Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
BaB 43


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu Kevin pun tiba. Pagi ini Nina akan pulang ke desanya. Sesuai permintaan Kevin, Nina mau di antar pulang. Sejak subuh Kevin sudah mandi. Dia juga memakai kaos casual.


"Tumben jam segini dah dandan maksimal. Mau ngapel? " Ledek Hanny.


"Berisik loe." Jawab Kevin sewot.


Bu Burhan yang mendengar candaan kedua anaknya tersenyum. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat putra kesayangannya bisa jatuh cinta lagi. Keinginannya untuk segera mempunyai menantu dari Kevin mungkin akan segera tercapai.


"Sudah rapi aja Vin, mau kemana? " Pak Burhan pun ikut bertanya.


"Mau nganter temen pulang, Pak. " Jawab Kevin jujur.


"Siapa? " Pak Burhan mewakili ke kepoan seluruh keluarga.


"Nina. "


"Cieeee. " Hanny dan Indah kompak meledek.


"Oh, Nina. " Bu Burhan menahan senyum.


"Kenapa bu? " Tanya Kevin.


"Nina itu yang shalat subuh berjamaah sama Wati itu kan? " Tanya Bu Burhan.


"Iya bu." Jawab Kevin lirih.


"Kapan kamu bawa kesini? " Tanya ibunya.


"Nembak aja nggak berani kok, main bawa. " Ledek Hanny.


"Kok loe tahu?" Tanya Indah, sang kakak.


"Ya gue kan punya mata-mata disana. " Jawab Hanny santai.


"Pacarnya temen gue. " Kata Kevin seakan dapat kartu As.


"Bener Han? " Kedua orang tuanya kaget sampek membelalak.


"Itu cuma temen buk. Beneran. " Sanggah Hanny.


"Temen kok sampai mau nglamar segala. " Skak Kevin.


"Apaan sih loe? " Hanny melotot.


"Senjata makan tuan tuh Han. Haha. " Ledek Indah.


"Loe jangan coba-coba nglangkahin gue sama Mas Kevin ya Han! Ntar kualat. " Ancam Indah.


"Siap deh. " Kata Hanny.


"Ayo sarapan dulu." Bu Burhan mengajak suami dan anak-anaknya untuk sarapan.

__ADS_1


"Ayo!" Bapak berdiri pertama kali dan di ikuti ketiga anaknya.


Sesampainya di meja makan mereka menempati kursi masing-masing. Bu Burhan lantas mengambilkan nasi untuk suami dan anak-anaknya. Menu pagi ini di keluarga Pak Burhan adalah tumis kangkung dan ayam goreng serta kerupuk sebagai pelengkap.


"Emang Nina tinggal di desa Vin? " Tanya ibunya.


"Iya buk. " Jawab Kevin.


"Pantes orangnya kalem." Puji Bu Burhan.


"Menantu idaman bu. Gas kan! " Sahut Hanny.


"Berisik." Sahut Kevin.


Kevin segera menghabiskan sarapannya dan memilih berangkat daripada menjadi bahan ledekan kedua adiknya. Motor ia pacu menuju restoran.


"Maaf Nin. Aku telat ya? " Kata Kevin ketika melihat Nina sudah bersiap di depan restoran.


"Enggak kok Mas. Ini aku juga baru aja jalan kesini. " Sahut Nina.


"Ya udah. Ayo! " Kevin memakaikan helm ke Nina.


Perjalanan menuju desa Nina sangat di nikmati Kevin. Nina mau di antar artinya perasaannya tak bertepuk sebelah tangan, meskipun kini belum ada ikatan apa-apa. Tapi mereka mengetahui isi hati masing-masing.


"Nina nggak masuk Wat? " Tanya Atikah.


"Kan jadwalnya dia libur. Pulang kampung. " Jawab Atikah datar.


"Emang kenapa? " Pancing Wati.


"Ya nggak biasanya Mas ganteng telat. " Jawab Wati.


"Dia nganter Nina. " Wati menunggu ekspresi Atikah.


"What?!!!" Teriak Atikah kaget sampai melotot.


"Kenapa sih loe? " Wati menoyor kepala Atikah.


"Bener Wat? Dasar perempuan gatel. " Umpat Atikah.


"Siapa yang loe katain gatel? Mau gue toyor lagi pala loe? " Pokoknya kalau ngobrol dengan Atikah. Wati jadi gampang terpancing emosi.


"Ya teman loe itu. Biasanya juga pulang sendiri ngapai sekarang minta dianter. Apaan kalau bukan cewek gatel? " Atikah bicara cukup keras.


"Tutup mulut loe ya. Mas Kevin yang menawarkan. Nina sebenarnya udah mau pulang sendiri. "


"Nggak mungkin honeyku seperti itu. Kecuali Nina yang ngrayu. " Kekeh Atikah.


"Jaga mulut loe, atau gue tabok." Wati nggak bisa meredam emosi.


"Bener Wat. Mas Kevin nggak serendah itu. "

__ADS_1


"Terserah. "


Wati memilih meninggalkan Atikah, daripada ribut-ribut kaya kemarin. Dia pergi ke base nya Anggi.


"Ribut lagi loe Wat? " Celetuk Bayu melirik Wati sambil menyiapkan Wajan untuk menggoreng.


"Ulet bulu tuh yang mulai. " Jawab Wati dengan muka sebal.


"Ya jangan loe ladenin. " Agus ikut menimbrung.


"Habis mulut kui gatel kalau nggak ngladenin. " Sahut Wati lagi.


"Lagian yang di umpat Atikah kan Nina, ngapain loe yang ngegas? " Zidan yang selama ini diam ikut buka suara.


"Ya gue kasihan sama Nina, disini dia nggak salah dan kalau di umpat Atikah dia tuh diem aja, tapi ujung-ujungnya nangis. Kasihan bro! "


"Iya, gue juga kasihan banget sama Nina, baru sebulan disini ada aja cobaannya. " Anggi turut membela.


"Kevin belum datang. Loe gantiin di kasir ya Gus!" Pinta Bayu.


"Oh, tidak. Gue pilih di bakaran asalkan tak pusing sama itung-itungan. Loe aja bay, paling bentar lagi juga nyampek tuh bocah. " Tolak Agus.


"Bocah-bocah! Loe ngatain dia kalau denger, bisa-bisa nggak di restuin loe sama adiknya. " Ancam Bayu.


"Ya loe jangan bilang-bilang lah. "


"Huftzz. "


Pada akhirnya Bayu yang menggantikan Kevin. Dan tugas Wati di base minuman merangkap garnish. Begitupun kalau Wati yang libur, Nina yang di base garnish akan merangkap di minuman.


****


"Alhamdulillah, udah sampai Mas. " Kata Nina turun dari boncengan Kevin.


Kevin diam saja, dia tampak memperhatikan pekarangan rumah Nina. Disitu, terdapat beberapa rumpun pohon pisang di halaman depan. Di samping kanan kiri rumah ada pohon mangga yang mulai berbunga. Sedangkan rumah Nina tampak kecil dan rapi. Walaupun masih beralaskan tanah, tapi kebersihan rumah itu terjaga. Kevin tersenyum akan pemandangan rumah Nina yang begitu asri, dia memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam udara khas desa yang menyegarkan.


"Ayo masuk Mas." Ajakan Nina membuyarkan lamunan Kevin.


"Ayo. " Kevin pun mencopot helmnya dan berjalan di belakang Nina.


"Assalamu alaikum. Ibu, Nina pulang." Begitu sampai di depan pintu. Nina mengucapkan salam dan memanggil ibunya.


"Waalaikum salam. Alhamdulillah kamu sudah nyampe. " Kata bu Ida ketika sudah di pintu. Nina menyalami ibunya dan mencium tangannya yang spontan di ikuti oleh Kevin.


"Loh ini siapa Na? " Tanya Bu Ida.


"Perkenalkan Bu, saya Kevin. Teman kerja Nina di tempat Pak Hari. " Sebelum Nina menjawab, Kevin terlebih dahulu memperkenalkan diri.


"Oalah iya, ayp masuk Nak. " Ajak Bu Ida dengan ramah.


"Iya bu. "

__ADS_1


Kevin pun mengikuti langkah Bu Ida masuk ke dalam rumah. Ia duduk di kursi tamu yang ada. Kursi sederhana yang terbuat dari kayu dan rotan. Juga meja kayu kecil yang di beri taplak di atasnya.


__ADS_2