Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BAB 79


__ADS_3

Pakdhe Bandi menyambut keluarga Kevin dengan ramah tamah. Begitupun dengan Ibu Nina, beliau menyambut di depan pintu masuk. Keluarga Kevin pun beriringan masuk, Mbak Umi juga membawa kardus yang berisi minyak dan gula sebagai tanda turut berduka.


"Assalamu 'alaikum. " Pak Burhan terlebih dahulu mengucapkan salam.


"Wa alaikum salam Pak. " Bu Ida menjawabnya dengan seulas senyum. Kemudian menerima uluran tangan bapaknya Kevin itu.


"Turut berduka ya Bu. " Bu Burhan menyalami Bu Ida dan memeluknya.


"Iya terimakasih Bu Burhan. " Bu Ida balas memeluk calon besannya.


Sedangkan yang lain juga bersalaman dengan Bu Ida dan Pakdhe Bandi. Kemudian semua di persilahkan duduk di tikar yang telah di gelar.


"Nina kemana Bu? " Tanya Bu Burhan. Sedari tadi beliau celingukan mencari keberadaan calon menantunya itu.


"Ouh. masih di dapur bu. Menyiapkan minum. " Jawab Bu Ida yang duduk di sebelah Bu Burhan.


Tak lama kemudian, Nina pun datang dengan membawa baki yang berisi minuman teh dan kopi. Kemudian menyajikan satu persatu kepada tamunya. Disusul juga dengan gadis yang lain membawa kue basah yang di tata di piring.

__ADS_1


"Bu. " Sapa Nina sambil menyalami Bu Burhan dan yang lain.


"Iya Nak. Kok malah di dapur? " Tanya Bu Burhan.


"Iya, sekarang kan udah di sini bu." Jawab Nina sopan.


Akhirnya Nina duduk di samping Bu Burhan. Diapit oleh ibunya, Nina mengenakan gamis warna coklat susu dengan pashmina senada. Kevin yang duduk di sebrang berhadapan tepat dengan Nina sampai rak bisa mengedipkan mata melihat penampilan pujaan hatinya.


"Kedip Vin. Inget belum halal! " Bisik Mas Ipul sambil menyikut perut Kevin.


"Mbah suroyo sudah sangat sepuh ya Pak? " Tanya Pak Burhan memecah keheningan.


"Lumayan Pak. Tapi juga belum terlalu sepuh. Di usianya yang sudah hampir delapan puluh tahun itu masih kuat merumput. Tapi semenjak setahun terakhir memang kesehatannya agak terganggu Pak." Jawab Pakdhe Bandi sambil mengenang Almarhum bapaknya.


"Ouh iya, berarti faktor usia ya Pak? "


"Iya betul Pak. Ketika mau meninggal itu kondisinya juga sadar, tidak pikun seperti kebanyakan orang-orang. "

__ADS_1


"Alhamdulillah, semoga Pak Suroyo husnul khatimah Pak. " Suara Pak Burhan agak di kencangkan. Dan semua mengamini.


Kemudian keluarga Pak Burhan membacakan tahlil untuk almarhum Mbah Suroyo di pimpin oleh Mas Ipul. Setelah itu keluarga Pak Burhan berpamitan, Nina mengantar sampai di parkiran mobil, berjalan beriringan dengan Kevin.


"Kayaknya aku bakalan cuti seminggu Mas. Kan tiap malem ada acara tahlilan dari bapak-bapak jamaah yasin. Suasana rumah Mbah Kakung juga masih berduka. Nggak enak juga kalau langsung kerja. " Kata Nina.


"Iya Nin. Nggak papa kok, oh ya udah izin Pak Hari kan? " Tanya Kevin.


"Belum Mas. Belum tahu kalau Mbah Kakung meninggal mungkin. " Jawab Nina.


"Sudah kok, tadi aku udah kasih kabar. Mungkin besok ta'ziah kesini Nin. "


"Iya Mas. Kalau besok kesini aku tak sekalian izin aja. "


"Iya. "


Mereka pun sudah tiba di mobil. Aris masuk lebih dulu di susul Mas Ipul dan Mbak Umi. Sedangkan Bu Burhan terlebih dahulu memeluk Nina. Kemudian juga memasuki mobil. Kevin juga sudah duduk di samping Aris. Kevin melambaikan tangan dan di balas oleh Nina. Nina pun menunggu sampai mobil hilang di belokan baru dia kembali ke rumah Mbah Kakung.

__ADS_1


__ADS_2