
Acara tahlilan tiga harian meninggalnya Bu Burhan berjalan lancar. Tetangga berdatangan semua, bingkisan (Berkat) yang disediakan oleh keluarga habis tak bersisa.
"Kamu tadi kesini bareng mobil ibu Nin? " Tanya Kevin.
"Iya Ma. Ini aku mau WA mbak Wati biar di jemput. " Kata Nina.
"Nggak usah. Aku antar saja Nin. " Larang Kevin.
"Emang nggak papa Mas? Tuh kan banyak tamu bapak-bapak belum pulang." Kata Nina yang melirik ke ruang tamu terlihat bapak-bapak jamaah yasin masih mengobrol.
"Udah nggak papa. Masih ada bapak dan yang lainnya. " Kata Kevin.
"Ya sudah aku pamit dulu ke Mbak Umi Mas. "
Nina yang awalnya duduk di ruang tengah menghampiri Mbak Umi yang di dapur. Mbak Umi membereskan beberapa piring yang kotor, serta menyapu lantainya.
"Mbak, aku pulang dulu ya?" Kata Nina setelah dekat dengan Mbak Umi.
"Oh, iya Dik. Ini ada sedikit makanan buat temen-temenmu nanti ya? " Mbak Umi menyerahkan bungkusan ke Nina.
"Nggak usah Mbak. Di sana paling juga udah makan. " Jawab Nina.
"Nggak papa Dik. Ini juga sisa kok, tapi berkatnya habis. " Mbak Umi memaksa Nina untuk membawa beberapa bungkus nasi pupuk. Suguhan buat orang yang tahlilan tadi.
__ADS_1
"Iya Mbak. Terimakasih banyak. " Kata Nina. Kemudian ia bersalaman dengan Mbak Umi.
"Sama-sama Dik. Tadi emang bawa montor? " Tanya Mbak Umi.
"Enggak Mbak. Di antar Mas Kevin. "
"Oh ya sudah. Hati-hati, besok sore kesini lagi ya Dik? " Pinta Mbak Umi.
Nina mengiyakan. Lantas ia mencari Kevin ke halaman depan. Ternyata lelaki idamannya itu sudah nangkring di atas motor butut kesayangannya. Kevin tersenyum melihat kedatangan Nina.
"Sudah? " Tanya Kevin.
"Sudah Mas. Ini malah di bawain nasi pupuk segini banyak sama Mbak Umi. " Kata Nina.
Nina duduk di jok bagian belakang. Kevin mulai pun memutar pelan gasnya. Tak sampai lima menit mereka berdua sudah sampai di parkiran restoran. Nina turun dari boncengan.
"Oh ya Mas, tadi Indah kok nggak ada kemana? " Tanya Nina.
"Kelihatannya mau lahiran Dik. Daripagi perutnya melilit, trus pinggangnya sakit katanya. " Jawab Kevin.
"Oalah, emang udah waktunya yha Mas? " Tanya Nina.
"Katanya masih dua minggu lagi. Tapi karena banyak pikiran kelihatannya maju. "
__ADS_1
"Semoga persalinannya lancar ya Mas! " Kata Nina.
"Amiin. Ya sudah masuk gih, udah mulai gerimis ini. " Saran Kevin.
"Iya Mas. "
Nina masuk ke restoran. Kevin meninggalkan area parkiran. Di rumah masih banyak orang, nggak enak kalau di tinggal lama-lama.
"Gimana acara tiga hariannya Nin? " Baru saja membuka pintu knop kamar Nina sudah di todong dengan suara Wati.
"Tak kira udah tidur Mbak. Ya Alhamdulillah Mbak, jamaahnya banyak. " Kata Nina melepas jilbabnya.
"Duh, nggak ada sisa makanan dong. " Wati memasang muka sedih.
"Tuh, di bawain beberapa bungkus. " Kata Nina menunjukkan kresek yang di bawanya tadi.
"Alhamdulillah. Aku belum makan Nin. Sengaja nungguin kamu. " Kata Wati tak sabar membuka bungkusan itu.
"Emang nasi restoran habis Mbak?" Tanya Nina menoleh ke Wati. Karena saat ini posisi Nina membelakangi Wati yang tengah duduk di ranjang. Dia membuka lemari baju, guna mengganti gamisnya dengan baju santai.
"Restoran rame banget Nin. Trus nasinya habis, tinggal dikit di makan anak-anak cowok. Sampai nggak ada bagian buat aku. " Jawab Wati dengan mulut penuh.
Nina menggelengkan kepala melihat tingkah Wati yang tengah kelaparan. Ia pun beranjak keluar kamar menuju mushola kecil di dalam restoran itu juga. Dia belum shalat Isya'. Sebelum tidur dia shalat dulu, daripada nanti bangun sudah subuh.
__ADS_1