Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Iri Tanda Tak Mampu


__ADS_3

Bu Hari dan Clara lantas melihat-lihat meja pengunjung. Beberapa meja tampak di tempati konsumen. Akhirnya mereka berdua memilih tempat dekat air mancur.


"Sini aja ma!"


"Iya."


Sementara itu, Kevin menuju tempat penggorengan. Ia meminta Bayu untuk menyiapkan pesanan bosnya.


"Bay, Gurami fillet goreng 2. Di asam manis ya?"


"Aku bagian goreng. Asam manisnya sana bilang ke nenek lampir." Kata Bayu sambil melirik ke arah Atikah.


"Jangan keras-keras. Ntar kedengeran orangnya bikin ribut." Anggi menyikut Bayu agak keras.


"Budek dia. Nggak bakal kedengeran." Bayu yang pada dasarnya tidak begitu suka dengan Atikah, semakin murka kalau ada yang ngebelain.


Kevin hanya geleng kepala dan dia pun menuju tempat Atikah.


"Tik, asam manis 2 ya. Pesenan Bu Hari, di makan sini." Walaupun Kevin juga sebal dengan Atikah dia tetap profesional jika sedang pada jam kerja.


"Ok, mas." Atikah senang sekali Kevin menyapanya, walau hanya di tempat kerja.


Kevin kembali ke meja kasirnya. Kebetulan ada beberapa orang yang membayar. Lalu Clara juga menuju meja kasir.


"Mas Kevin nanti tolong bilang Nina ya!"


"Apa Ra?"


"Mama ngajakin makan bareng."

__ADS_1


"Disini?"


"Iya jadi asam manisnya tambahin satu."


"Oke."


Kevin kembali ke dapur lagi. Dia mencari Atikah sekalian memberi tahu Nina kalau diajak makan siang bareng Bu Hari.


"Tik, asam manisnya tambah satu ya."


"Ok mas, Pak Hari datang?"


"Enggak."


"Lalu?"


"Nin, nanti ke meja 13 ya. Di ajak Clara makan sian bareng." Kevin mengabaikan pertanyaan Atikah malah memberitahu Nina.


"Nanti kalau sudah matang, sekalian bawa makanannya." Ujar Kevin lembut.


"Oh, iya mas." Kevin pun meninggalkan dapur.


***


Sementara itu di dapur setelah kepergian Kevin...


"Enak banget ya, bisa makan bareng sama bos." Atikah bicara keras menyindir Nina. Sementara Nina hanya diam.


"Iri bilang guys." Bayu yang kebetulan mengantar gurami fillet goreng untuk di siram saos asam manis angkat bicara.

__ADS_1


"Nggak level aku iri sama dia." Sombong Atikah.


"Ya kalau gitu mulutnya nggak usah nrocos. Berisik tau!" Bayu membentak Atikah.


Atikah pun terdiam. Dia sudah nggak berani bicara lagi. Bayu tipikal orang keras, semakin di lawan semakin murka.


"Nggak usah di dengerin Nin." Wati yang sejak tadi diam menenangkan Nina. Atikah melirik sekilas sambil ngedumel sendiri.


"Iya Mbk."


"Anjing menggonggong khafilah berlalu, Nin. Ntar kalau di tanggepin menjadi-jadi. Mending di diemin aja." Nasihat Wati.


"Siyap kakak." Nina mengangkat dua jempol tangannya ke hadapan Wati dengan ceria lagi.


Seperempat jam kemudian Nina selesai menggarnish 3 porsi gurami asam manis. Lantas dia membawa ke meja 13 sesuai perintah Kevin.


"Ayok Nin, sekalian makan." Ajak Clara.


"Ya ampun Ra, nggak usah repot-repot gini aku nggak enak sama temen-temen yang lain." Nina terlihat sungkan. Kalau dulu makan satu meja dengan Bu Hari biasa saja, sekarang dia merasa sungkan karena posisinya dia hanya karyawan dan Clara serta mamanya adalah bosnya.


"Nggak usah sungkan Nin, lagian juga nggak tiap hari lo." Bu Hari membesarkan hati Nina.


"Iya Bu." Nina mengangguk sopan.


Nina pun meletakkan tiga porsi gurami asam manis di meja. Clara ikut membantu Nina menata gelas minuman.


"Sudah ayo mulai makan." Bu Hari mengambil piring dan di ikuti Nina dan Clara.


"Ayo Nin, jangan sungkan." Tambahnya lagi.

__ADS_1


"Iya bu." Nina pun ikut makan siang. Awalnya sungkan tapi karene Clara dan Bu Hari cukup humble akhirnya Nina pun nyaman makan siang bareng mereka.


__ADS_2