati.
"Oalah, pantes aku nggak tau. " Kata Nina.
"Tapi kok loe baru ngomong sekarang Gus. Kan seharusnya dari lusa loe udah tau. Secara loe kan juga ikut ngantar ke klinik. " Tanya Anggi.
__ADS_1
"Lha kalian pada nggak nanya, gimana aku mau cerita. " Tanggapan Agus tanpa rasa bersalah.
"Ish.. " Wati yang juga gemas dengan tanggapan Agus memukul kepala Agus dengan serbet yang di pegangnya.
"Gila loe Wat. Serbet udah kaya keset loe pukulin ke rambut gue. " Agus pura-pura marah.
"Biarin, loe sih nyebelin. " Wati bersungut-sungut sambil kembali ke mejanya.
Nina masih terpaku di tempatnya. Anggi pun juga kembali ke base penggorengan.
"Gus, loe pasang pamflet ini di bagian pintu depan sama parkiran ya! " Perintah Bayu.
"Apa ini? " Tanya Agus sambil menerima pamflet itu.
"Di buka lowongan kerja disini. " Kata Bayu.
"Udah ada perintah dari si Bos? "
"Udah, makanya gue ketik dan cetak?"
Agus memasang pamflet itu bukan hanya di pintu masuk dan parkiran. Tetapi juga tempat-tempat umum yang di sekitar restoran sekiranya ramai orang.
__ADS_1