Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Andre di Mata Nina


__ADS_3

Pov Nina


"Udah beres Nin. Ayok turun." Ajak Mbak Anggi setelah kami selesai mengepel lantai gedung prasmanan.


"Iya Mbak." Jawabku sembari membersihkan tangan dan mencucinya.


Kami berempat bergegas turun dari tempat prasmanan. Kurang lebih satu jam kami membersihkan tempat itu. Sesampainya di restoran, disana terlihat pengunjung juga sepi. Hanya ada tiga meja yang terisi diantara duapuluh meja yang di sediakan.


"Kalian langsung istirahat saja ya. Nanti gantian sama yang di restoran. Istirahat hari ini satu jam." Baru saja kami memasuki pintu restoran Mas Kevin menyuruh kami istirahat.


"Ok bos." Mas Agus mewakili kami menjawab.


Karena tidak mau menyia-nyiakan waktu kami akhirnya kami istirahat. Biasanya aku istirahat bareng Mbak Wati, kali ini sama Mbak Anggi. Sebenarnya sama saja, cuma aku masih sedikit sungkan kalau ngobrol dengan Mbak Anggi.


"Kalau istirahat siang biasanya kamu ngapain Nin?" Mbak Anggi mulai percakapan.


"Biasanya ngobrol sama Mbak Wati, trus ketiduran Mbak, hehe." Jawabku jujur.


"Nggak jajan atau pergi kemana gitu?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Enggak Mbak. Belum gajian,hehe!" Aku nyengir.


"Iya ya, tapi tenang aja. Ntar dapet bonus." Kata Mbak Anggi.


"Bonus apa Mbak?" Aku mulai kepo. Ternyata Mbak Anggi juga enak di ajak ngobrol. Malah dia selalu memulai obrolan dibanding aku.


"Ya biasanya kalau ada tamu dari pariwisata gitu, kita bakalan dapat bonus. Soalnya kan kerja ekstra, trus istirahat juga di kurangi Nin." Jelas Mbak Anggi panjang lebar.


"Ouh iya, emang bonusnya berapa Mbak?" Jiwa kepoku meronta.


"Tergantung, biasanya sih 50rb. Lumayan Nin, buat beli bakso dah kenyang banget." Mbak Anggi membayangkan sambil meraba perutnya.


"Hehe, ya jelas Mbak. Itu bisa buat 5 orang." Jawabku.


"Iya Mbak." Aku ikut berbaring di samping Mbak Anggi.


Entah kenapa mataku sulit terpejam. Akhirnya kubuka ponselku. Ada notif WhatsApp, kupencet aplikasi hijau itu. Ternyata dari Andre.


"Nin, gimana? Kamu udah berubah pikiran kan?" Tanyanya di WhatsApp di sertai emoticon sedih. Enak aja dia bilang berubah pikiran.

__ADS_1


"Aku udah yakin dengan keputusanku Ndre. Lebih baik kita ketemu Nanti malam di taman kota setelah aku pulang kerja." Balasku. Terlihat centang satu. Mungkin dia nggak pegang ponsel.


Intinya aku ingin segera lepas dari Andre. Pertama memang selama ini aku tidak pernah mencintainya. Aku menerima dia jadi pacarku karena balas budi. Dia yang membayar uang sekolahku karena ibuku belum ada uang. Dan dia nggak mau di ganti.


Kedua, dia selama ini terlihat baik dan seperti mengayomi. Ternyata aku salah. Ternyata dia cukup egois dan sangat mengatur kehidupanku.


"Jam berapa Nin?" Dengan muka bantal Mbak Anggi membuyarkan lamunanku.


"Ya Allah Mbak, jam empat kurang sepuluh menit." Aku terkejut melihat jam di layar ponselku.


"Ya Ampun Nin. Aku ke kamar mandi duluan ya?" Tanpa menunggu jawabanku Mbak Anggi menyambar handuknya dan berlari ke kamar mandi.


Aku sendiri pun mengganti seragamku. Nggak sempet mandi, mending segera ku cuci mukaku dan menuju ke Restoran kembali. Selesainya aku ber make up, Mbak Anggi juga selesai mandi.


"Nggak mandi dulu Nin?" Tanyanya.


"Enggak Mbak, takut telat." Alasanku.


"Ih, cantik-cantik jorok." Kata Mbak Anggi sembari ber make up juga.

__ADS_1


"Yang penting wangi Mbak." Jawabku.


Selesai ber Make up kami pub menuju restoran. Disana terlihat senggang. Hanya ada Mas Kevin, kemungkinan Mbak Wati dan yang lain sudah ke belakang.


__ADS_2