Menikah Dengan Perjaka Tua

Menikah Dengan Perjaka Tua
Putus


__ADS_3

"Jadi nggak Nin?" Tanya Mbak Wati ketika kami memasuki kamar.


"Jadi Mbak. Aku ganti baju dulu." Jawabku.


Akupun segera mengganti bajuku. Rambut ku biarkan terurai, memakai celana jeans, dan berseparu kets. Tak lupa jaket hoodie kulapiskan di badanku. Walaupun tidak terlalu dingin, tapi menakai jaket menjadi pilihanku kalau keluar malam.


"Udah siap Mbak." Aku keluar kamar, Mbak Wati duduk di kursi depan kamar.


"Ya udah, ayok!"


Mbak Wati mengeluarkan motornya dari parkiran. Kami menuju taman kota yang jaraknya sekitar satu kilometer dari restoran. Udara malam yang mulai dingin kini terasa. Untung kami berdua memakai jaket. Jadi tidak begitu menusuk tulang dinginnya.


"Udah kamu WA si Andre?"


"Udah Mbak, dia udah menunggu katanya." Jawabku.


Tak lama kemudian motor yang di kendarai Mbak Wati sampai di taman kota. Mbak Wati memarkir motornya, sedangkan aku turun dan melepas helmku.


"Itu orangnya Mbak." Aku melihat Andre duduk di kursi panjang taman.


"Ya udah buruan kesana." Saran Mbak Wati. Aku mengangguk.


Andre ternyata melihat kedatanganku. Dengan segera dia berdiri dari duduknya. Menyambutku dengan senyuman. Sedangkan wajahku ku buat sedatar mungkin.

__ADS_1


"Hay Nin!" Seperti biasa, Andre menyapa duluan dan mau main peluk aja. Untung aku bisa menghindar.


"Oh ya Ndre, kenalin ini Mbak Wati temanku kerja." Setelah menghindari pelukannya aku mengenalkan Mbak Wati kepada Andre.


"Hay,Andre.! Andre pun menyalami Mbak Wati.


"Hay juga, Wati." Mereka berkenalan.


"Duduk Nin." Kata Andre.


Aku dan Mbak Wati pun duduk di bangku panjang berseberangan dengan Andre. Andre memesan 3 gelas jus. Kebetulan ada penjual jus gerobak yang masih mangkal.


"Ini Mbak Wati." Andre menyodorkan segelas jus jeruk ke Mbak Wati.


"Terimakasih."Aku dan Mbak Wati mengucapkan terimakasih secara bersamaan.


"Gimana Nin?" Andre sepertinya to the point dengan tujuan pertemuan ini.


"Maaf Ndre." Hanya itu yang mampu aku ucapkan.


Sebelum kesini tadi sebenarnya aku sudah menyusun kalimat untuk putus agar tak melukai Andre. Tetapi ketika bertemu langsung, kerongkangan ini tercekat. Bibir pun tak mampu mengucapkan kata-kata lagi.


"Aku udah tahu jawaban kamu bakalan seperti ini Nin." Andre menunduk.

__ADS_1


"Maaf Ndre. Aku nggak bisa memaksakan perasaanku." Aku berkata jujur.


"Lalu selama ini kamu anggap hubungan ini apa Nin?" Tanya Andre sedikit ada tekanan.


Aku hanya terdiam. Aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata lagi. Andre semakin menatapku dengan tatapan amarah. Seperti tidak terima dengan keputusanku. Tiba-tiba air mataku keluar, dan menganak sungai di pipiku.


"Kamu pasti ada pandangan cowok lain kan? Aku kurang apa Nin? Memang dasar ya, kamu!" Kilatan amarah terlihat dari mata Andre.


Aku menangis semakin tergugu. Mbak Wati hanya mengusap pundakku. Dia juga tidak berani menengahi kami. Aku mendongakkan kepala, aku harus berani melawan Andre.


"Kamu tidak kurang apapun Ndre. Bahkan terlalu sempurna untukku. Tapi aku nggak bisa melanjutkan hubungan ini. Maaf?" Aku berkata sampai terduduk di hamparan rumput taman.


"Ada cowok lain kan?" Andre berkata penuh penekanan.


"Sudah Ndre, cukup. Aku rasa sudah cukup penjelasan Nina. Terlepas itu ada cowok lain atau apapun yang membuat dia tidak bisa melanjutkan hubungan ini, tolong kamu juga bersikap dewasa. Perasaan tidak bisa di paksakan Ndre, Kamu dan Nina akan sama-sama tersakiti jika melanjutkan hubungan ini." Mbak Wati akhirnya jadi penengah.


"Tapi nggak bisa gitu Mbak?" Andre tetap ngotot.


"Cukup Ndre, semakin kamu memaksa. Semakin hancur perasaan Nina. Sudah, kalaupun tidak ada hubungan pacaran, kalian masih bisa berteman kan? Ku harap tidak ada dendam dalam hatimu Ndre. Dendam hanya bikin hidupmu nggak tenang." Mbak Wati menasehat Andre lagi. Sedangkan Andre terdiam. Dia duduk di bangku taman dan mengusap kepala dengan kasar.


"Ayok Nin." Mbak Wati membantu aku berdiri.


"Kita pergi dulu Ndre."

__ADS_1


Akhirnya aku dan Mbak Wati meninggalkan taman itu. Mbak Wati kembali memboncengku menuju restoran. Aku masih menangis sampai terisak.


__ADS_2