
Kevin bangun tidur masih sangat pagi. Adzan subuhpun belum berkumadang. Namun mushola dekat rumah Kevin sudah memutar kaset tahrim. Petugas mushola pun sudah menyalakan lampu dan membuka seluruh pintu.
Kevin memilih mandi terlebih dahulu. Mandi subuh memang sangat di anjurkan. Udara subuh yang biasanya sangat dingin menusuk tulang. Kini terasa sedikit gerah, mungkin efek dari mendung yang tak kunjung hujan.
"Tumben mandi Vin? " Tanya Pak Burhan yang baru bangun tidur berpapasan dengan Kevin yang keluar dari kamar mandi.
"Iya Pak. Gerah rasanya di badan lengket semua. " Jawab Kevin.
"Iya Vin. Bapak juga mau mandi. Nggak PD sama bau keringat. Hehe! "
Kevin ikut tertawa mendengar candaan bapaknya. Setelah Pak Burhan masuk ke kamar mandi, Kevin beranjak ke kamar. Dia mengenakan sarung dan baju koko. Sambil menunggu adzan subuh, Kevin berinisiatif untuk menjerang air. Dia ingin minum yang hangat-hangat.
"Mau bikin apa Vin? " Tanya Bu Burhan yang kebetulan juga menjerang air di kompor.
"Mau bikin susu jahe Buk, itu airnya masih sisa Bu? " Tanya Kevin.
"Ya udah, tak bikinkan. Ini sekalian mau buatin kopi bapakmu. Kamu tunggu di depan saja. "
Kevin mengangguk dan berjalan keruang depan. Adzan sudah hampir selesai. Sebentar lagi iqomah. Kevin tidak jadi duduk di kursi tamu dan memilih langsung ke mushola. Duduk di atas sajadah yang di bawanya dari rumah hingga iqomah selesai berkumandang.
__ADS_1
...****************...
"Nanti malam Kevin mau ke acara tiga harian Mbah Kakungnya Nina buk! " Pamit Kevin.
"Silahkan aja Vin. Kesana sendirian? " Tanya Bu Burhan sambil melipat mukena.
"Iya buk. Kalau nggak sendirian mau sama siapa? " Pak Burhan yang baru pulang dari mushola ikut menyahut.
"Ya maksudnya temen kerja yang lain gitu lo Pak. " Ketus Bu Burhan.
"Sepertinya Kevin sendiri Bu. Undangannya juga nggak banyak, cuma bapak-bapak jamaah yasin katanya. "
Kevin tersenyum dan menggelengkan kepala, dia lalu menghabiskan segelas susu jahenya dan beranjak ke belakang.
"Kemarin ada yang nawar muraimu Vin? " Kata Pak Burhan menghentikan langkah Kevin.
"Siapa Pak? "
"Si Herman, nyari kamu ditempat kerja katanya nggak ada, akhirnya kesini juga nggak ketemu soalnya kamu masih di rumah Nina. Akhirnya bilang ke bapak kalau mau lihat murai. " Jelas Pak Burhan.
__ADS_1
"Berani berapa dia Pak? " Tanya Kevin penasaran, tak jadi kebelakang dan memilih duduk kembali.
"Kamu tanyakan sendiri. Bapak nggak paham kalau masalah begituan. "
Kevin mengiyakan, ia pergi ke kamar dan lanjut mengganti pakaian. Dia memilih membersihkan kandang burung-burung peliharaannya.
Kegiatan yang dulunya hanya sebagai hobby, kini bisa menghasilkan lembaran uang. Sejak masih sekolah Kevin memang sudah hobby memelihara berbagai jenis burung. Dan kini burung itu beranak pinak samakin banyak.
"Kandangnya nggak di isi ayam lagi Pak? " Tanya Kevin. Pak Burhan tengah membersihkan bekas kandang ayam peliharaannya dulu.
"Rencananya begitu, tapi belum tahu. Ibumu masih belum ada yang bantuin di pasar. " Kata Pak Burhan.
"Ya pelihara dikit dulu aja Pak. Nggak usah banyak-banyak dulu. Kan masih bisa walaupun bantuin ibu di pasar. " Saran Kevin.
"Iya Vin. Nanti antar bapak buat beli ayamnya ya?" Pinta Pak Burhan.
"Iya Pak. Nanti aku carikan yang bibit unggul.."
Kevin dan bapaknya terus berbincang sampai matahari mulai muncul. Bahasannya ya masalah ayam yang akan di beli nanti. Mereka berdua memang punya hobby sama.
__ADS_1