
Kali ini Bu Ningsih meladeni permintaan bapaknya. Beliau mengantar Mbah Kakung ke tempat buliknya, Bulik Nok. Rumahnya tak jauh dari tempat belanja yang akan di tujunya dengan Clara.
Rumah yang sama megah dengan rumah yang saat ini Bu Ningsih tempati telah terlihat. Bedanya rumah Bu Ningsih bernuansa coklat dan warna emas, sedangkan rumah Bulik Nok bernuansa hitam abu-abu.
"Kamu nggak ikut turun Ning? " Tanya Mbah Kakung.
"Iya pak. Biar Clara yang tunggu di mobil. " Bu Nining mengamit tangan Bapaknya.
Bu Ningsih dan Mbah Kakung memasuki teras Bulik Nok. Rumah masih sepi, tapi terdengar orang berbincang-bincang.
"Assalamu alaikum. " Bu Ningsih mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam. " Pintu terbuka. Bulik Nok yang membuka. Beliau masih mengenakan daster panjang dan memegang serbet.
"Ya ampun Mas Kusni, Ningsih. Ayo masuk, maaf masih beberes ini tadi. " Sambut Bulik Nok ramah.
"Iya tak apa bulik. " Sahut Bu Ningsih menuntun Mbah Kakung ke kursi tamu.
__ADS_1
"Suamimu mana Nok? " Tanya Mbah Kakung.
"Baru berangkat kerja Pakdhe. " Kata Beliau. Mbah Kakung manggut-manggut dan menyapu pandangan ke seluruh ruang tamu.
"Tangguh juga udah berangkat Bulik? " Tanya Bu Ningsih.
"Masih tidur. Sebentar tak bikinin minuman dulu. " Bulik Nok menuju dapur untuk membuatkan minum tamunya.
Beberapa saat kemudian Bulik Nok kembali ke ruang tamu dengan membawa baki dengan empat cangkir teh di atasnya. Di susul Tangguh yang menyalami Pakdhe dan Mbaknya.
"Iya Nok. " Mbah Kakung menyeruput tehnya.
Bu Ningsih pun melakukan hal yang sama, menyeruput tehnya dan meletakkan kembali ke cawan.
"Nok, maksud saya kesini itu mau minta maaf sama keluarga kamu terutama sama Tangguh. " Kata Mbah Kakung.
"Masalah apa ya Pakdhe? " Tanya Bulik Nok yang sepertinya memang tidak tahu.
__ADS_1
"Kemarin aku sudah bilang Gito suamimu, kalau aku mau menjodohkan salah satu karyawan Ningsih sama Tangguh. Lha, kemarin lusa pas makan siang aku bermaksud mengenalkan ke tangguh. " Mbah Kakung menjeda kalimatnya.
"Trus kenapa Pakdhe?. " Tanya Bulik Nok.
"Sepertinya anak-anakku nggak ada yang mendukung keputusanku Nok. Entahlah, mungkin bapaknya ini sudah tidak dianggap. " Mbah Kakung mendramatisir keadaan.
Bulik Nok melirik Bu Ningsih sekilas. Lalu ikut menghela nafas. Sebenarnya beliau tidak mempermasalahkan itu. Tangguh pun sudah menceritakan semuanya kepada kedua orangtuanya. Dan kedua orang tuanya menerima dengan lapang dada.
"Iya Pakdhe. Kalau saya nggak masalah. Lagian tangguh masih duapuluh lima tahun, masih panjang perjalanannya. Dia juga belum punya pekerjaan yang tetap. Mau di kasih makan apa nanti istrinya. " Kata bulik Nok tulus tanpa di buat-buat.
"Bukan maksud menghalangi rencana bapak bulik, memang Nina itu teman Clara bulik. Dan baru bekerja sekitar satu bulan ini. Takutnya nanti malah nggak fokus sama kerjaannya. Jadi menurut saya, biarkan hubungan antara Nina dan Tangguh mengalir sendiri. " Bu Ningsih menjelaskan.
"Iya saya setuju sama Ningsih Pakdhe. " Kata Bulik Nok setelah mendengar penjelasan Bu Ningsih.
"Terserah." Mbah Kakung masih tidak terima, orang yang dipikir bakalan Pro dengan beliau malah berkebalikan. Sementara Tangguh hanya menyimak obrolan para tetua.
Setelah berbasi-basi sekedarnya Bulik Nok, Bu Ningsih pamit pulang. Sementara Mbah Kakung masih di tempat Bulik Nok, mau menginap katanya. Akhirnya Bu Ningsih sendiri yang memasuki mobil. Di sambut Clara yang memonyongkan bibirnya.
__ADS_1