
Motor yang di kendarai Kevin telah memasuki jalan desa. Nina tidak mampir ke rumahnya, melainkan langsung menuju desa Mbah kakungnya. Jalanan yang di laluipun semakin sulit. Bukan jalan makadam lagi tapi jalan yang masih dari tanah. Sisa air hujan semalem membuat jalan yang di lalui licin. Kevin yang tidak terbiasa dengan jalan desa hampir saja tergelincir. Untung masih bisa menjaga keseimbangan.
"Masih jauh kah Nin? " Tanya Kevin.
"Nggak Mas. Di pertigaan depan itu nanti belok aja ke kiri. " Instruksi Nina.
Kevin mengangguk dan dia pun belok ketika sudah sampai pertigaan. Tak lebih seratus meter, beberapa orang terlihat berkumpul di rumah joglo yang tua. Disana juga berkibar bendera kuning. Perasaan Nina tidak enak.
Mbah Kakung dari pihak ayahnya itu selama ini seperti pengganti ayahnya. Banyak nasehat dan petuah yang di berikan. Sesampainya di halaman rumah, Nina turun dari motor dengan gamang. Kevin yang sudah menebak keadaan pun segera menggandeng Nina.
Tanpa di duga, air mata Nina pun mulai berjatuhan. Dia di sambut oleh adiknya.
__ADS_1
"Mbak, yang sabar Mbak. " Tiara menyambut Nina yang di beri tahu tetangga tentang kedatangan kakaknya itu.
"Iya Ra. " Nina pun melangkah mengikuti adiknya untuk masuk ke dalam rumah itu.
Sedangkan Kevin menyalami bapak-bapak dan para pemuda yang tengah duduk di serambi depan. Dan Kevin dipersilahkan masuk oleh tetua daerah sana.
"Maaf, anak muda ini siapa ya? " Tanya salah satu bapak yang duduk di samping Kevin.
"Saya temannya Nina Pak." Jawab Kevin dengan tersenyum.
Kevin mengangguk dan tersenyum. Sesaat kemudian jenazah Mbah Kakungnya Nina di mandikan, di kafani lalu di salatkan. Nina juga turut serta memandikan Mbah Kakungnya. Air matanya tak berhenti mengalir lalu di tenangkan oleh ibunya.
__ADS_1
"Nina, kasihan Mbah Kakung kalau airmatamu mengenai badan beliau. " Tegur Bu Ida sembari menguatkan Nina.
Nina lantas mengangguk dan mengusap air matanya, kemudian dia menarik napas dalam. Guna menahan air matanya agar tak terjatuh lagi.
Setelah di kafani jenazah Mbah Kakung di kafani oleh pemuka agama di desa itu. Kemudian di berikan minyak wangi jenazah. Keluarga yang di tinggalkan kini berkumpul di ruang tengah, di samping jenazah yang telah di salatkan.
"Baik, semua anggota keluarga sudah berkumpul ya? " Tanya sesepuh atau pemuka agama yang kalau di desa Nina di sebut Modin.
"Sudah Pak Modin. " Kata salah satu anggota keluarga yang mewakili anggota keluarga yang lain.
"Baiklah, Innalillahi Wa Innailaihi roji'un, telah meninggal dunia Bapak Suroyo tadi pagi pada pukul 07.30 alamat dusun kepatihan desa SumberMakmur. Semoga beliau termasuk golongan husnul khatimah, dan keluarga yang di tinggalkan di beri ketabahan. " Kata Pak Modin itu, kemudian di lanjutkan dengan doa dan di amini oleh seluruh pelayat yang datang.
__ADS_1
Tak lama kemudian, jenazah siap di berangkatkan. Para anak dan cucu laki-laki bersiap memangkul jenazah Mbah Kakung yang telah di tempatkan dikeranda. Dan ditutupi dengan kain hijau dan beberapa rangkaian bunga melati.
Nina pun turut serta mengantar Mbah kakungnya ke peristirahatan terakhir. Kevin mengikuti dari belakang, sesekali dia juga ikut memangkul jenazah Mbah Kakungnya Nina itu. Gema tahlih terus berkumandang di sepanjang jalan yang di lalui iring-iringan jenazah. Langit pun turut mendung, seakan ikut berduka dengan kepergian sesepuh desa tersebut.